Part
Part 4
Part 4
Cast
Aprilia Fabel Pangestu
Bisma Karisma
Azarra Berlian Putri
Dicky Prasetya
Reza Anugrah
Ilham Fauzi
Morgan Oey
Aprilia Fabel Pangestu
Bisma Karisma
Azarra Berlian Putri
Dicky Prasetya
Reza Anugrah
Ilham Fauzi
Morgan Oey
Genre
Baca aja dulu =))
Baca aja dulu =))
***
Ini diaaaa!
Part 4 udah hadir di blog gaje ini. Maaf deh kalau ada yg gaje atau apalah
namanya, kan masih amatiran’-‘
Oke, selamat membaca. Semoga suka ya ;)
Oke, selamat membaca. Semoga suka ya ;)
***
“April?” Aku
tersadar dari lamunanku dan ‘agak’ terkejut saat cowok itu tau namaku. Tapi...
yaiyalah dia tahu,- dia kan baca Name Tag aku. Pantes aja dia ga bener-bener
tahu namaku.
“Panggil aril
aja. Dan, gue gatau nama lo sih. Emang nama lo siapa?” Tanyaku basa-basi, ya
daripada ke pada. Aku gamau aja lihat dia bosen sama gue dan pergi, terus aku
ga bisa kenalan dan nyoba deket sama dia.
Cowok itu
menggeleng lalu mengulurkan tangannya. Aku rasa dia ngajak kenalan. Dengan
cepat dan tak mau membuatnya menunggu aku menjabat tangannya.
“Gue Morgan,
anak SM*SH dan model di Jakarta. Gue ga nyangka, lo ga kenal sama gue. Emangnya
lo ga kepo kenapa ada bangku kosong di kelas?” Tanya Morgan setelah melepaskan
jabatan tangannya. Aku menyeka hidungku sendiri, sebenarnya itu modus aja buat
nyium bau tangan Morgan yang ASELI wangi banget!
“Gue sih
bukan tipe-tipe cewek kepo. Yaa gue ga mikir sampe situ juga. Gue juga gatau
kalau kursi kosong di Dicky itu punya elo.” Jawabku sekenanya. Ya memang
begitu. Aku kan bukan cewek kepo yang pengen tahu sana-sini terus
ngumbar-ngumbar. Please deh, itu bukan aku banget!
“Gue tahu, lo
pasti tipe cewek yang cuek dan ga perduli keadaan sekitar kan?” Morgan segera
membungkuk dan meraih sebuah kertas dan meremasnya didepanku. “Kertas ini
sampah dan harusnya segera dibuang. Lain kali sering-sering perhatiin keadaan
sekitar.” Lanjutnya seraya membuangnya ke tempat sampah yang berada di dalam
kelas yang tepat di pojok ruangan. Tapi hebatnya. Kertas itu bisa masuk dengan
selamat (?) ke dalam tempat sampah.
Gue terkekeh
kemudian menutup novelku dan menaruhnya di dalam tas. “Hehe, maaf ya, Gan. Lain
kali gue pasti perhatiin sekitar deh. Janji.”
Morgan
mengangguk mantap lalu kembali melirik Bisma yang terpejam sambil mendegarkan
musik di dalam earphonenya. “Lo tahu, sebenernya lo juga harus kepo dengan
sekitar lo. Yaa, asal ga di umbar sana-sini sih.”
Aku
menyerngit dengan ucapan Morgan itu. Kenapa cowok ini malah berniat menggosip
seperti itu? Ya ampun,-
“Kepo sama
sekitar? Maksud lo sama kursi kosong yang gue dudukin ini?”
“Nah! Lo
emang pinter banget ya! Gini, sebenarnya ya kursi yang lo dudukin itu...”
Morgan
menggantungkan kata-katanya seraya terpejam. Sementara aku? Aku sangat
memperhatikan Morgan. Yaps! Memperhatikan wajahnya. Cowok ini lucu juga, dia
ternyata cowok yang asik. Aku bener-bener beruntung masuk Jakarta academy,
apalagi langsung ke kelas unggulan. Bener-bener Lucky!
Perlahan
kelopak mata Morgan terbuka, matanya menatap mataku dengan seksama. Dan disaat
itu juga, tabuhan drum seperti sedang memukul-mukul hatiku. Aaah, aku bisa
melayang kalau dia terus memandangiku dengan matanya itu.
“Tapi..”
Aku masih
menunggu kelanjutan kata-katanya. Sesungguhnya aku ingin mendengar suaranya
saja, eh, tidak juga. Aku juga penasaran dengan yang ingin Morgan katakan
tentang bangku yang aku duduki ini.
“Mm.., engga
deh. Belum saatnya lo tau, dan gue rasa lo ga harus tau tentang ini.” Morgan
segera bergabung bersama Reza dan Ilham, ia sempat tersenyum sekilas padaku
setelah mengucapkan itu. Sepertinya benar-benar rahasia, sampai tidak sembarang
orang boleh tau.
Setelah
Morgan pergi, Zarra masuk ke dalam kelas dan segera menaruh tasnya di atas
meja. Dan di detik selanjutnya, langkahnya kembali terayun menuju kursiku. Aku
rasa ia akan mendatangiku, daaan, benar saja. Ia benar-benar mendekatiku.
“Ekhem..”
“Udah nih pacarannya?”
Ledekku iseng. Tapi lihat Zarra? Cewek itu malah memukul bahuku pelan seraya
memanyunkan bibirnya.
“Ga ada yang
pacar-pacaran Aril! Gue tuh cuma mau kesini doang, ngobrol sama lo..”
Aku tertawa
melihat ekspresinya yang terlihat kesal dan sedikit salanh tingkah. Aku kembali
berdehem dan mencoba menggoda Zarra kembali. Memang menyenangkan ya mengerjai
orang seperti ini.
“Terus tadi
ngapain kalau ga lagi pacaran. Eh, atau... pedekatean?”
Sebenarnya
aku tidak berniat Kepo sih. Tapi
karena Zarra menjawab ledekan ku yang mungkin sebuah rasa penasaran baginya,
aku hanya mendengarkannya dengan baik.
FlashBack On
-Author
POV’s-
Aril menatap
tatapan Dicky yang mengisyaratkan sesuatu itu. Dengan cepat gadis itu menoleh
pada Zarra sambil melepaskan tangannya pelan-pelan, setelahnya Aril kembali
melihat Dicky yang sudah menurunkan tangan yang sebelumnya direntangkan untuk
menghalangi Aril dan Zarra masuk ke kelas.
“Pagi, Dick.
Bye the way, lo ada urusan sama Zarra ya?” Tanya Aril dengan cepat setelah sempat
menoleh ke arah kanan, tepat ke arah Bisma dan Morgan yang sedang berjalan ke
kelas.
Dicky
langsung mengangguk lalu tersenyum menunjukkan deretan giginya yang terawat
dengan baik. Aril pun langsung berdehem lalu segera berjalan cepat masuk ke
dalam kelas.
Zarra yang
akhirnya ditinggal berdua dengan Dicky di depan kelas menunjukkan senyum
dibibirnya dan memulai percakapan dengan Dicky. “Jadi, ada apa?”
“Gue minta
maaf ya ga angkat telfon lo kemarin malem. Soalnya...pas gue mau angkat,
tiba-tiba mati hape gue. Sorry yaa..”
Zarra tertawa
melihat ekspresi bersalah Dicky kemudian mendongakan wajahnya agar bisa melihat
cowok itu, karena tinggi badan Zarra yang hanya seleher Dicky membuatnya harus
mendongak. Lagipula tidak sopan berbicara tanpa menatap wajah lawan bicara.
“Gapapa kali,
Ky. Lagian gue cuma mau minta tolong doang kok. Ga penting-penting banget.
Lagian juga, udah ada..mm..Morgan, ya. Morgan yang mau nolongin gue.” Jawab
Zarra dengan nada yang tak biasa, seperti nada menjaga perasaan. Mungkin.
“Morgan?”
“Wey, ada apa
nih nama gue disebut-sebut? Lo berdua ga lagi gosipin gue kan?” Tiba-tiba saja
Morgan hadir dan berdiri di samping Zarra. Sementara Bisma dengan cueknya
langsung memasuki ruang kelas.
“Kepo banget
sih lo?! Udah sana masuk! Ganggu tau lo!” Ucap Dicky dengan nada kesalnya
seraya menunjuk-nunjuk kelas. Morgan menaikkan satu alisnya kemduian meninju
bahu Dicky pelan.
“Iya-iya nih
gue masuk. Dasar ribet lo!” Morgan segera melangkah setelah tersenyum manis
pada Zarra. Sementara Dicky segera menginjak lantai di bawahnya agar Morgan
cepat meninggalkan mereka berdua.
Bagaimana
dengan Zarra? Gadis manis itu tertawa geli melihat pertengkaran Dicky dan
Morgan yang terkesan sepele itu. Dicky menatap Zarra aneh.
“Kenapa? Ga
ada yang lucu disini, Ra.” Tegas Dicky dengan wajah merahnya, wajah menahan
kekesalan.
“Iiih, Dicky
jelek deh kalau kayak gitu. Lagian kan gue udah maafin elo, ya kan?” Ujar Zarra sambil mencubit pipi Dicky gemas
di tengah-tengah ucapannya. Dicky menepisnya kesal, masalahnya pipi Dicky
menjadi merah sekarang. Dan juga sakit.
“Lagian lo
mau minta tolong apa? Terus kenapa bisa sama Morgan kalau tujuan utamanya gue?”
Tanya Dicky dengan nada cepat. Sebenarnya ia tidak ingin terlihat cemburu, tapi
dari nadanya tentu saja terlihat bahwa Dicky tidak suka Zarra dekat dengan
Morgan.
“Gue cuma
minta tolong anterin gue ke Ice Cream Cafe kok. Karna lo ga angkat, dan Morgan
tau-tau sms gue. Yaudah gue mintain tolong dan dia mau. Eh gataunya si Morgan
malah ngajak gue jalan-jalan.” Jawab Zarra polos. Sangat polos, bahkan sampai
tak meyadari air wajah Dicky yang berubah.
“Jalan-jalan
kemana?” Tanya Dicky datar. Entahlah, sepertinya Dicky benar-benar cemburu
dengan Morgan. Tapi ia juga tidak mungkin menyalahkan Zarra, karena ini semua
salah ponsel sialannya itu yang mendadak lowbat.
“Ga
kemana-mana. Cuma jalan bentar sambil ngobrol, Morgan nakal banget. Masa dia
ngotorin hidung gue pake ice cream. Udah gitu dia ngajak gue la....Ky, lo mau
kemana?” Zarra memandangi Dicky yang pergi entah kemana. Yang pasti tidak
berjalan ke dalam kelas.
“Dicky?!”
Panggil Zarra dengan nada yang sengaja ditinggikan. Tapi Dicky tak menyahuti
sama sekali. Zarra memegang dadanya yang cukup perih saat Dicky meninggalkan
dan tak menyahutinya sama sekali. Itu cukup sakit.
FlashBack Off
“... Agak
nyesek sih waktu dia ngacangin gue, Ril.” Zarra menyudahi ceritanya dan kembali
menyentuh dadanya. Mengekspresikan betapa perih ulu hatinya saat itu.
Aril
mengangguk sambil tersenyum penuh arti. Ia tahu bahwa Zarra menyukai Dicky.
Yaa, terlihat jelas dari ekspresi wajah Zarra saat bercerita tadi. Cukup
mengisyaratkan sebuah kesukaan.
“Mungkin dia
kebelet makanya buru-buru dan ga izin sama lo dulu. Bisa aja kan?” Ujar aril
mencoba menenangkan Zarra. Namun tak ada jawaban dari Zarra yang menunduk
seraya memainkan ujung roknya yang hanya selutut itu.
“Mungkin sih,
Ril. Semoga tuh anak engga marah deh gara-gara gue.”
‘Dan ga
cemburu sama gue dan Morgan’ Lanjut Zarra dalam hati. Ia yakin alasan Dicky
yang sebenarnya adalah karena cemburu.
***
“Gue duluan
ya, Ril. Bye.” Zarra melambaikan tangannya seraya berlari mendekati supir
mobilnya yang sudah menunggu sejak beberapa menit lalu itu.
Aril membalas
lambaian tangan Zarra seraya tersenyum. Perlahan dengan mobil Zarra yang melesat
pergi meninggalkan sekolah, senyuman Aril ikut memudar. Sekarang Aril harus
menunggu taksi di depan gerbang Jakarta Academy untuk pulang.
Aril mendongak
ke latas langit yang mulai mendung, dan segera berjalan ke pinggir sekolahnya. Padahal
ada halte yang bisa ia pakai untuk menunggu taksi halte tapi tentu saja ia
harus repot-repot untuk menyebrangi jalanan.
Aril terduduk
di kursi yang berada di dekat gerbang yang sangat sepi seraya menunggu taksi
yang nantinya akan membawanya pulang. Namun hingga beberapa menit kemudian tak
ada satupun taksi yang berhenti. Semuanya penuh.
Gadis itu
melirik jam tangan eksklusif bermotifkan menara eiffel itu. Pukul 14.55. Aril
berdecak kesal seraya bangkit dan menoleh ke kanan dan kiri berharap ada taksi
yang tidak berpenumpang.
Namun masih
saja tak ada taksi yang lewat, padahal langit semakin gelap. Aril masih berdiri
di tempatnya menunggu taksi.
Namun,
tiba-tiba saja hujan turun membahasi bumi. Aril tentu saja gelagapan mencari
tempat berteduh karena memang tak ada tempat berteduh. Kini sebagian bajunya
sudah basah karena hujan yang mulai deras itu.
“Duuuh! Basah
kan gue!” Gumam Aril kesal seraya menutupi kepalanya dengan ransel. Ia tau
perlu risau karena ranselnya dilengkapi dengan jas hujan khusus ransel. Namun tetap
saja, tubuhnya semakin basah karena ia benar-benar tak bisa berteduh sama
sekali.
Namun
tiba-tiba saja hujan sudah tak membasahi tubuhnya, padahal diluar sana hujan
masih mengguyur dengan deras. Aril mendongak ia melihat sebuah payung melindugi
dirinya.
Dengan
gerakan slow motion gadis itu menoleh
pada seseorang yang telah menjadi penyelamatnya hari itu. Dan tampak raut wajah
Aril berubah 3600
“Elo...”
-To Be Continued-
“Lo niat banget nyiksa diri lo sendiri.”
-
“Gue tinggal disini sekarang.”
-
“Ibu Mba di kampung sakit, non.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar