Sabtu, 15 November 2014

Crazy Boy In My Life - Part 4



Tittle
Crazy Boy In My Life
Part
Part 4
Previous Part
Part 1, Part 2, Part 3
Cast
Aprilia Fabel Pangestu
Bisma Karisma
Azarra Berlian Putri
Dicky Prasetya
Reza Anugrah
Ilham Fauzi
Morgan Oey
Genre
Baca aja dulu =))
***
Ini diaaaa! Part 4 udah hadir di blog gaje ini. Maaf deh kalau ada yg gaje atau apalah namanya, kan masih amatiran’-‘
Oke, selamat membaca. Semoga suka ya ;)
***
“April?” Aku tersadar dari lamunanku dan ‘agak’ terkejut saat cowok itu tau namaku. Tapi... yaiyalah dia tahu,- dia kan baca Name Tag aku. Pantes aja dia ga bener-bener tahu namaku.
“Panggil aril aja. Dan, gue gatau nama lo sih. Emang nama lo siapa?” Tanyaku basa-basi, ya daripada ke pada. Aku gamau aja lihat dia bosen sama gue dan pergi, terus aku ga bisa kenalan dan nyoba deket sama dia.
Cowok itu menggeleng lalu mengulurkan tangannya. Aku rasa dia ngajak kenalan. Dengan cepat dan tak mau membuatnya menunggu aku menjabat tangannya.
“Gue Morgan, anak SM*SH dan model di Jakarta. Gue ga nyangka, lo ga kenal sama gue. Emangnya lo ga kepo kenapa ada bangku kosong di kelas?” Tanya Morgan setelah melepaskan jabatan tangannya. Aku menyeka hidungku sendiri, sebenarnya itu modus aja buat nyium bau tangan Morgan yang ASELI wangi banget!
“Gue sih bukan tipe-tipe cewek kepo. Yaa gue ga mikir sampe situ juga. Gue juga gatau kalau kursi kosong di Dicky itu punya elo.” Jawabku sekenanya. Ya memang begitu. Aku kan bukan cewek kepo yang pengen tahu sana-sini terus ngumbar-ngumbar. Please deh, itu bukan aku banget!
“Gue tahu, lo pasti tipe cewek yang cuek dan ga perduli keadaan sekitar kan?” Morgan segera membungkuk dan meraih sebuah kertas dan meremasnya didepanku. “Kertas ini sampah dan harusnya segera dibuang. Lain kali sering-sering perhatiin keadaan sekitar.” Lanjutnya seraya membuangnya ke tempat sampah yang berada di dalam kelas yang tepat di pojok ruangan. Tapi hebatnya. Kertas itu bisa masuk dengan selamat (?) ke dalam tempat sampah.
Gue terkekeh kemudian menutup novelku dan menaruhnya di dalam tas. “Hehe, maaf ya, Gan. Lain kali gue pasti perhatiin sekitar deh. Janji.”
Morgan mengangguk mantap lalu kembali melirik Bisma yang terpejam sambil mendegarkan musik di dalam earphonenya. “Lo tahu, sebenernya lo juga harus kepo dengan sekitar lo. Yaa, asal ga di umbar sana-sini sih.”
Aku menyerngit dengan ucapan Morgan itu. Kenapa cowok ini malah berniat menggosip seperti itu? Ya ampun,-
“Kepo sama sekitar? Maksud lo sama kursi kosong yang gue dudukin ini?”
“Nah! Lo emang pinter banget ya! Gini, sebenarnya ya kursi yang lo dudukin itu...”
Morgan menggantungkan kata-katanya seraya terpejam. Sementara aku? Aku sangat memperhatikan Morgan. Yaps! Memperhatikan wajahnya. Cowok ini lucu juga, dia ternyata cowok yang asik. Aku bener-bener beruntung masuk Jakarta academy, apalagi langsung ke kelas unggulan. Bener-bener Lucky!
Perlahan kelopak mata Morgan terbuka, matanya menatap mataku dengan seksama. Dan disaat itu juga, tabuhan drum seperti sedang memukul-mukul hatiku. Aaah, aku bisa melayang kalau dia terus memandangiku dengan matanya itu.
“Tapi..”
Aku masih menunggu kelanjutan kata-katanya. Sesungguhnya aku ingin mendengar suaranya saja, eh, tidak juga. Aku juga penasaran dengan yang ingin Morgan katakan tentang bangku yang aku duduki ini.
“Mm.., engga deh. Belum saatnya lo tau, dan gue rasa lo ga harus tau tentang ini.” Morgan segera bergabung bersama Reza dan Ilham, ia sempat tersenyum sekilas padaku setelah mengucapkan itu. Sepertinya benar-benar rahasia, sampai tidak sembarang orang boleh tau.
Setelah Morgan pergi, Zarra masuk ke dalam kelas dan segera menaruh tasnya di atas meja. Dan di detik selanjutnya, langkahnya kembali terayun menuju kursiku. Aku rasa ia akan mendatangiku, daaan, benar saja. Ia benar-benar mendekatiku.
“Ekhem..”
“Udah nih pacarannya?” Ledekku iseng. Tapi lihat Zarra? Cewek itu malah memukul bahuku pelan seraya memanyunkan bibirnya.
“Ga ada yang pacar-pacaran Aril! Gue tuh cuma mau kesini doang, ngobrol sama lo..”
Aku tertawa melihat ekspresinya yang terlihat kesal dan sedikit salanh tingkah. Aku kembali berdehem dan mencoba menggoda Zarra kembali. Memang menyenangkan ya mengerjai orang seperti ini.
“Terus tadi ngapain kalau ga lagi pacaran. Eh, atau... pedekatean?”
Sebenarnya aku tidak berniat Kepo sih. Tapi karena Zarra menjawab ledekan ku yang mungkin sebuah rasa penasaran baginya, aku hanya mendengarkannya dengan baik.
FlashBack On
-Author POV’s-
Aril menatap tatapan Dicky yang mengisyaratkan sesuatu itu. Dengan cepat gadis itu menoleh pada Zarra sambil melepaskan tangannya pelan-pelan, setelahnya Aril kembali melihat Dicky yang sudah menurunkan tangan yang sebelumnya direntangkan untuk menghalangi Aril dan Zarra masuk ke kelas.
“Pagi, Dick. Bye the way, lo ada urusan sama Zarra ya?” Tanya Aril dengan cepat setelah sempat menoleh ke arah kanan, tepat ke arah Bisma dan Morgan yang sedang berjalan ke kelas.
Dicky langsung mengangguk lalu tersenyum menunjukkan deretan giginya yang terawat dengan baik. Aril pun langsung berdehem lalu segera berjalan cepat masuk ke dalam kelas.
Zarra yang akhirnya ditinggal berdua dengan Dicky di depan kelas menunjukkan senyum dibibirnya dan memulai percakapan dengan Dicky. “Jadi, ada apa?”
“Gue minta maaf ya ga angkat telfon lo kemarin malem. Soalnya...pas gue mau angkat, tiba-tiba mati hape gue. Sorry yaa..”
Zarra tertawa melihat ekspresi bersalah Dicky kemudian mendongakan wajahnya agar bisa melihat cowok itu, karena tinggi badan Zarra yang hanya seleher Dicky membuatnya harus mendongak. Lagipula tidak sopan berbicara tanpa menatap wajah lawan bicara.
“Gapapa kali, Ky. Lagian gue cuma mau minta tolong doang kok. Ga penting-penting banget. Lagian juga, udah ada..mm..Morgan, ya. Morgan yang mau nolongin gue.” Jawab Zarra dengan nada yang tak biasa, seperti nada menjaga perasaan. Mungkin.
“Morgan?”
“Wey, ada apa nih nama gue disebut-sebut? Lo berdua ga lagi gosipin gue kan?” Tiba-tiba saja Morgan hadir dan berdiri di samping Zarra. Sementara Bisma dengan cueknya langsung memasuki ruang kelas.
“Kepo banget sih lo?! Udah sana masuk! Ganggu tau lo!” Ucap Dicky dengan nada kesalnya seraya menunjuk-nunjuk kelas. Morgan menaikkan satu alisnya kemduian meninju bahu Dicky pelan.
“Iya-iya nih gue masuk. Dasar ribet lo!” Morgan segera melangkah setelah tersenyum manis pada Zarra. Sementara Dicky segera menginjak lantai di bawahnya agar Morgan cepat meninggalkan mereka berdua.
Bagaimana dengan Zarra? Gadis manis itu tertawa geli melihat pertengkaran Dicky dan Morgan yang terkesan sepele itu. Dicky menatap Zarra aneh.
“Kenapa? Ga ada yang lucu disini, Ra.” Tegas Dicky dengan wajah merahnya, wajah menahan kekesalan.
“Iiih, Dicky jelek deh kalau kayak gitu. Lagian kan gue udah maafin elo, ya kan?”  Ujar Zarra sambil mencubit pipi Dicky gemas di tengah-tengah ucapannya. Dicky menepisnya kesal, masalahnya pipi Dicky menjadi merah sekarang. Dan juga sakit.
“Lagian lo mau minta tolong apa? Terus kenapa bisa sama Morgan kalau tujuan utamanya gue?” Tanya Dicky dengan nada cepat. Sebenarnya ia tidak ingin terlihat cemburu, tapi dari nadanya tentu saja terlihat bahwa Dicky tidak suka Zarra dekat dengan Morgan.
“Gue cuma minta tolong anterin gue ke Ice Cream Cafe kok. Karna lo ga angkat, dan Morgan tau-tau sms gue. Yaudah gue mintain tolong dan dia mau. Eh gataunya si Morgan malah ngajak gue jalan-jalan.” Jawab Zarra polos. Sangat polos, bahkan sampai tak meyadari air wajah Dicky yang berubah.
“Jalan-jalan kemana?” Tanya Dicky datar. Entahlah, sepertinya Dicky benar-benar cemburu dengan Morgan. Tapi ia juga tidak mungkin menyalahkan Zarra, karena ini semua salah ponsel sialannya itu yang mendadak lowbat.
“Ga kemana-mana. Cuma jalan bentar sambil ngobrol, Morgan nakal banget. Masa dia ngotorin hidung gue pake ice cream. Udah gitu dia ngajak gue la....Ky, lo mau kemana?” Zarra memandangi Dicky yang pergi entah kemana. Yang pasti tidak berjalan ke dalam kelas.
“Dicky?!” Panggil Zarra dengan nada yang sengaja ditinggikan. Tapi Dicky tak menyahuti sama sekali. Zarra memegang dadanya yang cukup perih saat Dicky meninggalkan dan tak menyahutinya sama sekali. Itu cukup sakit.
FlashBack Off
“... Agak nyesek sih waktu dia ngacangin gue, Ril.” Zarra menyudahi ceritanya dan kembali menyentuh dadanya. Mengekspresikan betapa perih ulu hatinya saat itu.
Aril mengangguk sambil tersenyum penuh arti. Ia tahu bahwa Zarra menyukai Dicky. Yaa, terlihat jelas dari ekspresi wajah Zarra saat bercerita tadi. Cukup mengisyaratkan sebuah kesukaan.
“Mungkin dia kebelet makanya buru-buru dan ga izin sama lo dulu. Bisa aja kan?” Ujar aril mencoba menenangkan Zarra. Namun tak ada jawaban dari Zarra yang menunduk seraya memainkan ujung roknya yang hanya selutut itu.
“Mungkin sih, Ril. Semoga tuh anak engga marah deh gara-gara gue.”
‘Dan ga cemburu sama gue dan Morgan’ Lanjut Zarra dalam hati. Ia yakin alasan Dicky yang sebenarnya adalah karena cemburu.
***
“Gue duluan ya, Ril. Bye.” Zarra melambaikan tangannya seraya berlari mendekati supir mobilnya yang sudah menunggu sejak beberapa menit lalu itu.
Aril membalas lambaian tangan Zarra seraya tersenyum. Perlahan dengan mobil Zarra yang melesat pergi meninggalkan sekolah, senyuman Aril ikut memudar. Sekarang Aril harus menunggu taksi di depan gerbang Jakarta Academy untuk pulang.
Aril mendongak ke latas langit yang mulai mendung, dan segera berjalan ke pinggir sekolahnya. Padahal ada halte yang bisa ia pakai untuk menunggu taksi halte tapi tentu saja ia harus repot-repot untuk menyebrangi jalanan.
Aril terduduk di kursi yang berada di dekat gerbang yang sangat sepi seraya menunggu taksi yang nantinya akan membawanya pulang. Namun hingga beberapa menit kemudian tak ada satupun taksi yang berhenti. Semuanya penuh.
Gadis itu melirik jam tangan eksklusif bermotifkan menara eiffel itu. Pukul 14.55. Aril berdecak kesal seraya bangkit dan menoleh ke kanan dan kiri berharap ada taksi yang tidak berpenumpang.
Namun masih saja tak ada taksi yang lewat, padahal langit semakin gelap. Aril masih berdiri di tempatnya menunggu taksi.
Namun, tiba-tiba saja hujan turun membahasi bumi. Aril tentu saja gelagapan mencari tempat berteduh karena memang tak ada tempat berteduh. Kini sebagian bajunya sudah basah karena hujan yang mulai deras itu.
“Duuuh! Basah kan gue!” Gumam Aril kesal seraya menutupi kepalanya dengan ransel. Ia tau perlu risau karena ranselnya dilengkapi dengan jas hujan khusus ransel. Namun tetap saja, tubuhnya semakin basah karena ia benar-benar tak bisa berteduh sama sekali.
Namun tiba-tiba saja hujan sudah tak membasahi tubuhnya, padahal diluar sana hujan masih mengguyur dengan deras. Aril mendongak ia melihat sebuah payung melindugi dirinya.
Dengan gerakan slow motion gadis itu menoleh pada seseorang yang telah menjadi penyelamatnya hari itu. Dan tampak raut wajah Aril berubah 3600
“Elo...”
-To Be Continued-
“Lo niat banget nyiksa diri lo sendiri.”
-
“Gue tinggal disini sekarang.”
-
“Ibu Mba di kampung sakit, non.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar