Part
Part 3
Part 3
Cast
Aprilia Fabel Pangestu
Bisma Karisma
Azarra Berlian Putri
Dicky Prasetya
Reza Anugrah
Ilham Fauzi
Morgan Oey
Aprilia Fabel Pangestu
Bisma Karisma
Azarra Berlian Putri
Dicky Prasetya
Reza Anugrah
Ilham Fauzi
Morgan Oey
Genre
Baca aja dulu =))
Baca aja dulu =))
***
Aaaah! Part 3
kelar juga, nih. Meskipun banyak halangan seperti mood yang not good, atau kesibukan sekolah, atau
inspirasi yang lenyap begitu saja. Kadang juga Galau itu jadi masalah besar sih karena ngebuat males ngetik.
Hh! Sudahlah, selamat membaca. Semoga suka =))
Hh! Sudahlah, selamat membaca. Semoga suka =))
***
Drrt.. Drrt..
Drrt..
Dicky
berusaha menggapai ponselnya yang berada di atas meja dengan malas. Ia megusap
layar ponselnya lalu tampak sebuah panggilan masuk. Ia menoleh sekali lagi pada
film kesukaannya, Lilo and Stitch yang baru saja di mulai.
Tertera nama ‘Someone’ disana. Dengan riang Dicky
berteriak kencang seraya melompat di atas sofa ruang tamu. “Wohooo! Gebetan
nelpon gue! Gebetan.. gebeten.. gebetan..” Ya, kira-kira seperti itulah hebohnya
seorang Dicky-_-
Baru saja
Dicky ingin mengangkat telpon ‘Someone’ nya
itu, sang Mama menyembul dari dapur seraya memegang sebuah nampan. “Dicky!
Jangan berteriak seperti itu doong! Sekali lagi kamu berteriak dan heboh
seperti itu, nampan ini melayang di wajahmu!” Ancam sang Mama.
Dicky
terkekeh lalu mengangguk dengan sangat pelan setelah Mama Sri kembali berkutat
dengan masakan makan malam di dapur. Sambil menghembuskan nafas berkali-kali,
Dicky terus menggenggam ponselnya yang masih saja bergetar.
“Bismillah..”
Dengan
gerakan slow motion, Dicky
menempelkan ponselnya itu ke dekat daun telinganya, dan...
“Halo..”
Grrt.. Grrt..
Grrt..
Yang di
terdengar justru suara getar ponselnya. Dicky segera menjauhkan ponselnya dari
daun telinga dan menatap layar android merk terbaru itu. Setelah hening
beberapa detik Dicky tertawa terbahak-bahak lalu menepuk keningnya keras.
“Auuw..
ssh..” Dicky meringis sambil mengelus keningnya yang tertepuk keras sekali.
Rasanya agak panas dan nyeri. Yaa, begitulah. Namun semua itu tak lama kala
Dicky kembali sadar bahwa ‘someone’nya
itu masih menelpon.
Dicky kembali
mengusap layar ponselnya dan menekan tombol hijau dan kembali menempelkan
ponsel itu di dekat daun telinganya.
Sllpp..
Zzz...
Dicky diam
saat tak mendengar apapun dari ponselnya. Padahal tadi jelas-jelas ia sudah
menekan tombol angkat. Dengan kesal Dicky kembali menjauhkan ponselnya dari
daun telinga dan menatap layar android merk terbaru itu LAGI!
Dicky kembali
hening saat menemukan layar ponsel yang berwarna hitam itu. Benar-benar hitam.
Tunggu dulu! Aaaah, ingin rasanya Dicky menangis sekeras-kerasnya dan
membanting semua barang di dekatnya. Namun itu tak mungkin karena ia pasti tak
akan kuat mengangkat sofa dan ancaman sang Mama sudah terdengar jelas sekali.
Dicky hanya bisa meratapi nasibnya kali ini bahwa ponsel sialnya itu LOWBAT! :’(
***
Jakarta,
05.30 WIB.
Matahari
muncul dengan malu-malu menerangi bumi pertiwi, burung-burung berkicau di
ranting-ranting pohon dengan riangnya, dan Aril sudah bersiap di depan meja
makan seraya menyantap roti panggang buatan sang Mama, Vero.
Wajahnya benar-benar
datar, bukan karena kesal. Tapi karena matanya belum ikhlas untuk bangun sepagi
itu. Ya. Aril dipaksa bangun oleh Vero dengan alasan supir mereka yang sudah
mengundurkan diri dan pulang ke kampung halaman serta orangtuanya yang akan
segera menuju bandara untuk berlibur ke luar negeri. Jadi, daripada Aril naik
Bis dan bertambah telat *karena Vero tau Aril bakalan telat, jadi lebih baik
ikut taksi yang akan mengantarkan mereka ke bandara. Begitu katanya.
“Sayaang,
jadi bagaimana? Boleh engga, Mama pinjem koper kamu?”
Aril melirik
Mamanya yang masih saja bertanya pertanyaan itu sejak tadi malam. Saat makan
malam, saat menjelang tidur *melalui sms, dan saat ini. Makan subuh (?).
“Ariil, koper
kamu bagus banget soalnya. Warna pink mama
suka sayang..” Uar sang Mama seraya menatap Aril dalam-dalam. Mata Aril masih
saja melirik sang Mama yang mulai berbinar-binar. Hh, benar-benar kepengen
banget deh tuh emak-emak:v
“Ma, udah deh
pake aja yang ada. Masa mama pake Pink,
ada bunga-bunganya lagi. Mama bukan Abg lagi.” Gilang yang sedari tadi diam,
akhirnya berbicara juga setelah roti panggangnya habis.
“Iiih, Papa.
Lagian Mama kan masih cocok pake Pink
, Mama juga masih kayak Abg tau Pa.” Balas Vero seraya memanyunkan bibirnya
kemudian kembali menatap anaknya lagi. “Boleh kan, sayaaang?”
Aril memutar
bola matanya bosan lalu meneguk susu hangat yang mulai dingin karena hawa
Jakarta yang lumayan dingin pagi ini. Tumben.
“Sayang...” Rengek Vero lagi, kali ini dengan nada manja
yang sangat menggelikan. Gilang hanya menggelengkan kepalanya sementara Aril
yang ‘kayaknya’ mulai iba akhirnya mengangguk juga. Gadis itu bangkit dari
kursinya setelah berkata,
“Yaudah aku
ambilin. Tapi inget ya jangan sampai rusak, kotor, apalagi hilang.
Pulang-pulang harus dalam keadaan utuh, ga boleh cacat sedikit pun. Itu koper limited edition aku beli di Singapur.”
***
Jakarta,
06.00 WIB.
Sebuah Taksi
berhenti di depan sekolah Jakarta Academy. Di dalamnya terdapat aril, Vero dan
Gilang. Sementara Pak Satpam penjaga sekolah hanya menatap bingung mobil Taksi
di depan gerbang.
“Inget ya
sayang. Hati-hati di rumah, jangan ngerusakin alarm lagi, sekolah yang bener,
jangan kelayapan kemana-mana, makan jangan sampai telat *Aril punya Maag*,
tidur jangan malem-malem. Oke?”
“Oiya,
sesorang yang akan tinggal dirumah akan datang pulang sekolah nanti., paling
lambat malam juga datang.”
Aril hanya
mengangguk untuk menjawab ucapan panjang Mamanya itu. Setidaknya anggukan itu
sudah membuat sang Mama puas. Setelah itu, Aril menoleh pada Papanya yang duduk
di jok depan, sebelah supir yang berdehem.
“Ekhem..”
“Ingat juga,
meskipun ada mobil di rumah jangan dipakai. Kamu ga bisa naik mobil. Nanti
nabrak ini itu sayangkan mobilnya?”
Aril melotot
pada sang Papa sementara Vero tertawa melihat ekspresi kesal anak semata
wayangnya itu. Lalu dengan cepat tawa itu berhenti saat Aril mulai membuka mulutnya.
“Inget juga,
Ma. Koper aku pas balik harus sempurna, ga terima cacat dalam bentuk apapun.
Itu limited edition.” Ujar Aril pada
sang Mama sambil menekan kata Limited
Edition nya. Sang Mama mengedipkan matanya lalu jari-jarinya terangkat
membentuk kata ‘Ok’.
Aril
mengangguk puas lalu mulai membuka kenop Mobil, perlahan badannya mulai keluar
dari taksi dan berniat menutup kembali pintu taksi setelah salim dengan Papa
dan Mamanya, namun gerakan tangan Aril ditahan oleh Vero. Dengan cepat aril
menengok ke arah Mamanya yang mulai membuka tas kecil yang di beli di Bali itu.
Dalam waktu
singkat Vero mulai mengeluarkan sebuah lempengan plastik kecil pada Aril yang
langsung menyambarnya sambil mengeluarkan binaran matanya.
“A..ATM
Card?”
Vero
mengangguk lalu menutup kembali resleting tasnya. Ia menatap aneh Aril yang
menatap kartu ATM seperti menatap emas batangan, atau tiket menonton artis
Internasional.
“Ng..,
sayang. ATM Card ini udah Mama sama Papa isi penuh sampai 50 juta. Pakai
baik-baik.”
Ya, begitulah
keluarga Pangestu ini. 50 juga sebenarnya tak ada apa-apanya dibandingkan
seluruh harta yang dimiliki Gilang Pangestu, orang terkaya se-Jawa Barat itu.
Sudahlah, jangan membicarakan uang. Tidak akan habisnya jika berbicara
kertas-kertas berbagai warna itu.
“Makasih Ma.
Makaaasiiiih, bangeeet.” Aril berulang kali mencium telapak tangan Vero dengan
sangat gembira. Bagaimana tidak. Akhirnya, akhirnya ia bisa bebas membeli
apapun yang ia mau. 50 juta dalam sebulan bukan hal buruk untuk dipertahankan.
Ia masih punya cadagannya jika uang dalam ATM habis.
“Em.. iya
sayang. Pokoknya kamu harus hemat sampe beberapa bulan. Jangan foya-foya.”
Pesan Vero sekali lagi.
Senyum Aril
yang mengembang sangat lebar itu perlahan berubah menjadi datar. Keningnya
mulai berkerut tanda bahwa gadis itu sedang berfikir. Ia mulai mencerna
kata-kata Mamanya tadi. “Ma..maksud Mama beberapa bulan? Maksudnya apa Ma?”
Vero tampak
tersenyum lalu mulai menutup pintu mobil pelan. Meninggalkan tatapan bingung
Aril yang masih saja berdiri di depan taksi, bahkan sampai taksi tersebut mulai
meninggalkan sekolah Jakarta Academy. Aril masih mematung disana. Menatap
lempengan itu dengan tatapan bingungnya. Keningnya masih berkerut, alisnya
masih menyatu.
Tapi semua
itu tak berlangsung lama sampai akhirnya seseorang menepuk pundak Aril pelan.
Namun ternyata tepukan itu membuat Aril sedikit tersentak. Ia menoleh dan
semakin terkejut saat menemukan Zarra kini berdiri di depannya seraya tersenyum
dengan manisnya.
Aril
tersenyum kikuk lalu mengangkat tangannya, seraya bergumam “Hai.” Setidaknya
itu bisa mengurangi keterkejutannya pada saat itu.
“Lo kenapa
berdiri disini? Engga masuk?” Tanya Zarra sambil menundukkan wajahnya agar bisa
melihat wajah Aril yang menunduk untuk menyimpan ATM Cardnya di dalam saku.
Rambut panjang Zarra yang hanya diberi kepangan di kanan dan kirinya itu ikut
miring membuat wajahnya manisnya tampak menggemaskan.
Aril
mengangkat wajahnya lalu tersenyum (lagi) pada Zarra. “Gapapa kok, Zar. Yaudah
yuk masuk.”
Aril mulai
melangkahkan kakinya menuju gerbang yang terbuka lebar-lebar, padahal hanya
sedikit anak yang berangkat pagi-pagi. Zarra pun mengikuti langkah Aril dengan
wajah cemberutnya.
“Jangan
panggil gue, Zar dong. Panggil Arra aja. Atau Ar juga gapapa. Pokoknya jangan
Zar! Jangan ya Aril, gue ga mau.” Aril terkekeh dengan ekspresi Zarra. Dengan
pelan Aril mengangguk dan berkata.
“Oke deh,
tapi.....ga janji yaa, Zar. Haha..”
Aril segera
berlari menjauhi Zarra yang bersiap mencubitnya. Zarra ikut berlari berusaha
mengejar Aril di sepanjang kioridor menuju kelas mereka, kelas unggulan.
BRUK!
Tubuh Aril
menghantam tanah ketika sesosok tubuh menabraknya, em.. atau mungkin Aril
sendiri yang menabrak sosok itu? Tapi karena Aril yang terjatuh, pastilah
dirinya yang tertabrak. Samar-samar Aril melihat Zarra yang berhenti berlari
dan melihat 2 cowok berdiri di depannya. Pasti salah satunya adalah pelaku
penabrakan itu.
-Aril POV’s-
Aduuuuh...
aku memegang keningku yang terasa sakit sekali ketika menabrak sesuatu. Padahal
aku tidak menabrak batang pohon atau tembok sekolah. Tapi rasa-rasanya
benar—benar membuat pusing. Aku menengok ke belakang dan menemukan Zarra yang
perlahan mendekatiku.
Baru saja aku
ingin bangkit, seseorang memegang tanganku seraya menggumamkan ‘Maaf’. Tentu
saja itu membuat aku menoleh, dan di detik itu juga aku seperti merasakan panah
Cupid mengenai hatiku.
Sosok tinggi,
putih, tegap, dan...sangat tampan. Ya, cowok itu membantuku berdiri, namun aku
tak begitu mendengar permintaan maafnya. Justru aku terpatri pada wajahnya yang
sangat tampan. Rasanya aku sedang merasakan apa yang namanya ‘Cinta Pada
Pandangan Pertama’.
“Jatuh untuk
yang kedua kalinya, ya?”
Aku tersentak
ketika mendengar suara itu. Seketika aku tersadar dan menoleh pada....Bisma?!
Tunggu dulu, jadi sebenarnya yang menabrakku itu siapa? Cowok tampan ini atau
si Robot Gila itu?
“Dia yang
nabrak gue. Harusnya juga dia yang minta maaf sama gue, bukan lo yang minta
maaf sama dia, Gan.” Ucap Bisma dengan gaya so coolnya itu. Ngelipat tangannnya
di depan dada sambil memasang muka datar. Tapi gaya so cool kayak gitu aja buat
cewek-cewek yang lewat greget sendiri. Aku heran, sebenarnya Robot itu make
jampe-jampe apa sih?
“Sembarangan!
Gue yang jatuh berarti gue yang jadi korban. Dan harusnya itu elo yang minta
maaf sama gue! Dasar Gila! Ayo Zar!” Setelah mengeluarkan umpatan tertahan itu,
aku pun menarik Zarra agar cepat-cepat pergi dari hadapan Bisma. Dan karena hal
sepele itu aku lupa berkenalan dengan cowok ganteng yang Bisma panggi ‘Gan’
itu.
“Hukum
darimana kayak gitu? Dasar cewek aneh!” Samar-samar aku mendenger Bisma
membalas ucapanku itu. Cukup pelan karena jarak kita yang jauh, tapi telingaku
ini masih bisa mendengarnya. Aku sering pergi ke THT di Bandung dan mengorek
telingaku. Jadi pastinya telingaku ini sangat-sangat sehat.
Langkahku kini
semakin dekat dengan kelas. Tanganku juga masih menarik tangan Zarra yang tampaknya
sedikit terseret-seret. Tapi tak terdengar suara rintihan , karna jika
tarikanku ini menyakitkan, pasti Zarra akan merintih kan?
Kami hampir saja
masuk ke dalam kelas jika saja Genk SM*SH itu tidak menghadang kami di ambang
pintu. Ngg, sebenarnya sih hanya Dicky yang menghadang aku dan Zarra dengan
merentangkan tangannya. Sementara yang lain? Entahlah, aku hanya melihat si
Reza yang duduk dan sepupunya, Ilham yang berdiri di meja guru. Sepertinya
sedang mengurusi sesuatu.
Aku menatap
tatapan Dicky yang mengisyaratkan sesuatu itu. Tapi aku rasa bukan aku yang
Dicky inginkan. Dengan cepat aku menoleh pada Zarra sambil melepaskan tangannya
pelan-pelan, setelahnya aku kembali melihat Dicky yang sudah menurunkan
tangannya itu.
“Pagi, Dick.
Bye the way, lo ada urusan sama Zarra ya?” Tanyaku dengan cepat. Karena sungguh
aku tak ingin berlama-lama berada di depan kelas. Kenapa? Karena mataku ini
melihat Bisma dan cowok tampan tadi sedang berjalan dengan sentainya ke arah
kelas.
Dicky
langsung mengangguk lalu tersenyum menunjukkan deretan giginya yang terawat
dengan baik. Aku pun langsung berdehem lalu segera berjalan cepat ke kursiku.
Kursi paling pojok yang bersebelahan dengan si..bisma, bisma itu.
Aku segera
duduk dan menaruh tasku dibelakangnya. Aku juga membuka resleting tas ranselku
dan mengambil sebuah novel berjudul “Nyanyian Ilalang” yang baru saja aku beli
saat di Bandung dan belum sama sekali aku baca.
Saat berbalik
menghadap depan, aku sedikit terkejut karena tiba-tiba saja Bisma sudah berada
di depanku. Tidak benar-benar di depanku sih. Karna, tujuannya kan bangkunya sendiri.
Aku sama sekali tak menoleh dengan gerakan-gerakannya. Sungguh, aku benar-benar
tak ingin melihat wajahnya yang menyebalkan itu. Aku segera memfokuskan mataku
pada novel yang ku baca.
“Hei,
emangnya bisa ya baca novel kebalik?” Seru seseorang. Aku terlonjak dan segera
melihat novelku yang memang terbalik. Aku dengan perasaan malu mulai membalikkan
novel dengan sangat pelan. Terlebih lagi yang menyadarkanku itu cowok tampan
yang tadi bersama Bisma. Gue lihat dia duduk di kursi kosong sebelah Dicky.
Setelah menaruh tasnya asal, dia berjalan dan duduk di bangku depan Bisma yang
tengah memasang earphonenya.
Aku mendengus
kesal saat melihat Morgan duduk di depan Bisma. “Kenapa ga di depan aku aja
sih? Kan biar bisa kenalan juga akunya.”
Yaah, itulah isi batin gue saat itu.
Tapi
ternyata, merasa dicueki oleh Bisma yang asyik sendiri dengan earphone dan
lagunya, cowok itu langsung duduk didepanku. Demi apapun, aku deg-degan saat dia
tersenyum manis kepadaku.
“Lo anak baru
ya? Pasti belum kenal sama gue. Eh, engga-engga. Pasti lo kenal dong sama gue.
Secara gue kan terkenal banget di sekolah ini. Bye the way, lo kenal gue ga?”
Aku terkekeh
saat mendengar cerocosannya yang sangat kepedean. Entahlah, gue rasa cowok ini
benar-benar percaya diri dengan apa yang dia punya. Dan aku rasa, dia
bener-bener terkenal. Yaa, gue percaya aja sih sama pengakuannya tadi.
“April?” Aku tersadar
dari lamunanku dan ‘agak’ terkejut saat cowok itu tau namaku. Tapi... yaiyalah
dia tahu,- dia kan baca Name Tag aku. Pantes aja dia ga bener-bener tahu
namaku.
“Panggil aril
aja. Dan, gue gatau nama lo sih. Emang nama lo siapa?” Tanyaku basa-basi, ya
daripada ke pada. Aku gamau aja lihat dia bosen sama gue dan pergi, terus aku
ga bisa kenalan dan nyoba deket sama dia.
Cowok itu
menggeleng lalu mengulurkan tangannya. Aku rasa dia ngajak kenalan. Dengan
cepat dan tak mau membuatnya menunggu aku menjabat tangannya.
“Gue Morgan,
anak SM*SH dan model di Jakarta. Gue ga nyangka, lo ga kenal sama gue. Emangnya
lo ga kepo kenapa ada bangku kosong di kelas?” Tanya Morgan setelah melepaskan
jabatan tangannya. Aku menyeka hidungku sendiri, sebenarnya itu modus aja buat
nyium bau tangan Morgan yang ASELI wangi banget!
“Gue sih
bukan tipe-tipe cewek kepo. Yaa gue mikir sampe situ juga. Gue juga gatau kalau
kursi kosong di Dicky itu punya elo.” Jawabku sekenanya. Ya memang begitu. Aku kan
bukan cewek kepo yang pengen tahu sana-sini terus ngumbar-ngumbar. Please deh,
itu bukan aku banget!
“Gue tahu, lo
pasti tipe cewek yang cuek dan ga perduli keadaan sekitar kan?” Morgan segera
membungkuk dan meraih sebuah kertas dan meremasnya didepanku. “Kertas ini sampah
dan harusnya segera dibuang. Lain kali sering-sering perhatiin keadaan sekitar.”
Lanjutnya seraya membuangnya ke tempat sampah yang berada di dalam kelas yang
tepat di pojok ruangan. Tapi hebatnya. Kertas itu bisa masuk dengan selamat (?)
ke dalam tempat sampah.
Gue terkekeh
kemudian menutup novelku dan menaruhnya di dalam tas. “Hehe, maaf ya, Gan. Lain
kali gue pasti perhatiin sekitar deh. Janji.”
Morgan
mengangguk mantap lalu kembali melirik Bisma yang terpejam sambil mendegarkan
musik di dalam earphonenya. “Lo tahu, sebenernya lo juga harus kepo dengan
sekitar lo. Yaa, asal ga di umbar sana-sini sih.”
Aku
menyerngit dengan ucapan Morgan itu. Kenapa cowok ini malah berniat menggosip
seperti itu? Ya ampun,-
“Kepo sama
sekitar? Maksud lo sama kursi kosong yang gue dudukin ini?”
“Nah! Lo
emang pinter banget ya! Gini, sebenarnya ya kursi yang lo dudukin itu...”
-To Be Continued-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar