Senin, 10 November 2014

Crazy Boy In My Life - Part 3





 Tittle
Crazy Boy In My Life
Part
Part 3
Previous Part
Part 1, Part 2
Cast
Aprilia Fabel Pangestu
Bisma Karisma
Azarra Berlian Putri
Dicky Prasetya
Reza Anugrah
Ilham Fauzi
Morgan Oey
Genre
Baca aja dulu =))

***
Aaaah! Part 3 kelar juga, nih. Meskipun banyak halangan seperti mood yang not good, atau kesibukan sekolah, atau inspirasi yang lenyap begitu saja. Kadang juga Galau itu jadi masalah besar sih karena ngebuat males ngetik.
Hh! Sudahlah, selamat membaca. Semoga suka =))
***
Drrt.. Drrt.. Drrt..
Dicky berusaha menggapai ponselnya yang berada di atas meja dengan malas. Ia megusap layar ponselnya lalu tampak sebuah panggilan masuk. Ia menoleh sekali lagi pada film kesukaannya, Lilo and Stitch yang baru saja di mulai.
Tertera nama ‘Someone’ disana. Dengan riang Dicky berteriak kencang seraya melompat di atas sofa ruang tamu. “Wohooo! Gebetan nelpon gue! Gebetan.. gebeten.. gebetan..” Ya, kira-kira seperti itulah hebohnya seorang Dicky-_-
Baru saja Dicky ingin mengangkat telpon ‘Someone’ nya itu, sang Mama menyembul dari dapur seraya memegang sebuah nampan. “Dicky! Jangan berteriak seperti itu doong! Sekali lagi kamu berteriak dan heboh seperti itu, nampan ini melayang di wajahmu!” Ancam sang Mama.
Dicky terkekeh lalu mengangguk dengan sangat pelan setelah Mama Sri kembali berkutat dengan masakan makan malam di dapur. Sambil menghembuskan nafas berkali-kali, Dicky terus menggenggam ponselnya yang masih saja bergetar.
“Bismillah..”
Dengan gerakan slow motion, Dicky menempelkan ponselnya itu ke dekat daun telinganya, dan...
“Halo..”
Grrt.. Grrt.. Grrt..
Yang di terdengar justru suara getar ponselnya. Dicky segera menjauhkan ponselnya dari daun telinga dan menatap layar android merk terbaru itu. Setelah hening beberapa detik Dicky tertawa terbahak-bahak lalu menepuk keningnya keras.
“Auuw.. ssh..” Dicky meringis sambil mengelus keningnya yang tertepuk keras sekali. Rasanya agak panas dan nyeri. Yaa, begitulah. Namun semua itu tak lama kala Dicky kembali sadar bahwa ‘someone’nya itu masih menelpon.
Dicky kembali mengusap layar ponselnya dan menekan tombol hijau dan kembali menempelkan ponsel itu di dekat daun telinganya.
Sllpp.. Zzz...
Dicky diam saat tak mendengar apapun dari ponselnya. Padahal tadi jelas-jelas ia sudah menekan tombol angkat. Dengan kesal Dicky kembali menjauhkan ponselnya dari daun telinga dan menatap layar android merk terbaru itu LAGI!
Dicky kembali hening saat menemukan layar ponsel yang berwarna hitam itu. Benar-benar hitam. Tunggu dulu! Aaaah, ingin rasanya Dicky menangis sekeras-kerasnya dan membanting semua barang di dekatnya. Namun itu tak mungkin karena ia pasti tak akan kuat mengangkat sofa dan ancaman sang Mama sudah terdengar jelas sekali. Dicky hanya bisa meratapi nasibnya kali ini bahwa ponsel sialnya itu LOWBAT! :’(
***
Jakarta, 05.30 WIB.
Matahari muncul dengan malu-malu menerangi bumi pertiwi, burung-burung berkicau di ranting-ranting pohon dengan riangnya, dan Aril sudah bersiap di depan meja makan seraya menyantap roti panggang buatan sang Mama, Vero.
Wajahnya benar-benar datar, bukan karena kesal. Tapi karena matanya belum ikhlas untuk bangun sepagi itu. Ya. Aril dipaksa bangun oleh Vero dengan alasan supir mereka yang sudah mengundurkan diri dan pulang ke kampung halaman serta orangtuanya yang akan segera menuju bandara untuk berlibur ke luar negeri. Jadi, daripada Aril naik Bis dan bertambah telat *karena Vero tau Aril bakalan telat, jadi lebih baik ikut taksi yang akan mengantarkan mereka ke bandara. Begitu katanya.
“Sayaang, jadi bagaimana? Boleh engga, Mama pinjem koper kamu?”
Aril melirik Mamanya yang masih saja bertanya pertanyaan itu sejak tadi malam. Saat makan malam, saat menjelang tidur *melalui sms, dan saat ini. Makan subuh (?).
“Ariil, koper kamu bagus banget soalnya. Warna pink mama suka sayang..” Uar sang Mama seraya menatap Aril dalam-dalam. Mata Aril masih saja melirik sang Mama yang mulai berbinar-binar. Hh, benar-benar kepengen banget deh tuh emak-emak:v
“Ma, udah deh pake aja yang ada. Masa mama pake Pink, ada bunga-bunganya lagi. Mama bukan Abg lagi.” Gilang yang sedari tadi diam, akhirnya berbicara juga setelah roti panggangnya habis.
“Iiih, Papa. Lagian Mama kan masih cocok pake Pink , Mama juga masih kayak Abg tau Pa.” Balas Vero seraya memanyunkan bibirnya kemudian kembali menatap anaknya lagi. “Boleh kan, sayaaang?”
Aril memutar bola matanya bosan lalu meneguk susu hangat yang mulai dingin karena hawa Jakarta yang lumayan dingin pagi ini. Tumben.
“Sayang...”  Rengek Vero lagi, kali ini dengan nada manja yang sangat menggelikan. Gilang hanya menggelengkan kepalanya sementara Aril yang ‘kayaknya’ mulai iba akhirnya mengangguk juga. Gadis itu bangkit dari kursinya setelah berkata,
“Yaudah aku ambilin. Tapi inget ya jangan sampai rusak, kotor, apalagi hilang. Pulang-pulang harus dalam keadaan utuh, ga boleh cacat sedikit pun. Itu koper limited edition aku beli di Singapur.”
***
Jakarta, 06.00 WIB.
Sebuah Taksi berhenti di depan sekolah Jakarta Academy. Di dalamnya terdapat aril, Vero dan Gilang. Sementara Pak Satpam penjaga sekolah hanya menatap bingung mobil Taksi di depan gerbang.
“Inget ya sayang. Hati-hati di rumah, jangan ngerusakin alarm lagi, sekolah yang bener, jangan kelayapan kemana-mana, makan jangan sampai telat *Aril punya Maag*, tidur jangan malem-malem. Oke?”
“Oiya, sesorang yang akan tinggal dirumah akan datang pulang sekolah nanti., paling lambat malam juga datang.”
Aril hanya mengangguk untuk menjawab ucapan panjang Mamanya itu. Setidaknya anggukan itu sudah membuat sang Mama puas. Setelah itu, Aril menoleh pada Papanya yang duduk di jok depan, sebelah supir yang berdehem.
“Ekhem..”
“Ingat juga, meskipun ada mobil di rumah jangan dipakai. Kamu ga bisa naik mobil. Nanti nabrak ini itu sayangkan mobilnya?”
Aril melotot pada sang Papa sementara Vero tertawa melihat ekspresi kesal anak semata wayangnya itu. Lalu dengan cepat tawa itu berhenti saat Aril mulai membuka mulutnya.
“Inget juga, Ma. Koper aku pas balik harus sempurna, ga terima cacat dalam bentuk apapun. Itu limited edition.” Ujar Aril pada sang Mama sambil menekan kata Limited Edition nya. Sang Mama mengedipkan matanya lalu jari-jarinya terangkat membentuk kata ‘Ok’.
Aril mengangguk puas lalu mulai membuka kenop Mobil, perlahan badannya mulai keluar dari taksi dan berniat menutup kembali pintu taksi setelah salim dengan Papa dan Mamanya, namun gerakan tangan Aril ditahan oleh Vero. Dengan cepat aril menengok ke arah Mamanya yang mulai membuka tas kecil yang di beli di Bali itu.
Dalam waktu singkat Vero mulai mengeluarkan sebuah lempengan plastik kecil pada Aril yang langsung menyambarnya sambil mengeluarkan binaran matanya.
“A..ATM Card?”
Vero mengangguk lalu menutup kembali resleting tasnya. Ia menatap aneh Aril yang menatap kartu ATM seperti menatap emas batangan, atau tiket menonton artis Internasional.
“Ng.., sayang. ATM Card ini udah Mama sama Papa isi penuh sampai 50 juta. Pakai baik-baik.”
Ya, begitulah keluarga Pangestu ini. 50 juga sebenarnya tak ada apa-apanya dibandingkan seluruh harta yang dimiliki Gilang Pangestu, orang terkaya se-Jawa Barat itu. Sudahlah, jangan membicarakan uang. Tidak akan habisnya jika berbicara kertas-kertas berbagai warna itu.
“Makasih Ma. Makaaasiiiih, bangeeet.” Aril berulang kali mencium telapak tangan Vero dengan sangat gembira. Bagaimana tidak. Akhirnya, akhirnya ia bisa bebas membeli apapun yang ia mau. 50 juta dalam sebulan bukan hal buruk untuk dipertahankan. Ia masih punya cadagannya jika uang dalam ATM habis.
“Em.. iya sayang. Pokoknya kamu harus hemat sampe beberapa bulan. Jangan foya-foya.” Pesan Vero sekali lagi.
Senyum Aril yang mengembang sangat lebar itu perlahan berubah menjadi datar. Keningnya mulai berkerut tanda bahwa gadis itu sedang berfikir. Ia mulai mencerna kata-kata Mamanya tadi. “Ma..maksud Mama beberapa bulan? Maksudnya apa Ma?”
Vero tampak tersenyum lalu mulai menutup pintu mobil pelan. Meninggalkan tatapan bingung Aril yang masih saja berdiri di depan taksi, bahkan sampai taksi tersebut mulai meninggalkan sekolah Jakarta Academy. Aril masih mematung disana. Menatap lempengan itu dengan tatapan bingungnya. Keningnya masih berkerut, alisnya masih menyatu.
Tapi semua itu tak berlangsung lama sampai akhirnya seseorang menepuk pundak Aril pelan. Namun ternyata tepukan itu membuat Aril sedikit tersentak. Ia menoleh dan semakin terkejut saat menemukan Zarra kini berdiri di depannya seraya tersenyum dengan manisnya.
Aril tersenyum kikuk lalu mengangkat tangannya, seraya bergumam “Hai.” Setidaknya itu bisa mengurangi keterkejutannya pada saat itu.
“Lo kenapa berdiri disini? Engga masuk?” Tanya Zarra sambil menundukkan wajahnya agar bisa melihat wajah Aril yang menunduk untuk menyimpan ATM Cardnya di dalam saku. Rambut panjang Zarra yang hanya diberi kepangan di kanan dan kirinya itu ikut miring membuat wajahnya manisnya tampak menggemaskan.
Aril mengangkat wajahnya lalu tersenyum (lagi) pada Zarra. “Gapapa kok, Zar. Yaudah yuk masuk.”
Aril mulai melangkahkan kakinya menuju gerbang yang terbuka lebar-lebar, padahal hanya sedikit anak yang berangkat pagi-pagi. Zarra pun mengikuti langkah Aril dengan wajah cemberutnya.
“Jangan panggil gue, Zar dong. Panggil Arra aja. Atau Ar juga gapapa. Pokoknya jangan Zar! Jangan ya Aril, gue ga mau.” Aril terkekeh dengan ekspresi Zarra. Dengan pelan Aril mengangguk dan berkata.
“Oke deh, tapi.....ga janji yaa, Zar. Haha..”
Aril segera berlari menjauhi Zarra yang bersiap mencubitnya. Zarra ikut berlari berusaha mengejar Aril di sepanjang kioridor menuju kelas mereka, kelas unggulan.
BRUK!
Tubuh Aril menghantam tanah ketika sesosok tubuh menabraknya, em.. atau mungkin Aril sendiri yang menabrak sosok itu? Tapi karena Aril yang terjatuh, pastilah dirinya yang tertabrak. Samar-samar Aril melihat Zarra yang berhenti berlari dan melihat 2 cowok berdiri di depannya. Pasti salah satunya adalah pelaku penabrakan itu.
-Aril POV’s-
Aduuuuh... aku memegang keningku yang terasa sakit sekali ketika menabrak sesuatu. Padahal aku tidak menabrak batang pohon atau tembok sekolah. Tapi rasa-rasanya benar—benar membuat pusing. Aku menengok ke belakang dan menemukan Zarra yang perlahan mendekatiku.
Baru saja aku ingin bangkit, seseorang memegang tanganku seraya menggumamkan ‘Maaf’. Tentu saja itu membuat aku menoleh, dan di detik itu juga aku seperti merasakan panah Cupid mengenai hatiku.
Sosok tinggi, putih, tegap, dan...sangat tampan. Ya, cowok itu membantuku berdiri, namun aku tak begitu mendengar permintaan maafnya. Justru aku terpatri pada wajahnya yang sangat tampan. Rasanya aku sedang merasakan apa yang namanya ‘Cinta Pada Pandangan Pertama’.
“Jatuh untuk yang kedua kalinya, ya?”
Aku tersentak ketika mendengar suara itu. Seketika aku tersadar dan menoleh pada....Bisma?! Tunggu dulu, jadi sebenarnya yang menabrakku itu siapa? Cowok tampan ini atau si Robot Gila itu?
“Dia yang nabrak gue. Harusnya juga dia yang minta maaf sama gue, bukan lo yang minta maaf sama dia, Gan.” Ucap Bisma dengan gaya so coolnya itu. Ngelipat tangannnya di depan dada sambil memasang muka datar. Tapi gaya so cool kayak gitu aja buat cewek-cewek yang lewat greget sendiri. Aku heran, sebenarnya Robot itu make jampe-jampe apa sih?
“Sembarangan! Gue yang jatuh berarti gue yang jadi korban. Dan harusnya itu elo yang minta maaf sama gue! Dasar Gila! Ayo Zar!” Setelah mengeluarkan umpatan tertahan itu, aku pun menarik Zarra agar cepat-cepat pergi dari hadapan Bisma. Dan karena hal sepele itu aku lupa berkenalan dengan cowok ganteng yang Bisma panggi ‘Gan’ itu.
“Hukum darimana kayak gitu? Dasar cewek aneh!” Samar-samar aku mendenger Bisma membalas ucapanku itu. Cukup pelan karena jarak kita yang jauh, tapi telingaku ini masih bisa mendengarnya. Aku sering pergi ke THT di Bandung dan mengorek telingaku. Jadi pastinya telingaku ini sangat-sangat sehat.
Langkahku kini semakin dekat dengan kelas. Tanganku juga masih menarik tangan Zarra yang tampaknya sedikit terseret-seret. Tapi tak terdengar suara rintihan , karna jika tarikanku ini menyakitkan, pasti Zarra akan merintih kan?
Kami hampir saja masuk ke dalam kelas jika saja Genk SM*SH itu tidak menghadang kami di ambang pintu. Ngg, sebenarnya sih hanya Dicky yang menghadang aku dan Zarra dengan merentangkan tangannya. Sementara yang lain? Entahlah, aku hanya melihat si Reza yang duduk dan sepupunya, Ilham yang berdiri di meja guru. Sepertinya sedang mengurusi sesuatu.
Aku menatap tatapan Dicky yang mengisyaratkan sesuatu itu. Tapi aku rasa bukan aku yang Dicky inginkan. Dengan cepat aku menoleh pada Zarra sambil melepaskan tangannya pelan-pelan, setelahnya aku kembali melihat Dicky yang sudah menurunkan tangannya itu.
“Pagi, Dick. Bye the way, lo ada urusan sama Zarra ya?” Tanyaku dengan cepat. Karena sungguh aku tak ingin berlama-lama berada di depan kelas. Kenapa? Karena mataku ini melihat Bisma dan cowok tampan tadi sedang berjalan dengan sentainya ke arah kelas.
Dicky langsung mengangguk lalu tersenyum menunjukkan deretan giginya yang terawat dengan baik. Aku pun langsung berdehem lalu segera berjalan cepat ke kursiku. Kursi paling pojok yang bersebelahan dengan si..bisma, bisma itu.
Aku segera duduk dan menaruh tasku dibelakangnya. Aku juga membuka resleting tas ranselku dan mengambil sebuah novel berjudul “Nyanyian Ilalang” yang baru saja aku beli saat di Bandung dan belum sama sekali aku baca.
Saat berbalik menghadap depan, aku sedikit terkejut karena tiba-tiba saja Bisma sudah berada di depanku. Tidak benar-benar di depanku sih. Karna, tujuannya kan bangkunya sendiri. Aku sama sekali tak menoleh dengan gerakan-gerakannya. Sungguh, aku benar-benar tak ingin melihat wajahnya yang menyebalkan itu. Aku segera memfokuskan mataku pada novel yang ku baca.
“Hei, emangnya bisa ya baca novel kebalik?” Seru seseorang. Aku terlonjak dan segera melihat novelku yang memang terbalik. Aku dengan perasaan malu mulai membalikkan novel dengan sangat pelan. Terlebih lagi yang menyadarkanku itu cowok tampan yang tadi bersama Bisma. Gue lihat dia duduk di kursi kosong sebelah Dicky. Setelah menaruh tasnya asal, dia berjalan dan duduk di bangku depan Bisma yang tengah memasang earphonenya.
Aku mendengus kesal saat melihat Morgan duduk di depan Bisma. “Kenapa ga di depan aku aja sih?  Kan biar bisa kenalan juga akunya.” Yaah, itulah isi batin gue saat itu.
Tapi ternyata, merasa dicueki oleh Bisma yang asyik sendiri dengan earphone dan lagunya, cowok itu langsung duduk didepanku. Demi apapun, aku deg-degan saat dia tersenyum manis kepadaku.
“Lo anak baru ya? Pasti belum kenal sama gue. Eh, engga-engga. Pasti lo kenal dong sama gue. Secara gue kan terkenal banget di sekolah ini. Bye the way, lo kenal gue ga?”
Aku terkekeh saat mendengar cerocosannya yang sangat kepedean. Entahlah, gue rasa cowok ini benar-benar percaya diri dengan apa yang dia punya. Dan aku rasa, dia bener-bener terkenal. Yaa, gue percaya aja sih sama pengakuannya tadi.
“April?” Aku tersadar dari lamunanku dan ‘agak’ terkejut saat cowok itu tau namaku. Tapi... yaiyalah dia tahu,- dia kan baca Name Tag aku. Pantes aja dia ga bener-bener tahu namaku.
“Panggil aril aja. Dan, gue gatau nama lo sih. Emang nama lo siapa?” Tanyaku basa-basi, ya daripada ke pada. Aku gamau aja lihat dia bosen sama gue dan pergi, terus aku ga bisa kenalan dan nyoba deket sama dia.
Cowok itu menggeleng lalu mengulurkan tangannya. Aku rasa dia ngajak kenalan. Dengan cepat dan tak mau membuatnya menunggu aku menjabat tangannya.
“Gue Morgan, anak SM*SH dan model di Jakarta. Gue ga nyangka, lo ga kenal sama gue. Emangnya lo ga kepo kenapa ada bangku kosong di kelas?” Tanya Morgan setelah melepaskan jabatan tangannya. Aku menyeka hidungku sendiri, sebenarnya itu modus aja buat nyium bau tangan Morgan yang ASELI wangi banget!
“Gue sih bukan tipe-tipe cewek kepo. Yaa gue mikir sampe situ juga. Gue juga gatau kalau kursi kosong di Dicky itu punya elo.” Jawabku sekenanya. Ya memang begitu. Aku kan bukan cewek kepo yang pengen tahu sana-sini terus ngumbar-ngumbar. Please deh, itu bukan aku banget!
“Gue tahu, lo pasti tipe cewek yang cuek dan ga perduli keadaan sekitar kan?” Morgan segera membungkuk dan meraih sebuah kertas dan meremasnya didepanku. “Kertas ini sampah dan harusnya segera dibuang. Lain kali sering-sering perhatiin keadaan sekitar.” Lanjutnya seraya membuangnya ke tempat sampah yang berada di dalam kelas yang tepat di pojok ruangan. Tapi hebatnya. Kertas itu bisa masuk dengan selamat (?) ke dalam tempat sampah.
Gue terkekeh kemudian menutup novelku dan menaruhnya di dalam tas. “Hehe, maaf ya, Gan. Lain kali gue pasti perhatiin sekitar deh. Janji.”
Morgan mengangguk mantap lalu kembali melirik Bisma yang terpejam sambil mendegarkan musik di dalam earphonenya. “Lo tahu, sebenernya lo juga harus kepo dengan sekitar lo. Yaa, asal ga di umbar sana-sini sih.”
Aku menyerngit dengan ucapan Morgan itu. Kenapa cowok ini malah berniat menggosip seperti itu? Ya ampun,-
“Kepo sama sekitar? Maksud lo sama kursi kosong yang gue dudukin ini?”
“Nah! Lo emang pinter banget ya! Gini, sebenarnya ya kursi yang lo dudukin itu...”

-To Be Continued-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar