Tittle
Crazy Boy In My Life
Crazy Boy In My Life
Part
Part 1, Part 2
Part 1, Part 2
Cast
Aprilia Fabel Pangestu
Bisma Karisma
Azarra Berlian Putri
Dicky Prasetya
Rafael Tan
Archi Meliyana Rizky
Reza Anugrah
Ilham Fauzi
Rangga Moela
And other cast..
Aprilia Fabel Pangestu
Bisma Karisma
Azarra Berlian Putri
Dicky Prasetya
Rafael Tan
Archi Meliyana Rizky
Reza Anugrah
Ilham Fauzi
Rangga Moela
And other cast..
Genre
Baca aja dulu =))
Baca aja dulu =))
***
Akhirnyaa,
bisa juga nge-next cerita amatiran ini~~
Baiklah, selamat membaca. Semoga suka :)
Baiklah, selamat membaca. Semoga suka :)
***
“Aril. Saya
kira kamu tidak cocok duduk dekat Dicky. Dan saya minta kamu duduk di belakang
sana.” Ucap Mrs. Airin dingin. Aril mengangkat wajahnya mencari tahu dimana
kursi kosong itu berada.
Aril tak
mungkin bertanya, keculi ia mau mendapat semprotan (?) dari guru itu. Guru
cantik yang siap membunuh muridnya kapan saja. Dengan otak jeniusnya ia
berfikir dimana kursi kosong yang paling belakang *apa ini-_-
Ternyata di
belakangnya, di pojok paling belakang. Aril membolakan matanya melihat kursi
itu benar-benar paling pojok. Dengan langkah terseok-seok dan perasaan tak
terima Aril berjalan ke kursi itu. Ia lihat cowok yang duduk disebelahnya itu
menunduk, ia terlihat seperti tengah menulis sesuatu. Namun kegiatannya membuat
Aril tidak bisa melihat wajahnya. Namun dari gaya rambutnya itu ia yakin, cowok
itu adalah cowok tampan.
Ia semakin
dekat dengan kursi tersebut dan itu membuat cowok itu mendongakan wajahnya.
DEG!
‘Makanya kalau jalan pake mata! Bodoh!’
Aril menatap
geram cowok yang menabraknya di koridor tadi. Sementara cowok itu? Wajahnya
benar-benar tanpa ekspresi. Wajahnya datar, apalagi menampakkan senyumnya. Tidak
terlihat sama sekali.
“Aril.
Bukankah saya minta kamu duduk?”
Aril segera
berpaling dan segera duduk di kursi sebelah cowok itu. Cowok yang sudah
menabraknya, tidak menolongnya, bahkan mengumpatnya dengan kata-kata yang
sangat mengjengkelkan!
‘Makanya kalau jalan pake mata! Bodoh!’
Kata-kata itu masih saja berputar di dalam ingatan Aril. Gadis itu melirik
cowok itu dengan sinis. Sementara yang dilirik? Sama sekali tak perduli. Ia
terlihat tengah mencorat-coret bukunya.
-Aril POV’s-
Cowok robot!
Ya! Eh, tidak-tidak! Cowok robot gila! Itu baru benar! Sebutan itu cocok untuk
pria bernama Bisma itu. Dari mana aku tahu? Pria itu tidak seperti Dicky yang
sangat rapih. Ya walaupun, aku juga tidak rapih. Tapi pokoknya cowok itu lebih
tidak rapih!
Bisma. Cowok
itu tidak mengancing jasnya sama sekali. Sehingga dengan jelas terpampang nama
‘Bisma Karisma’ disana. Cih! Namanya saja keren. Walaupun orangnya juga keren.
Tapi kesan pertama menentukkan segalanya bukan? Dan dari kesan pertama itu, aku
yakin bahwa aku sudah sangat membenci dia!
***
Bel istirahat
berbunyi beberapa menit lalu. Namun aku tak pergi kemana-mana. Karena beberapa
siswa dan siswi..ng, mungkin lebih tepatnya Dicky, 4 orang cowok dan 1 orang
cewek menghampiri mejaku. Lagipula aku memang belum tahu sekolah ini
betul-betul.
“Hai, Aril.
Kenalin. Gue Zarra. Salam kenal.” Seorang cewek yang mengaku bernama Zarra ini
memberikan telapak tangannya padaku seraya tersenyum. Dengan cepat aku menjabat
tangannya dan membalas senyumannya. Zarra tak kalah manisnya denganku, yaa
walaupun tentu saja aku masih lebih manis.
“Eh, Ril.
Kenalin nih temen-temen se-genk gue.” Ujar Dicky sambil menunjuk 5 orang cowok
yang sangat cool.
Dimulai dari
pria dengan wajah chinesse, dan tinggi kira-kira 180-185. Selanjutnya pria
dengan pipi tembem seperti bakpao, sungguh sangat menggemaskan. Next. Pria
dengan badan tegap dan paling gagah ku lihat. Mungkin karena dia berdiri di
samping Dicky yang memang kurus kering-,-. Lalu, pria cool, aku lihat dari name
tagnya, namanya itu Reza. Dan terakhir......
BISMA?! Cowok
robot gila itu teman se-genk Dicky? Hh, memang ya. Di setiap bunga pasti saja
ada ulat yang memakan daunnya. Ya si Bisma itu, ulatnya.
Aku menatap
Bisma sekilas kemudian tersenyum pada mereka satu-satu. Cowok tampan yang
berdiri didepanku. Dengan hati-hati aku bertanya. “Kaliaan, berenam?” Kenapa
aku bertanya seperti itu? Yaa, aku tidak yakin saja Bisma benar-benar anggota
genk ini.
“Oh tidak.
Kami ini SMASH, a pake bintang *jadi SM*SH. Kami bertujuh dan satunya lagi
tidak masuk.” Ujar cowok berwajah chinesse itu.
“Pantes aja
ga kelihatan dari tadi.” Gumam Bisma. Samar-samar tapi aku masih bisa
mendengarnya. Aku menoleh sekilas, wajahnya masih saja datar. Arggtt! Benarkan
kataku? Dia itu robot!
“Kenapa dia
ga masuk, Raf?” Tanya pria cool bernama Reza. Cowok chinesse itu mengangkat
bahunya dan menggelengkan kepala tanda ia tidak tahu.
“Dia itu lagi
ngikutin lomba modeling. Lo-lo pada gimana sih!” Dicky membuka suaranya dengan
ekspresi yang bisa aku lihat sangat lucu. Sepertinya Dicky sedang kesal, tapi
tak terlihat begitu. Karena dia sangat manis.
Dan....
selanjutnya mereka terlibat pembicaraan dengan tema yang kurang jelas. Aku
menatap mereka kesal, mengapa aku jadi di kacangin gini?! Huh! Kacang murah ya
sekarang!
Zarra yang
masih berdiri di dekat SM*SH menyadari aku yang mulai bosan karena di acuhkan.
Kemudian, Zarra menyenggol lenganku, sembari berbisik. “Ayo kita ke kantin. Apa
lo ga laper?”
Aku tersenyum
lalu mengangguk dengan malu-malu. Tentu saja aku lapar, tadi pagi kan aku hanya
meminum susu saja. Yaa, terlihat seperti anak kecil ya? Orang tuaku itu sudah
sangat paham dengan keadaanku yang super duper ngaret ini. Jadi mereka hanya
mempersiapkan susu sebagai penganjal perutku. Ituloah penjelasannya.
Aku berdiri
lalu mengikuti Zarra yang berjalan ke arah kantin sembari memperhatikan Jakarta
Academy dengan seksama. Dekorasinya, suasananya, penghuninya (?), semuanya..
Awesome!
Yaah, aku
rasa aku akan sangat betah bersekolah disini. Dan semoga saja tak akan ada yang
mengganggu hari-hari bahagiaku bersekolah di sekolah impian ini, setidaknya
hanya satu. Dan hanya dia. Bisma Karisma.
***
Jakarta
Academy, 15.00 WIB.
-Author
POV’s-
“Sekian dari
saya. Permisi.” Guru berkumis bernama Mr. Hendrik itu akhirnya keluar setelah
menjelaskan materi yang tentu saja Aril sekali. Matematika. Terlihat seperti
kesombongan tapi itu memang benar. Aril sangat menguasai matematika. Pelajaran
membunuh menurut beberapa siswa-siswi lainnya.
Seluruh siswa
segera berhamburan keluar kelas dengan sangat tergesa. Ternyata meskipun kelas
unggulan, siswa-siswinya tetap saja begini. Yaa, kalian mengerti kan apa maksud
author *-_-
Dan sekarang
yang tersisa hanyalah Aril dan Bisma yang masih membenahi barang mereka
masing-masing. Tidak seperti cowok kebanyakan yang grasak-grusuk, ternyata
Bisma cukup tenang. Tapi itu tidak merubah image Bisma dimata Aril. Di mata
Aril, Bisma tetaplah cowok robot gila.
Terdengar
suara langkah kaki yang memasuki kelas unggulan, terlihat Mr. Hendrik kembali
masuk ke dalam kelas, seraya melirik Aril yang mulai bangkit dari kursinya dan
berjalan ke arah pintu.
“Nah. Kau,
cepat bawakan barangt-barang ini ke ruangan saya.” Pinta Mr. Hendrik yang lebih
mirip perintah itu. Aril diam seraya menunjuk dirinya sendiri. Yang Mr. Maksud, saya?
Mr. Hendrik
memutar bola matanya bosan lalu mengangguk. Aril melirik Bisma yang baru saja
menyampirkan ransel di pundaknya. Dengan segera Aril mengangguk lalu berusaha
mengkat kotak berisikan Infocus lalu menaruh beberapa buku di atasnya.
Sementara Mr. Hendrik telah hengkang dari kelas dengan hanya membawa sebuah tas
berisi laptop. Huh! Sungguh sangat tidak adil!
Aril masih
berusaha membawa benda yang cukup berat itu, namun belum dua detik saja Aril
sudah menjatuhkan kotak dan buku ke atas meja. Gadis itu melirik Bisma yang
dengan santainya berjalan keluar kelas. Seperti manusia tanpa hati. Benar-benar
robot!
"Heh!
Bantuin gue kek! Dasar cowok gila!" Teriak Aril keras. Ia benar-benar
kesal sekaligus bingung dengan cowok itu! Benar-benar
tak punya hati! Benar-benar tak punya perasaan! Rutuk Aril kesal. Ya
memang, seharusnya sebagai cowok Bisma membantu cewek yang sedang kesusahan.
Pikir Aril sekali lagi.
Ternyata
ucapan Aril tak membuat Bisma berpikir dua kali untuk membantunya. Masih dengan
santainya Bisma berbelok keluar pintu lalu menghilang begitu saja dari pandangan
Aril. Gadis itu menyatukan alisnya lalu mengeluarkan umpatannya keras-keras.
“Dasar cowok
gila! Robot gila! Tidak berperikemanusiaan!”
Aril mengelus
dadanya sendiri mencoba sabar dengan sikap dingin Bisma. Intinya, di mata Aril
Bisma benar-benar sangat menyebalkan. Dan Aril benar-benar membenci Bisma. Baru
berteman sehari saja sudah begini, apalagi... Eh, apa tadi? Tidak-tidak. Aril
tidak akan menganggap Bisma sebagai temannya. Tentu saja tidak akan.
Dengan
seluruh tenaga yang ia punya, Aril masih mencoba mengangkat benda berat itu. Ia
tidak ingin lama-lama di dalam kelas dan tidak ingin merusak image jeniusnya di
depan guru matematika yang akan menjadi guru favoritenya itu.
Dan... Yaaah!
Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya Aril bisa mengangkat Infocus dan
buku-buku super tebal itu. Dengan langkah seolah atlet yang mengangkat barbel
100 kg, Aril melangkah menuju ruangan Mr. Hendrik yang dekat dengan kelasnya.
Lagipula tadi Zarra sudah memberi tahu letak-letak ruangan guru yang mengajar
di kelas unggulan.
BRUUK!
Beban yang
dibawa benar-benar tidak seimbang dengan kekuatan Aril yang bila diukur saja
sudah tahu betapa malasnya gadis itu berolahraga sampai tidak mendapatkan
kekuatan.
Dengan mata
yang mulai berkaca-kaca akibat menahan kesal dengan Bisma dan barang-barang
yang sama-sama menyebalkan itu. Dengan gemetar tangan Aril berusaha menggapai
beberapa buku dan...
Seeet!
Sebuah tangan
mengambil alih kotak Infocus yang berat itu dari tangan Aril. Aril sedikit
tersentak lalu mengangkat wajahnya yang kusut agar bisa melihat siapa
malaikatnya yang hadir hari ini. Apakah Dicky lagi atau...
“Bisma?!”
Aril tersenyum miring melihat Bisma dengan wajah datarnya yang mulai bangkit
dan membiarkan Aril hanya membawa buku-buku tebal. Ya meskipun tetap berat.
Setidaknya, bebannya berkurang.
“Gue masih
punya perasaan.” Ucap Bisma seolah menjawab tuduhan yang Aril teriakkan
beberapa menit lalu. Aril berusaha menahan malunya, dengan berjalan duluan mendahului
Bisma yang menggelengkan kepalanya, hampir tak terlihat sama sekali.
***
Aril’s Home,
15.45 WIB.
Aril segera
masuk ke dalam rumahnya yang tingkat dua dan sangaat besar itu setelah pembantu
pribadinya Mba Yayu membukakan pintu. Dengan langkah terseok-seok Aril berjalan
menuju tangga. Ya, Aril memang cukup berada. Bahkan jika dibilang, sangaat
berada. Ia mempunyai rumah mewah di mana-mana. Dan salah satunya adalah di
sini, di Jakarta. Dan saat Aril memutuskan untuk bersekolah di Jakarta,
orangtuanya benar-benar siap materi dan batin.
Tap.. Tap..
Baru dua anak
tangga yang Aril naiki namun ia mendengar suara dari kamar orang tuanya yang
berada di sebelah tangga. Dengan langkah detektif seperti di film-film yang
pernah ia tonton, Aril perlahan mendekati kamar orangtuanya yang tampak riuh.
Dan dengan gerakan slow motion, Aril
membuka pintu kamar dan langsung melihat aksi orang tuanya yang sedang berebut
koper. Sungguh memalukan,-
Eh, tapi
tunggu dulu! Koper? Memangnya mau kemana Vero dan Gilang?
“Ma, Pa?”
Panggil Aril pelan karena Mama dan Papanya masih belum menyadari Aril yang
berdiri di ambang pintu dan melihat aksi memalukan orangtuanya.
Serentak Mama
dan Papa Aril menoleh dan menjatuhkan koper yang mereka perebutkan. Dengan
sikap penjahat yang ketahuan mencuri, Vero dan Gilang terkekeh lalu mendekat ke anak semata
wayangnya itu.
“Kenapa,
sayang?” Tanya Vero pelan seraya mengelus rambut Aril lembut. Aril menggeleng
kemudian menoleh kembali ke koper dan beberapa pakaian yang berantakan di atas
ranjang. Vero dan Gilang mengikuti arah pandang sang anak lalu berpandangan dan
mengangguk.
“Engg, Ma.
Kalian mau pergi kemana? Kenapa, baju berantakan banget?” Tanya Aril polos,
entah mengapa lelah dan kesalnya lenyap begitu saja melihat tingkah menggelikan
sang orang tua.
“Gini loh
sayang, Mama sama Papa itu mau berlibur. Yaa, Mama sama Papa itu kan butuh
refreshing. Hehe..”
“HAH?”
***
“Loh, kok
mendadak banget sih Ma, Pa? Terus kenapa aku ga diajak?” Tanya seorang pria
kesal saat mendengar penuturan sang orang tua yang mengatakan bahwa mereka akan
pergi ke luar negeri.
Mamanya tersenyum
lalu menoleh pada sang suami yang tampak tanpa ekspresi, sama seperti anaknya,-
“Sebenarnya rencana ini udah lama, cuman baru kami kasih tahu ke kamu sekarang.
Lagian kalau Mama sama Papa ngajak kamu, sekolah kamu gimana dong?”
Pria berumur
17 tahun itu mendengus lalu bersedekap sambil bersender ke sofa. Ia
melirik orangtuanya sekilas. “Terus aku
disini sama siapa? Bibi ga ada. Yang masakin aku siapa? Masa makan Mie Instan
berminggu-minggu!” Marahnya.
Sang Papa segera
menggeleng lalu mendekatkan diri pada anaknya [re:pindah tempat duduk].
“Lagipula kamu tidak akan tinggal dirumah ini. Kamu akan tinggal bersama
seseorang. Dan kebutuhan kamu akan tersedia di sana.”
Pria itu
menyerngit lalu mencondongkan badannya. “Tinggal dengan seseorang? Dimana?”
“Yaa, nanti
akan Mama kasih alamatnya. Intinya, kamu harus baik-baik dengan dia. Dan yang
pasti, kamu harus..”
***
“..
Diantarkan oleh seseorang. Yaa pokoknya kamu tenang saja, ada Mba yang akan
membantumu. Ya kan Mba?”
Aril menoleh
pada Mba Yayu yang kebetulan lewat dan menampakkan wajah polosnya saat Vero
memanggilnya. Vero dan Gilang terkekeh sementara Aril menggeleng karena ulah
orangtuanya itu.
“Tapi, mama
gabisa seenaknya gini dong!”
"Aril,
sayang. Tapi Mama sama Papa cuman pengen yang terbaik buat kamu."
"Tapi,
harus banget dengan kayak gini, Mah?” Tanya Aril ketika mendengar jawaban
papanya itu. “Lagian apa terbaik buat aku sih?" Lanjut Aril bingung.
“Ngg...” Vero
menggumam kemudian menoleh lagi pada Gilang. “Yaa, pokoknya kamu tenang aja ya.
Lagian dia juga akan tinggal di rumah ini kok.” Jawab Vero dengan ekspresi
kikuknya.
Aril kembali
menggeleng lalu melenggang pergi ke kamarnya tanpa izin dahulu ke Vero dan
Gilang. Gadis itu kesal setengah mati pada orang tuanya yang sangat seenak
jidat (?) pada dirinya. Huaaah, pokoknya, Aril benar-benar kesal pada orang
tuanya.
***
A House,
19.00 WIB.
“Za! Za!
Archi nge-mention gue lagi!” Teriak Ilham dari kamarnya. Reza membulatkan
matanya mendengar teriakan sang sepupu. Dengan sigap ia berlari dari kamarnya
menuju kamar Ilham yang bersebelahan itu.
Gubraak!!
Dengan
acuhnya Reza membuka pintu kencang sekali hingga pintu tersebut menabrak tembok
dalam kamar Ilham. Sementara Ilham yang melihatnya menganga lebar lalu menatap
tajam Reza yang langsung merebut laptop yang berada di pangkuan Ilham.
“Nge-mention
apaan Archi?!” Tanya Reza panik lalu membuka notifikasi Twitter Ilham.
Sementara Ilham memutar bola matanya lalu memiringkan bibirnya. Entah mengapa
tingkah sepupunya itu benar-benar heboh setelah dirinya memberitahu bahwa Archi
nge-mentionnya. Namun, Ilham mengerti bahwa Reza sedang menyukai gadis bernama
Archi itu.
“Kalem-kalem
kek lo, Za! Archi doang noh! Bukan Agnes Mo, bukan Selena Gomez, bukan Taylor
Swift! Stress!” Umpat Ilham.
Reza melirik
sepupunya sekilas lalu membaca mention dari @Archi_ yang tergambarkan lebih
jelasnya seperti ini *ada gitu naskah kek gini,-
Reza melirik
sinis Ilham yang sedang merapikan rambutnya, dan saat Ilham tersadar sedang di
ta-ta-pi oleh sepupunya itu, Ilham mengangkat satu alisnya ke atas.
“Jadi lo mau
ketemuan sama cewek gue?!” Tanya Reza dengan nada yang cukup tinggi. Ilham
mengerutkan keningnya lalu terkekeh setelah membaca balasannya beberapa menit
lalu itu. Lagipula Ilham terkekeh bukan karena itu sebenarnya, tapi karena
perkataan Reza barusan.
“Cewek lo?
Jadian aja belom udah cewek lo aja, Za. Lucu lo!”
Reza bangkit
dari rangjang Ilham lalu berjalan keluar kamar sepupunya itu lalu memasuki
kamarnya. Baru beberapa hening, keriuhan kembali tercipta saat Reza menjeritkan
sebuah kalimat.
“Pokoknya lo
ga boleh ketemu, Archi! Dia calon cewek gue!”
Ilham
mendelik lalu menutup laptopnya dan menaruh di sampingnya, di atas ranjang.
Kemudian membalas teriakkan Reza dengan nada yang sama. "Kenapa lo jadi
ngatur gue? Gue bukan babu!"
***
Drrt.. Drrt..
Drrt..
Dicky
berusaha menggapai ponselnya yang berada di atas meja dengan malas. Ia megusap
layar ponselnya lalu tampak sebuah panggilan masuk. Ia menoleh sekali lagi pada
film kesukaannya, Lilo and Stitch yang baru saja di mulai.
Tertera nama ‘Someone’ disana. Dengan riang Dicky
berteriak kencang seraya melompat di atas sofa ruang tamu. “Wohooo! Gebetan
nelpon gue! Gebetan.. gebeten.. gebetan..” Ya, kira-kira seperti itulah
hebohnya seorang Dicky-_-
Baru saja
Dicky ingin mengangkat telpon ‘Someone’ nya
itu, sang Mama menyembul dari dapur seraya memegang sebuah nampan. “Dicky!
Jangan berteriak seperti itu doong! Sekali lagi kamu berteriak dan heboh
seperti itu, nampan ini melayang di wajahmu!” Ancam sang Mama.
Dicky
terkekeh lalu menangguk dengan sangat pelan setelah Mama Sri kembali berkutat
dengan masakan makan malam di dapur. Sambil menghembuskan nafas berkali-kali,
Dicky terus menggenggam ponselnya yang masih saja bergetar.
“Bismillah..”
Dengan
gerakan slow motion, Dicky
menempelkan ponselnya itu ke dekat daun telinga, dan...
“Halo..”
-To Be Continued-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar