Rabu, 05 November 2014

Crazy Boy In My Life - Part 2


Tittle
Crazy Boy In My Life
Part
 Part 1
, Part 2
Cast
Aprilia Fabel Pangestu
Bisma Karisma
Azarra Berlian Putri
Dicky Prasetya
Rafael Tan
Archi Meliyana Rizky
Reza Anugrah
Ilham Fauzi
Rangga Moela
And other cast..
Genre
Baca aja dulu =))
***





Akhirnyaa, bisa juga nge-next cerita amatiran ini~~
Baiklah, selamat membaca. Semoga suka :)
***
“Aril. Saya kira kamu tidak cocok duduk dekat Dicky. Dan saya minta kamu duduk di belakang sana.” Ucap Mrs. Airin dingin. Aril mengangkat wajahnya mencari tahu dimana kursi kosong itu berada.
Aril tak mungkin bertanya, keculi ia mau mendapat semprotan (?) dari guru itu. Guru cantik yang siap membunuh muridnya kapan saja. Dengan otak jeniusnya ia berfikir dimana kursi kosong yang paling belakang *apa ini-_-
Ternyata di belakangnya, di pojok paling belakang. Aril membolakan matanya melihat kursi itu benar-benar paling pojok. Dengan langkah terseok-seok dan perasaan tak terima Aril berjalan ke kursi itu. Ia lihat cowok yang duduk disebelahnya itu menunduk, ia terlihat seperti tengah menulis sesuatu. Namun kegiatannya membuat Aril tidak bisa melihat wajahnya. Namun dari gaya rambutnya itu ia yakin, cowok itu adalah cowok tampan.
Ia semakin dekat dengan kursi tersebut dan itu membuat cowok itu mendongakan wajahnya.
DEG!
Makanya kalau jalan pake mata! Bodoh!
Aril menatap geram cowok yang menabraknya di koridor tadi. Sementara cowok itu? Wajahnya benar-benar tanpa ekspresi. Wajahnya datar, apalagi menampakkan senyumnya. Tidak terlihat sama sekali.
“Aril. Bukankah saya minta kamu duduk?”
Aril segera berpaling dan segera duduk di kursi sebelah cowok itu. Cowok yang sudah menabraknya, tidak menolongnya, bahkan mengumpatnya dengan kata-kata yang sangat mengjengkelkan!
Makanya kalau jalan pake mata! Bodoh!’ Kata-kata itu masih saja berputar di dalam ingatan Aril. Gadis itu melirik cowok itu dengan sinis. Sementara yang dilirik? Sama sekali tak perduli. Ia terlihat tengah mencorat-coret bukunya.
-Aril POV’s-
Cowok robot! Ya! Eh, tidak-tidak! Cowok robot gila! Itu baru benar! Sebutan itu cocok untuk pria bernama Bisma itu. Dari mana aku tahu? Pria itu tidak seperti Dicky yang sangat rapih. Ya walaupun, aku juga tidak rapih. Tapi pokoknya cowok itu lebih tidak rapih!
Bisma. Cowok itu tidak mengancing jasnya sama sekali. Sehingga dengan jelas terpampang nama ‘Bisma Karisma’ disana. Cih! Namanya saja keren. Walaupun orangnya juga keren. Tapi kesan pertama menentukkan segalanya bukan? Dan dari kesan pertama itu, aku yakin bahwa aku sudah sangat membenci dia!
***
Bel istirahat berbunyi beberapa menit lalu. Namun aku tak pergi kemana-mana. Karena beberapa siswa dan siswi..ng, mungkin lebih tepatnya Dicky, 4 orang cowok dan 1 orang cewek menghampiri mejaku. Lagipula aku memang belum tahu sekolah ini betul-betul.
“Hai, Aril. Kenalin. Gue Zarra. Salam kenal.” Seorang cewek yang mengaku bernama Zarra ini memberikan telapak tangannya padaku seraya tersenyum. Dengan cepat aku menjabat tangannya dan membalas senyumannya. Zarra tak kalah manisnya denganku, yaa walaupun tentu saja aku masih lebih manis.
“Eh, Ril. Kenalin nih temen-temen se-genk gue.” Ujar Dicky sambil menunjuk 5 orang cowok yang sangat cool.
Dimulai dari pria dengan wajah chinesse, dan tinggi kira-kira 180-185. Selanjutnya pria dengan pipi tembem seperti bakpao, sungguh sangat menggemaskan. Next. Pria dengan badan tegap dan paling gagah ku lihat. Mungkin karena dia berdiri di samping Dicky yang memang kurus kering-,-. Lalu, pria cool, aku lihat dari name tagnya, namanya itu Reza. Dan terakhir......
BISMA?! Cowok robot gila itu teman se-genk Dicky? Hh, memang ya. Di setiap bunga pasti saja ada ulat yang memakan daunnya. Ya si Bisma itu, ulatnya.
Aku menatap Bisma sekilas kemudian tersenyum pada mereka satu-satu. Cowok tampan yang berdiri didepanku. Dengan hati-hati aku bertanya. “Kaliaan, berenam?” Kenapa aku bertanya seperti itu? Yaa, aku tidak yakin saja Bisma benar-benar anggota genk ini.
“Oh tidak. Kami ini SMASH, a pake bintang *jadi SM*SH. Kami bertujuh dan satunya lagi tidak masuk.” Ujar cowok berwajah chinesse itu.
“Pantes aja ga kelihatan dari tadi.” Gumam Bisma. Samar-samar tapi aku masih bisa mendengarnya. Aku menoleh sekilas, wajahnya masih saja datar. Arggtt! Benarkan kataku? Dia itu robot!
“Kenapa dia ga masuk, Raf?” Tanya pria cool bernama Reza. Cowok chinesse itu mengangkat bahunya dan menggelengkan kepala tanda ia tidak tahu.
“Dia itu lagi ngikutin lomba modeling. Lo-lo pada gimana sih!” Dicky membuka suaranya dengan ekspresi yang bisa aku lihat sangat lucu. Sepertinya Dicky sedang kesal, tapi tak terlihat begitu. Karena dia sangat manis.
Dan.... selanjutnya mereka terlibat pembicaraan dengan tema yang kurang jelas. Aku menatap mereka kesal, mengapa aku jadi di kacangin gini?! Huh! Kacang murah ya sekarang!
Zarra yang masih berdiri di dekat SM*SH menyadari aku yang mulai bosan karena di acuhkan. Kemudian, Zarra menyenggol lenganku, sembari berbisik. “Ayo kita ke kantin. Apa lo ga laper?”
Aku tersenyum lalu mengangguk dengan malu-malu. Tentu saja aku lapar, tadi pagi kan aku hanya meminum susu saja. Yaa, terlihat seperti anak kecil ya? Orang tuaku itu sudah sangat paham dengan keadaanku yang super duper ngaret ini. Jadi mereka hanya mempersiapkan susu sebagai penganjal perutku. Ituloah penjelasannya.
Aku berdiri lalu mengikuti Zarra yang berjalan ke arah kantin sembari memperhatikan Jakarta Academy dengan seksama. Dekorasinya, suasananya, penghuninya (?), semuanya.. Awesome!
Yaah, aku rasa aku akan sangat betah bersekolah disini. Dan semoga saja tak akan ada yang mengganggu hari-hari bahagiaku bersekolah di sekolah impian ini, setidaknya hanya satu. Dan hanya dia. Bisma Karisma.
***
Jakarta Academy, 15.00 WIB.
-Author POV’s-
“Sekian dari saya. Permisi.” Guru berkumis bernama Mr. Hendrik itu akhirnya keluar setelah menjelaskan materi yang tentu saja Aril sekali. Matematika. Terlihat seperti kesombongan tapi itu memang benar. Aril sangat menguasai matematika. Pelajaran membunuh menurut beberapa siswa-siswi lainnya.
Seluruh siswa segera berhamburan keluar kelas dengan sangat tergesa. Ternyata meskipun kelas unggulan, siswa-siswinya tetap saja begini. Yaa, kalian mengerti kan apa maksud author *-_-
Dan sekarang yang tersisa hanyalah Aril dan Bisma yang masih membenahi barang mereka masing-masing. Tidak seperti cowok kebanyakan yang grasak-grusuk, ternyata Bisma cukup tenang. Tapi itu tidak merubah image Bisma dimata Aril. Di mata Aril, Bisma tetaplah cowok robot gila.
Terdengar suara langkah kaki yang memasuki kelas unggulan, terlihat Mr. Hendrik kembali masuk ke dalam kelas, seraya melirik Aril yang mulai bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah pintu.
“Nah. Kau, cepat bawakan barangt-barang ini ke ruangan saya.” Pinta Mr. Hendrik yang lebih mirip perintah itu. Aril diam seraya menunjuk dirinya sendiri. Yang Mr. Maksud, saya?
Mr. Hendrik memutar bola matanya bosan lalu mengangguk. Aril melirik Bisma yang baru saja menyampirkan ransel di pundaknya. Dengan segera Aril mengangguk lalu berusaha mengkat kotak berisikan Infocus lalu menaruh beberapa buku di atasnya. Sementara Mr. Hendrik telah hengkang dari kelas dengan hanya membawa sebuah tas berisi laptop. Huh! Sungguh sangat tidak adil!
Aril masih berusaha membawa benda yang cukup berat itu, namun belum dua detik saja Aril sudah menjatuhkan kotak dan buku ke atas meja. Gadis itu melirik Bisma yang dengan santainya berjalan keluar kelas. Seperti manusia tanpa hati. Benar-benar robot!
"Heh! Bantuin gue kek! Dasar cowok gila!" Teriak Aril keras. Ia benar-benar kesal sekaligus bingung dengan cowok itu! Benar-benar tak punya hati! Benar-benar tak punya perasaan! Rutuk Aril kesal. Ya memang, seharusnya sebagai cowok Bisma membantu cewek yang sedang kesusahan. Pikir Aril sekali lagi.
Ternyata ucapan Aril tak membuat Bisma berpikir dua kali untuk membantunya. Masih dengan santainya Bisma berbelok keluar pintu lalu menghilang begitu saja dari pandangan Aril. Gadis itu menyatukan alisnya lalu mengeluarkan umpatannya keras-keras.
“Dasar cowok gila! Robot gila! Tidak berperikemanusiaan!”
Aril mengelus dadanya sendiri mencoba sabar dengan sikap dingin Bisma. Intinya, di mata Aril Bisma benar-benar sangat menyebalkan. Dan Aril benar-benar membenci Bisma. Baru berteman sehari saja sudah begini, apalagi... Eh, apa tadi? Tidak-tidak. Aril tidak akan menganggap Bisma sebagai temannya. Tentu saja tidak akan.
Dengan seluruh tenaga yang ia punya, Aril masih mencoba mengangkat benda berat itu. Ia tidak ingin lama-lama di dalam kelas dan tidak ingin merusak image jeniusnya di depan guru matematika yang akan menjadi guru favoritenya itu.
Dan... Yaaah! Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya Aril bisa mengangkat Infocus dan buku-buku super tebal itu. Dengan langkah seolah atlet yang mengangkat barbel 100 kg, Aril melangkah menuju ruangan Mr. Hendrik yang dekat dengan kelasnya. Lagipula tadi Zarra sudah memberi tahu letak-letak ruangan guru yang mengajar di kelas unggulan.
BRUUK!
Beban yang dibawa benar-benar tidak seimbang dengan kekuatan Aril yang bila diukur saja sudah tahu betapa malasnya gadis itu berolahraga sampai tidak mendapatkan kekuatan.
Dengan mata yang mulai berkaca-kaca akibat menahan kesal dengan Bisma dan barang-barang yang sama-sama menyebalkan itu. Dengan gemetar tangan Aril berusaha menggapai beberapa buku dan...
Seeet!
Sebuah tangan mengambil alih kotak Infocus yang berat itu dari tangan Aril. Aril sedikit tersentak lalu mengangkat wajahnya yang kusut agar bisa melihat siapa malaikatnya yang hadir hari ini. Apakah Dicky lagi atau...
“Bisma?!” Aril tersenyum miring melihat Bisma dengan wajah datarnya yang mulai bangkit dan membiarkan Aril hanya membawa buku-buku tebal. Ya meskipun tetap berat. Setidaknya, bebannya berkurang.
“Gue masih punya perasaan.” Ucap Bisma seolah menjawab tuduhan yang Aril teriakkan beberapa menit lalu. Aril berusaha menahan malunya, dengan berjalan duluan mendahului Bisma yang menggelengkan kepalanya, hampir tak terlihat sama sekali.
***
Aril’s Home, 15.45 WIB.
Aril segera masuk ke dalam rumahnya yang tingkat dua dan sangaat besar itu setelah pembantu pribadinya Mba Yayu membukakan pintu. Dengan langkah terseok-seok Aril berjalan menuju tangga. Ya, Aril memang cukup berada. Bahkan jika dibilang, sangaat berada. Ia mempunyai rumah mewah di mana-mana. Dan salah satunya adalah di sini, di Jakarta. Dan saat Aril memutuskan untuk bersekolah di Jakarta, orangtuanya benar-benar siap materi dan batin.
Tap.. Tap..
Baru dua anak tangga yang Aril naiki namun ia mendengar suara dari kamar orang tuanya yang berada di sebelah tangga. Dengan langkah detektif seperti di film-film yang pernah ia tonton, Aril perlahan mendekati kamar orangtuanya yang tampak riuh. Dan dengan gerakan slow motion, Aril membuka pintu kamar dan langsung melihat aksi orang tuanya yang sedang berebut koper. Sungguh memalukan,-
Eh, tapi tunggu dulu! Koper? Memangnya mau kemana Vero dan Gilang?
“Ma, Pa?” Panggil Aril pelan karena Mama dan Papanya masih belum menyadari Aril yang berdiri di ambang pintu dan melihat aksi memalukan orangtuanya.
Serentak Mama dan Papa Aril menoleh dan menjatuhkan koper yang mereka perebutkan. Dengan sikap penjahat yang ketahuan mencuri, Vero dan Gilang  terkekeh lalu mendekat ke anak semata wayangnya itu.
“Kenapa, sayang?” Tanya Vero pelan seraya mengelus rambut Aril lembut. Aril menggeleng kemudian menoleh kembali ke koper dan beberapa pakaian yang berantakan di atas ranjang. Vero dan Gilang mengikuti arah pandang sang anak lalu berpandangan dan mengangguk.
“Engg, Ma. Kalian mau pergi kemana? Kenapa, baju berantakan banget?” Tanya Aril polos, entah mengapa lelah dan kesalnya lenyap begitu saja melihat tingkah menggelikan sang orang tua.
“Gini loh sayang, Mama sama Papa itu mau berlibur. Yaa, Mama sama Papa itu kan butuh refreshing. Hehe..”
“HAH?”
***
“Loh, kok mendadak banget sih Ma, Pa? Terus kenapa aku ga diajak?” Tanya seorang pria kesal saat mendengar penuturan sang orang tua yang mengatakan bahwa mereka akan pergi ke luar negeri.
Mamanya tersenyum lalu menoleh pada sang suami yang tampak tanpa ekspresi, sama seperti anaknya,- “Sebenarnya rencana ini udah lama, cuman baru kami kasih tahu ke kamu sekarang. Lagian kalau Mama sama Papa ngajak kamu, sekolah kamu gimana dong?”
Pria berumur 17 tahun itu mendengus lalu bersedekap sambil bersender ke sofa. Ia melirik  orangtuanya sekilas. “Terus aku disini sama siapa? Bibi ga ada. Yang masakin aku siapa? Masa makan Mie Instan berminggu-minggu!” Marahnya.
Sang Papa segera menggeleng lalu mendekatkan diri pada anaknya [re:pindah tempat duduk]. “Lagipula kamu tidak akan tinggal dirumah ini. Kamu akan tinggal bersama seseorang. Dan kebutuhan kamu akan tersedia di sana.”
Pria itu menyerngit lalu mencondongkan badannya. “Tinggal dengan seseorang? Dimana?”
“Yaa, nanti akan Mama kasih alamatnya. Intinya, kamu harus baik-baik dengan dia. Dan yang pasti, kamu harus..”
***
“.. Diantarkan oleh seseorang. Yaa pokoknya kamu tenang saja, ada Mba yang akan membantumu. Ya kan Mba?”
Aril menoleh pada Mba Yayu yang kebetulan lewat dan menampakkan wajah polosnya saat Vero memanggilnya. Vero dan Gilang terkekeh sementara Aril menggeleng karena ulah orangtuanya itu.
“Tapi, mama gabisa seenaknya gini dong!”
"Aril, sayang. Tapi Mama sama Papa cuman pengen yang terbaik buat kamu."
"Tapi, harus banget dengan kayak gini, Mah?” Tanya Aril ketika mendengar jawaban papanya itu. “Lagian apa terbaik buat aku sih?" Lanjut Aril bingung.
“Ngg...” Vero menggumam kemudian menoleh lagi pada Gilang. “Yaa, pokoknya kamu tenang aja ya. Lagian dia juga akan tinggal di rumah ini kok.” Jawab Vero dengan ekspresi kikuknya.
Aril kembali menggeleng lalu melenggang pergi ke kamarnya tanpa izin dahulu ke Vero dan Gilang. Gadis itu kesal setengah mati pada orang tuanya yang sangat seenak jidat (?) pada dirinya. Huaaah, pokoknya, Aril benar-benar kesal pada orang tuanya.
***
A House, 19.00 WIB.
“Za! Za! Archi nge-mention gue lagi!” Teriak Ilham dari kamarnya. Reza membulatkan matanya mendengar teriakan sang sepupu. Dengan sigap ia berlari dari kamarnya menuju kamar Ilham yang bersebelahan itu.
Gubraak!!
Dengan acuhnya Reza membuka pintu kencang sekali hingga pintu tersebut menabrak tembok dalam kamar Ilham. Sementara Ilham yang melihatnya menganga lebar lalu menatap tajam Reza yang langsung merebut laptop yang berada di pangkuan Ilham.
“Nge-mention apaan Archi?!” Tanya Reza panik lalu membuka notifikasi Twitter Ilham. Sementara Ilham memutar bola matanya lalu memiringkan bibirnya. Entah mengapa tingkah sepupunya itu benar-benar heboh setelah dirinya memberitahu bahwa Archi nge-mentionnya. Namun, Ilham mengerti bahwa Reza sedang menyukai gadis bernama Archi itu.
“Kalem-kalem kek lo, Za! Archi doang noh! Bukan Agnes Mo, bukan Selena Gomez, bukan Taylor Swift! Stress!” Umpat Ilham.
Reza melirik sepupunya sekilas lalu membaca mention dari @Archi_ yang tergambarkan lebih jelasnya seperti ini *ada gitu naskah kek gini,-



Reza melirik sinis Ilham yang sedang merapikan rambutnya, dan saat Ilham tersadar sedang di ta-ta-pi oleh sepupunya itu, Ilham mengangkat satu alisnya ke atas.
“Jadi lo mau ketemuan sama cewek gue?!” Tanya Reza dengan nada yang cukup tinggi. Ilham mengerutkan keningnya lalu terkekeh setelah membaca balasannya beberapa menit lalu itu. Lagipula Ilham terkekeh bukan karena itu sebenarnya, tapi karena perkataan Reza barusan.
“Cewek lo? Jadian aja belom udah cewek lo aja, Za. Lucu lo!”
Reza bangkit dari rangjang Ilham lalu berjalan keluar kamar sepupunya itu lalu memasuki kamarnya. Baru beberapa hening, keriuhan kembali tercipta saat Reza menjeritkan sebuah kalimat.
“Pokoknya lo ga boleh ketemu, Archi! Dia calon cewek gue!”
Ilham mendelik lalu menutup laptopnya dan menaruh di sampingnya, di atas ranjang. Kemudian membalas teriakkan Reza dengan nada yang sama. "Kenapa lo jadi ngatur gue? Gue bukan babu!"
***
Drrt.. Drrt.. Drrt..
Dicky berusaha menggapai ponselnya yang berada di atas meja dengan malas. Ia megusap layar ponselnya lalu tampak sebuah panggilan masuk. Ia menoleh sekali lagi pada film kesukaannya, Lilo and Stitch yang baru saja di mulai.
Tertera nama ‘Someone’ disana. Dengan riang Dicky berteriak kencang seraya melompat di atas sofa ruang tamu. “Wohooo! Gebetan nelpon gue! Gebetan.. gebeten.. gebetan..” Ya, kira-kira seperti itulah hebohnya seorang Dicky-_-
Baru saja Dicky ingin mengangkat telpon ‘Someone’ nya itu, sang Mama menyembul dari dapur seraya memegang sebuah nampan. “Dicky! Jangan berteriak seperti itu doong! Sekali lagi kamu berteriak dan heboh seperti itu, nampan ini melayang di wajahmu!” Ancam sang Mama.
Dicky terkekeh lalu menangguk dengan sangat pelan setelah Mama Sri kembali berkutat dengan masakan makan malam di dapur. Sambil menghembuskan nafas berkali-kali, Dicky terus menggenggam ponselnya yang masih saja bergetar.
“Bismillah..”
Dengan gerakan slow motion, Dicky menempelkan ponselnya itu ke dekat daun telinga, dan...
“Halo..”
-To Be Continued-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar