Haaai Sm*shblast? Apa kabar? Basa-basi banget nih aku-_-
Cerita ini adalah cerita pertama aku yang aku post di blog ini. Masih fresh juga lho dari otakku *dikira ikan apa frash fresh,-
Daripada kalian ngebaca yang diatas, mending baca cerita amatiran aku aja gimana?
Semoga suka ya :))
Cerita ini adalah cerita pertama aku yang aku post di blog ini. Masih fresh juga lho dari otakku *dikira ikan apa frash fresh,-
Daripada kalian ngebaca yang diatas, mending baca cerita amatiran aku aja gimana?
Semoga suka ya :))
***
“Flo, lo cape? Kalau lo cape udah sini
kaka bantuin aja.” Flora menggeleng saat sang Bisma-sang kaka kelas-berusaha
membantunya membawakan beberapa kotak makanan dan minuman.
“Udah gapapa kok, kak. Lagian kalo
yang lain tahu, kaka perhatian lebih sama adik kelasnya kan bahaya. Misi ya
kak.” Flora tersenyum sekilas kemudian berjalan cepat mendekati teman-temannya
yang berada di dalam tenda.
“Udah nih pacarannya? Lo makin akrab
aja sama ka Bisma.” Ledek Mitha seraya mencolek dagu Flora saat gadis itu sudah
sampai di tendanya.
Gadis manis ini menepisnya pelan lalu
menoleh ke belakang, memperhatikan Bisma yang mulai sibuk dengan urusannya
sebagai anggota pramuka. Rupanya sekolah Flora, SMK Harapan tengah melaksanakan
kegiatan kemah untuk siswa/siswi kelas X-A sampai X-I.
“Gue ga pacaran kali sama ka Bisma,
mungkin aja karena gue temen deket adiknya, makanya dia akrab sama gue.” Jawab
Flora malas lalu masuk ke dalam tenda yang sudah di bangun.
Tasya dan Mitha saling pandang lalu tersenyum.
“Kaka gue tuh suka tau sama lo. Elonya aja ga pernah peka.” Ujar Oca sambil
membagikan kotak makanan pada Flora, Mitha, Tasya, Vero, Dian, Sonya, Zarra,
serta si kembar Archi dan Azura.
“Sotoy deh lo, Ca.” Ucap Flora sembari
membuka tutup kotak. “Gue kan cuman adik kelasnya doang. Udah gitu banyak lagi
kaka kelas yang ngedeketin dia, cantik pula. Mana mungkin sih dia ga kepepet.”
Lanjutnya sebelum menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
“Ooh, jadi ceritanya elo cemburu..
Ekhem!” Goda Azura lalu berdehem ria sampai akhirnya berhenti ketika Flora
mencubit perutnya.
“Awss..sakit kali Flo! Maut banget sih
cubitan lo!” Ambek Azura sambil mengelus perutnya sementara yang lain tertawa terbahak-bahak
melihat Azura yang kesakitan.
Flora cemberut menatap teman-temannya
yang terus saja meledeknya dengan Bisma, kaka kelas yang sedang mendekatinya
entah kenapa. “Makanya jangan ledekin gue sama ka Bisma mulu!” Flora beranjak
dan keluar dari ten..
“Waa!” Flora terjungkal ke belakang
saat Bisma tiba-tiba berdiri di depan tenda kelompok sakura. Bisma terkekeh
kemudian membantu Flora berdiri.
“Lo ga papa, Dek?” Tanya Bisma setelah
Flora telah berdiri.
“Sakit kali, Kak. Lagian ngapain sih
di depan tenda cewek?!” Tanya Flora kesal. Bisma menggaruk tengkuknya yang tak
gatal lalu menjawab.
“Ini mau ngasih tau aja. Siapin
kelompok lo, Dek. Entar malem bakal ada cari jejak.”
“Jam berapa?” Tanya Flora lagi tanpa
menatap wajah kaka kelasnya itu.
“Jam 7-an. Jangan lupa siapin apa aja
yang harus di bawa ya.” Perintah Bisma, setelahnya lelaki tampan itu pergi
menuju arah kanan, tepat di tenda milik kelompok Mawar. Mungkin ingin memberi
tahu soal cari jejak nanti malam.
Flora tak langsung masuk ke dalam
tenda, ia justru diam memperhatikan Bisma yang tengah berbincang dengan Delis
dan Qila. Tanpa di sadari, bibir Flora terukir senyum manis melihat Bisma yang
tertawa sambil menunjukkan deretan pagar giginya.
Namun itu tak lama, Flora gelagapan
saat Bisma menoleh padanya dan tersenyum. Dengan cepat gadis itu masuk ke dalam
tenda dengan dada yang berdebar.
“Kenapa lo?” Tanya Oca bingung sebelum
menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Flora menggeleng lalu meraih sendok
di dalam kotak makanan.
“Tadi ka Bisma ya?” Tanya Archi dengan
mulut yang penuh dengan makanan. Flora mengangguk seraya mengunyah makanannya
“Kedengeran sih suaranya. Ngapain tuh?
Ngapel?” Ledek Zarra kemudian terkekeh saat Flora menggembungkan pipinya.
“Bukan kali, itu tuh ka Bisma ngasih tau
aja cari jejak jam 7-an, siapin semuanya jangan lupa.” Jawab Flora cepat,
sebelum teman-temannya itu semakin meledeknya.
“Ooh gitu doang. Gue kira mau ngapel
tuh kaka kelas.” Kali ini Sonya yang meledek Flora.
“Udah kek lo-lo pada jangan ngeledekin
gue mulu! Gue tegesin sekali lagi, gue..sama..ka Bisma..itu..engga..PACARAN!”
Tegas Flora lalu menutup kotak makanannya.
“Bukan engga, tapi belum!” Ledek Zarra
lagi. Flora meringis lalu menutup telinganya agar tak bisa mendengar ledekan
teman-temannya yang menyebalkan.
***
Vero memegangi lehernya takut. Hutan
pada malam hari sungguh mengerikan. Regu Sakura, sedang mencari jejak di dalam
hutan sesuai dengan panduan peta yang di bawa oleh Tasya.
“Gue merinding nih, buruan nyampe
kek.” Eluh Vero seraya mengikuti langkah teman-temannya yang mulai menjauh.
Terkadang juga mereka bertemu kelompok lain yang juga ketakutan di tengah
hutan.
“Berisik deh lo, ve. Udah ikutin kita
aja, ga usah ribet!” Sentak Oca kesal. Yang lain mengangguk setuju namun tidak
dengan Flora. Ia sedikit gelisah entah mengapa, Archi yang menyadarinya sengaja
bertanya.
“Lo kenapa, Flo? Ngerasa ada yang ga
enak?” Tanya Archi pelan. Flora menoleh lalu tersenyum miris.
“Iya nih. Ga enak banget, gue...kebelet.”
Jawab Flora lirih sembari menahan kebeletnya.
Archi yang tadinya ketakutan langsung
melengos mendengarnya, sementara yang lain malah memandang Flora takut.
“Lo mah kebelet pas eventnya kayak
gini, Flo! Mau buang air dimana coba?” Tanya Dian takut.
“Di mana aja deh, tuh ada pohon gue
buang air dulu ya. Udah kebelet banget sumpah deh.” Ujar Flora seraya berjalan
perlahan menuju pohon besar.
“Lo ga takut apa? Serem tau! Entar aja
deh kalau udah nyampe!” Larang Mitha.
“Duuh engga akan kenapa-kenapa. Kalau
kalian bosen tinggalin gue aja ga apa. Entar gue nyusul.” Ujar Flora kritis.
“Yaudah deh. Yuk guys, lanjut.”
Komando Oca, sebagai ketua regu.
***
Acara cari jejak selesai. Saat ini
semua regu bersenang-senang di dekat api unggun yang cukup besar. Mereka ada
yang bernyanyi, bermain gitar, menari. Malam ini adalah puncak dari acara
camping SMK Harapan, wajar saja bila semuanya bersenang-senang termasuk para
anggora pramuka dan guru-guru.
Bisma memetik senar gitar di dekat
sebuah pohon yang agak jauh dari api unggun. Ia mencari sesosok wanita yang
tidak terlihat sedari tadi.
Tanpa sengaja ia melihat regu Sakura
yang sedang berbincang dengan pratama*, Ilham dan beberapa guru pembina di
tempat yang tak jauh dari api unggun.
(*ketua pramuka)
(*ketua pramuka)
Bisma sedikit aneh saat tak menemukan Flora
di sekitar regu sakura. Dengan cepat ia bangkit dan berjalan ke arah kerumunan
tersebut.
“Ada apa? Ca, ada apa sih? Terus Flo mana?”
Tanya Bisma saat melihat wajah panik adik-adik kelasnya.
“Ini Kak, Flora hilang!” Seru Mitha
sambil menenangkan Oca yang menangis.
Mata Bisma membola setelah mendengar
seruan Mitha. Dengan cepat raut wajahnya berubah, kemudian bertanya dengan
panik. “Kenapa bisa hilang?!”
“Engga tau kak. Tadinya dia izin mau
buang air, eh sampe sekarang dia ga balik-balik. Kak! Kami takut Flo
kenapa-kenapa..” Jawab Azura parau.
“Udah kalian ten..Bis! Lo mau
kemana?!” Ilham berteriak memanggil Bisma yang tiba-tiba saja berlari memasuki
hutan, namun Bisma menghiraukan panggilan Ilham itu.
“Ka, Flo gimana ka?” Tanya Archi cemas.
“Udah lo tenang ya. Yang lain juga
tenang. Sekarang kalian balik ke tenda. Kaka anter, yuk!” Ajak Ilham.
***
"Ini kesini terus kesini terus...terus..."
Flora tak melanjutkan kalimatnya.
"Gak! Gak! Gue gak mungkin ke sesat. Ayo Flo berfikir!"
Lanjutnya seraya mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari-jarinya.
"Arrggh! Otak gue mampet!"
Flora mengumpat di tengah-tengah pepohonan.
"Gue balik gimana? Lagian gue
bego, harusnya gue dengerin Mitha! Liatkan sekarang gue gak tau ini di mana.."
Katanya parau
"Ini gimana..” Gumam Flora kecil, perlahan hutan bertambah gelap. Flora berjongkok menelungkupkan kepalanya di dalam lutut.
"Ini gimana..” Gumam Flora kecil, perlahan hutan bertambah gelap. Flora berjongkok menelungkupkan kepalanya di dalam lutut.
"Gue takut... Disini gelap banget..
Hiks.." Ucap Flora gemetar, airmatanya sudah terbendung di pelupuk mata.
“Flora!” Samar-samar ia mendengar
seseorang yang memanggil namanya, namun ia tak berani menjawab.
“Flo!” Suara samar-samar itu kembali
terdengar, namun lebih dekat rasanya.
Srreek srreek. Flora mengangkat kepalanya lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada siapapun disana. Srreek srreek, Flora mencoba memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Tak ada siapapun juga. Jangan-jangan....
Flora membalikan kepalanya ke arah depan. Ada sepasang kaki di sana. "kyaaaa....kyaaaa..haaah...aaaaa..mmmmhh" Flora melotot kaget saat Bisma membungkam mulutnya. Tanpa peduli lagi gadis itu memeluk kaka kelasnya erat.
"Ak..Aku..uu hiks ta..takut..takut gelap, Kak. Hiks.." Flora terisak di pelukan Bisma. Bisma membiarkan adik kelasnya itu memeluknya. “Tenang ya, tenang. Ada gue disini.” Ucap Bisma menenangkan.
Srreek srreek. Flora mengangkat kepalanya lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada siapapun disana. Srreek srreek, Flora mencoba memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Tak ada siapapun juga. Jangan-jangan....
Flora membalikan kepalanya ke arah depan. Ada sepasang kaki di sana. "kyaaaa....kyaaaa..haaah...aaaaa..mmmmhh" Flora melotot kaget saat Bisma membungkam mulutnya. Tanpa peduli lagi gadis itu memeluk kaka kelasnya erat.
"Ak..Aku..uu hiks ta..takut..takut gelap, Kak. Hiks.." Flora terisak di pelukan Bisma. Bisma membiarkan adik kelasnya itu memeluknya. “Tenang ya, tenang. Ada gue disini.” Ucap Bisma menenangkan.
Bisma menggenggam tangan kanan Flora
erat melewati pepohonan besar itu. Flora berdebar saat Bisma semakin mempererat
genggamannya.
Gadis itu tersenyum lega saat dirinya
dan sang kaka kelas berhasil sampai ke tempat kemah yang masih ramai dengan
kesenangan dan senyuman melihat Flora yang akhirnya ditemukan. Di saat itu juga
Bisma melepaskan genggamannya.
Flora menoleh pada Bisma saat lelaki
itu merangkulnya menuju tenda. Meskipun ia mendapat tatapan sinis para kaka
kelas anggota pramuka yang naksir dengan Bisma, Flora tak mengetahuinya. Ia
terlalu nyaman dengan sikap Bisma ini.
Mereka sampai di tenda regu Sakura
yang juga terdapat Ilham dan Reza disana. Oca yang melihat Flora telah sampai
langsung berdiri dan memeluk sahabatnya erat, sampai-sampai Bisma terpaksa
melepas rangkulannya.
Mitha, Tasya, Vero, Dian, Sonya,
Zarra, Archi, dan Azura pun ikut berdiri dan memeluk Flora bergantian.
“Lo ga papa kan? Kita semua khawatir
sama elo, Flo!” Ujar Dian. Flora mengangguk lalu menghapus air mata yang
tersisa dan menoleh pada Bisma.
“Thank’s ya, Kak. Mungkin aku bakal
nginep disitu kalau engga ada kaka tadi.” Ucap Flora tulus. Bisma mengangguk
lalu tersenyum.
“Makasih ya kakaku yang paling
ganteng. Pokoknya thank’s banget ka.” Seru Oca dengan suara parau, efek
menangis sesegukkan tadi.
“Gue cuman mau jadi kaka kelas yang
bertanggung jawab aja.” Jawab Bisma merendah. Lelaki itu melirik Reza dan
Ilham, seperti mengodekan sesuatu. Tak
lama Ilham dan Reza mengangguk.
“Oke deh. Tenangin diri lo dulu ya,
Flora. Abis itu gue harap lo gabung sama yang lain. Jangan sia-siain moment api
unggun kayak gini.” Pamit Ilham, kemudian pergi bersama Reza dan Bisma setelah
menampakkan senyum khas yang membuat Azura salah tingkah, apalagi saat Ilham
menatapnya sesaat.
“Ka Ilham.. Makin lopyu deh sama elo,
Kak.” Gumam Azura lebay. Sang kembaran, Archi melirik bosan Azura lalu kembali
memperhatikan Flora.
“Flo, lo mau di tenda aja atau gabung
sama kita-kita di api unggun?” Tanya Archi seraya berjongkok mengikuti Flora
dan yang lain.
Flora mengangkat wajahnya kemudian
tersenyum lalu menggeleng. “Gue mau nememin ka Bisma aja. Sekalian bilang
makasih yang bener-bener makasih sama dia.” Jawab Flora sambil menatap Bisma
yang sedang memetik gitar di tempat yang sama, seperti sebelumnya.
“Iya dah tau yang mau pe-de-ka-te-an
sama kaka gue, kalau gitu gue sama yang lain ke api unggun ya.” Izin Oca, namun
ucapan Oca malah mendapat penolakkan dari Azura yang segera menggelengkan
kepalanya.
“Gue ga ikut kalian juga, gue mau
nemuin ka Ilham!” Tolak Azura. Dengan segera gadis berambut emas itu berjalan
mendekati Ilham yang sedang meminum segelas teh hangat di tendanya.
“Dasar! Kembaran lo tuh, Ar! Hh, yaudah
deh. Bye Flo!” Pamit Tasya, Flora mengangguk lalu membiarkan teman-temannya itu
bersenang-senang di api unggun
Flora kembali memperhatikan Bisma yang
masih saja memetik gitar sambil bernyanyi entah lagu apa, tak begitu terdengar
di telinga Flora.
Gadis berambut panjang bergelombang
itu mengambil sebuah snack dari dalam tas dan membukanya, lalu berjalan
mendekati Bisma seraya mengunyah makanan ringannya.
Semakin dekat, semakin terdengar apa
yang Bisma nyanyikan. Hingga akhirnya Flora berdiri tepat di belakang Bisma
yang menyanyikan lagu ‘Cinta Dalam Hati - Ungu’ dengan iringan gitar yang
begitu indah.
“Ku ingin
kau tahu, diriku disini menanti dirimu
Meski kutunggu hingga ujung waktuku
Dan berharap rasa ini kan abadi
Untuk selamanya
Dan izinkan aku memeluk dirimu kali ini saja
Tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
Dan biarkan rasa ini bahagia
Untuk sekejap.. Flora?”
Meski kutunggu hingga ujung waktuku
Dan berharap rasa ini kan abadi
Untuk selamanya
Dan izinkan aku memeluk dirimu kali ini saja
Tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
Dan biarkan rasa ini bahagia
Untuk sekejap.. Flora?”
Alis Bisma saling bertautan saat Flora
tiba-tiba saja duduk di sebelahnya sambil tersenyum manis. “Kenapa berhenti?
Lanjutin aja, Kak. Bagus kok.”
Bisma terdiam sesaat sebelum akhirnya
tersenyum sembaru memeluk gitarnya. “Lo ngapain disini? Ga ikut seneng-seneng
di api unggun?” Tanya Bisma.
Flora menggeleng lalu menatap lurus ke
depan. “Kaka sendiri kenapa ga gabung sama yang lain?” Tanya Flora tanpa
menjawab pertanyaan Bisma.
Bisma menghela nafas menikmati udara
bukit yang sejuk pada malam hari. “Gue sih lebih suka sendiri. Tapi kalau lo
mau nemenin juga ga papa.”
Flora terkekeh kemudian mengambil batu-batu
kecil dan melemparnya ke sembarang arah. “Sendiri di bilang suka? Ga ada niat
nyari pacar gitu, Kak? Banyak loh yang ngantri.” Canda Flora.
Bisma menggeleng pelan, hampir tak
terlihat kemudian menoleh menatap wajah Flora dari samping.
“Sebenarnya sih sendiri emang ga enak.
Yang ngantri emang banyak, tapi orang yang disuka ga peka-peka. Pasrah aja
lah.” Jawab Bisma lirih, terdengar seperti nada pesakitan.
Flora menoleh dan terhenyak saat Bisma
terus saja menatapnya dengan bola mata coklat indahnya, bahkan tatapan Bisma
sampai menebus mata biru Flora. Menguncinya sampai gadis itu tak bisa
berpaling.
‘Ini kenapa..’
Flora segera membuang pandangannya ke
arah lain. Hatinya berdebar sepeti dentuman drum yang sangat keras.
“Siapa?” Tanya Flora setelah sekian
lamanya diam. Bisma menolah seraya menautkan alisnya.
“Siapa apa? Maksudnya?”
“Yang kaka suka itu siapa?” Tanya
Flora pelan, masih membuang pandangannya. Masih tak ingin menatap Bisma yang
selalu menampakkan karismanya.
Bisma terkekeh pelan lalu menghela
nafas berat. “Sebenarnya sih gue suka sama seorang cewek. Dia manis, matanya
itu gue lebih suka. Dia itu cewek yang sangat gue khawatirin pas mendadak
hilang.” Tutur Bisma lirih.
Flora
tersentak mendengar penuturan sang kaka kelas. Ia melirik Bisma sekilas
kemudian kembali menghadap depan sembari mengunyah snacknya.
Bisma
kembali memetik senar gitarnya dan bernyanyi seraya menatap adik kelas di
sampingnya teduh.
“Aku sungguh sangat bermimpi
Untuk mendampingi hatimu
Ku masih terus bermimpi
Sangat besar harapanku
Tuk hidup berdua”
Untuk mendampingi hatimu
Ku masih terus bermimpi
Sangat besar harapanku
Tuk hidup berdua”
Flora
menoleh dan terkejut saat Bisma bernyanyi sembari menatapnya lagi. Perasaannya
tak karuan. Ia sangat merasa jika lagu itu....untuknya. Benar untuk Flo?
“Denganmu, aku sempurna
Denganmu, ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan, jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat, aku terpukau”
Denganmu, ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan, jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat, aku terpukau”
Bisma
menyudahi lagunya kemudian tersenyum masih dengan menatap Flora teduh.
“Ini
maksudnya apa sih, Kak?” Tanya Flora bingung. Bisma diam, ia menundukkan
kepalanya. Masih diam, tak menjawab pertanyaan Flora yang membutuhkan
kepastian.
“Hh, bener
ga sih kalau lo ga suka sama gue? Kayak apa yang lo bilang ke temen-temen lo
itu.” Tanya Bisma tanpa membuang pandangannya.
“Kak...”
“Gapapa
jujur aja, gue mau tau.” Pinta Bisma pelan seraya menatap Flora lagi.
Flora diam
tak berani menatap mata kaka kelasnya ini. Ia hanya takut, semua rasanya
terungkap.
“Gapapa
kok kalau jawabannya emang bener. Yaudah deh, gue mau balik ke tenda dulu.
Bye.” Bisma bangkit kemudian berjalan menuju tendanya.
Sementara
Flora menatap tak rela Bisma yang pergi. Gadis itu menghembuskan nafas berat,
dan ikut pergi dari tempat itu. Ia ingin kembali ke tendanya. Ingin berfikir
apa yang harus di lakukannya saat nanti Bisma mungkin akan bertanya hal itu
kembali, mungkin.
***
Malam
semakin larut, acara api unggun telah selesai. Semua regu telah berkumpul di
dalam tenda masing-masing untuk tidur. Namun tidak dengan Flo. Sampai detik ini
ia masih saja memikirkan Bisma.
Oca
membuka kelopak matanya, ia sedikit menggeliat dan akhirnya mengubah posisinya
menjadi duduk seraya memperhatikan sahabatnya yang masih saja terjaga.
“Kok lo
belum tidur, Flo? Lagi mikirin apaan
sih?” Tanya Oca dengan mata setengah terbuka.
Flora menoleh
dengan tatapan sedikit terkejut. Gadis itu mengangguk kemudian menoleh lagi
menatap lurus ke depan.
“Tadi ka
Bisma nanya ke gue, dia nanya gimana perasaan gue ke dia. Tapi gue diem, gue ga
jawab. Sampe ka Bisma pergi gitu aja ke dalam tendanya.” Jawab Flora parau.
Oca yang
tadinya merem mau tidak mau melek juga mendengar jawaban temannya itu. “Serius,
Flo? Ka Bisma nanya gitu? Dia ngomong ga kalau dia suka sama elo?”
Flora
menggeleng. “Dia ga ngomong, cuman nyanyiin lagu doang, dan kayaknya sih itu
buat gue. Tapi gue ga yakin juga sih. Gue ga ngerti, gue bingung.”
Oca
menggeleng pelan, hampir tak terlihat. Ia heran mengapa temannya itu masih saja
tak mengerti apa yang selalu disampaikan sang kaka padanya.
“Please
deh Flora ku sayaaang, dia tuh bener-bener suka sama lo. Peka dong, pokoknya
besok gue mau lo ngomong sama dia! Kalau engga, gue sendiri yang bilang itu
sama ka Bisma!”
Flora
menatap aneh Oca yang tampak sangat bersemangat. Namun ia tak menanggapinya,
karena di detik selanjutnya ia merasa matanya semakin berat. Dan akhirnya
tertidur.
***
Belasan bus
pariwisata telah terpakir rapih di dekat perkemahan. Siang ini sedang di adakan
apel terakhir di tempat camping.
Flora tak
benar-benar mengikuti apel dengan benar. Ia terus saja memperhatikan Bisma yang
menurutnya itu agak aneh. Entahlah, rasanya ada yang berbeda dan itu membuat
Flora sedikit gelisah. Buktinya beberapa kali FLora terlambat hormat sehingga
Vero yang berada di belakangnya terpaksa menepuk pundak gadis itu.
Sebagai
Pratama, Ilham kembali memberi hormat kepada pembina pramuka sebagai tanda
bahwa upacara selesai.
Semua regu
bergerak ke arah bus masing-masing. Setelah semuanya naik, bus melaju
meninggalkan perkemahan dan kembali ke SMK Harapan.
***
Flora
merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sudah 2 hari sejak acara kemah
selesai, ia masih saja gelisah karena Bisma.
Drrt..
Drrt.. Drrt..
Ponsel merek terbaru milik Flora bergetar pertanda terdapat panggilan masuk.
Ponsel merek terbaru milik Flora bergetar pertanda terdapat panggilan masuk.
Dengan
malas Flora meraih ponsel yang tergeletak di ranjang kemudian menempelkannya ke
daun telinga setelah melihat nama ‘Oca’ di layar ponsel.
“Hallo..”
“Hallo,
Flo? Lo ada dimana sekarang?” Tanya Oca dengan suara yang sepertinya kelelahan.
FLora
menyerngit kemudian menjawab. “Ya di rumah lah, Ca. Kenapa sih lo nanya gitu?
Emang lo ada dimana sekarang?”
“Lo harus
ke taman sekarang!”
Flora
kembali menyerngit, ada apa dengan sahabatnya ini? “Ada apa sih? Terus taman
mana? Taman kan banyak.”
“Iiih!
Taman yang di kota, taman kota deh pokoknya. Flora! Lo harus kesini sekarang!”
“Iya,
tap-”
Pip.
Telepon terputus begitu saja. Flora menggerutu dengan sikap Oca yang asal
mematikan telepon begitu saja. Namun ia juga bingung mengapa Oca menyuruhnya ke
taman kota dengan panik.
“Dasar,
Oca! Gatau apa ya gue cape banget hari ini!”
Flora
segera bangkit dari ranjangnya kemudian mengganti santainya dengan Blus dengan
corak pita di samping serta Scarf yang dipakai di rambutnya.
Flora segera
meraih tas kecil berisi barang-barang yang menurutnya penting kemudian berlari
menuruni anak tangga.
“Mau
kemana lagi, sayang?” Tanya sang mama yang tiba-tiba saja berdiri di ruang tamu.
“Ada
urusan bentar, mah. Oca tadi nelpon, yaudah deh mah. Pamit yah.” Ujar Flora
seraya mencium telapak tangan mamanya dan berlari keluar rumah.
Setelah sampai
depan rumahnya, secepat mungkin Flora menyetop taksi dna menaikinya.
***
Taksi yang
Flora tumpangi berhenti ketika sampai di taman yang Oca maksud.
“Waa!
Iiih! Oca!” Flora hampir saja terjungkal saat Oca mengagetkannya ketika Flora
selesai membayar ongkos taksi.
Oca
terkekeh. Sesaat kemudian, raut wajahnya berubah menjadi serius. “Flora gue mau
lo jujur sama kaka gue atau lo bakal liat dia sama cewek lain.”
Alis Flora
saling bertautan. Tak mengerti apa yang
Oca katakan. “Apaan sih maksudnya?”
Oca
memutar bola matanya bosan kemudian menarik gadis itu hingga ke sebuah kolam
dengan air mancur di tengah-tengahnya.
Flora
membolakan matanya melihat apa yang ada di depannya saat ini. Dua orang yang
sedang membelakanginya. Mereka tampak begitu akrab dan....mesra.
“I..itu..”
“Ya Flora!
Itu ka Bisma sama ka Kesya. Please, Flo! Lo jujur sama dia. Gue dukung banget
elo sama dia daripada kaka gue jadian sama cewek-cewek ga bener yang ga gue
kenal!” Tutur Oca pelan namun meyakinkan.
Flora tak
menjawab. Ia diam memperhatikan Bisma yang tengah bertingkah (cukup) mesra
dengan Kesya entah wanita mana, yang pasti ia tak mengenalnya.
“Flo! Lo
denger gue ga sih?” Oceh Oca sembari menolehkan kepalanya ke arah Flora. Ia
sedikit terkejut melihat mata sahabatnya yang berkaca-kaca.
Dalam satu
kedipan, pipi Flora telah tercipta sebuah sungai kecil. Ya, Flora menangis. Ia
merasa sakit melihat Bisma yang menyubit hidung Kesya gemas seraya tertawa
riang.
“Sumpah
ini sakit banget, Ca.” Lirih Flora. Oca menghela nafas kemudian menhapus
sebagian air mata gadis disampingnya.
“Makanya
jangan muna sama perasaan sendiri. Tapi lo tenang aja, selama ka Bisma masih
ngejomblo peluang masih terbuka lebar buat el.. Hey! Lo mau kemana?” Teriak Oca
ketika Flora pergi berlari entah kemana.
Suara Oca
yang cukup keras ternyata terdengar sampai ke telinga Bisma. Lelaki itu menoleh
ke segala arah dan menemukan Flora yang berlari entah kemana. Ia juga melirik
Oca yang berdiri di belakangnya tak jauh dari tempat ia berdiri.
Oca
menghadap depan dan bertingkah tak biasa saat sang kakak menatapnya tak biasa.
Oca mengisyaratkan Bisma sesuatu dengan gerakan tangan dan kepalanya.
“Ada apa,
Bis?” Tanya Kesya bingung.
Bisma
menoleh kemudian tersenyum. “Lo pulang duluan gih, gue ada urusan.”
Kesya
mengangguk. “Yaudah deh, urusin urusan lo bener-bener. Gue balik ye, bye Kumang
=p” Selanjutnya Kesya berjalan meninggalkan Bisma yang juga berlari
meninggalkan air mancur.
Oca
bernafas lega juga tersenyum geli melihat raut wajah Kesya yang menampakkan
kebingungan saat menemukan Oca berada di taman yang sama dengan Bisma dan
dirinya.
“Mau ada
drama gratisan nih kaka sepupu.”
***
“Lo dimana
sih Flo?” Bisma menghentikan langkahnya lalu berputar 3600. Bisma kembali berlari menuju danau kecil yang
berada di taman. Ia yakin Flora masih berada taman itu.
Langkah
kaki Bisma terhenti ketika melihat seorang gadis duduk di rerumputan pinggir
danau yang memunggunginya.
Perlahan
Bisma mendekati gadis itu, terdengar sedikit isakkan saat Bisma semakin dekat
dengannya.
“Flo?
Flora?” Panggil Bisma pelan.
Dari
belakang, Bisma dapat melihat gadis tersebut mengusap pipinya dengan tangan. Ia
menoleh sebentar kemudian kembali kembali menghadap depan.
Bisma
tersenyum lega kemudian duduk di sebelah Flora yang malah membuang wajahnya
saat Bisma menatapnya dengan sengaja.
“Kenapa
sih?”
“Gapapa.
Kaka ngapain kesini? Nanti pacarnya marah.” Jawab Flora parau, ia takut jika
suaranya berubah.
“Pacar?
Gue jomblo kok.” Sergah Bisma. “Kok lo sopan banget sih jadi orang, liat sini
kek.” Lanjutnya seraya memegangi dagu Flora agar menghadapnya.
Flora
menepis tangan Bisma kasar kemudian kembali membuang pandangannya. “Kaka mau
apa?”
Bisma
tersenyum kemudian melemparkan kerikil-kerikil kecil ke dalam danau. “Cuma mau
lo jadi pacar gue aja.”
Flora
tersentak kemudian menoleh ke arah Bisma yang juga menatapnya. “Kaka nembak
aku?” Tanyanya tak percaya.
Bisma tertawa
nyaring membuat Flora kesal. “Kak!”
“Haha,
emang kedengerannya gitu ya?”
Flora
bangkit berdiri dengan kesal, ia menganggap bahwa kaka kelasnya ini tak pantas
bercanda disaat-saat seperti ini.
Gadis itu
baru saja melangkah dan terpaksa berhenti ketika Bisma menarik tangannya
sembari berdiri.
“Apaan
lagi ini!” Ketusnya seraya menepis tangan Bisma yang menariknya.
“Gitu aja
marah, jangan ngambek-ngambeklah.” Ujar Bisma santai.
“Kaka kira
ini lucu?! Please, deh Ka. Jangan gini lah! Ga jelas banget tau ga?!” Sentak
Flora keras.
Bisma terkekeh
kemudian diam saat gadis di depannya ini menangis seraya menutupi wajahnya
dengan telapak tangan.
“Hey, lo
kenapa?” Tanya Bisma seraya menundukkan wajahnya agar mampu melihat wajah Flo.
Namun gadis itu masih saja menangis tanpa menjawab pertanyaan kaka kelasnya
ini.
“Flo..
Lo..”
Flora
menampakkan wajahnya kemudian menatap Bisma kesal.
“Harusnya
kaka yang kenapa?! Kenapa kemarin-kemarin kaka ngedeketin hiks..aku? Kenapa kaka
care banget sama aku? Kaka kasih semua perhatian kaka buat aku! Hiks. Kenapa
kak?”
Bisma
diam, ia masih ingin mendengarkan apa yang ingin dikatakan gadis ini.
“Tapi kaka
berubah! Kaka cuek hiks..sama aku! Bahkan kaka ga nampakin senyum kayak biasanya.Terus
aku harus liat kaka yang mesra-mesraan hiks..sama siapa tadi? K..kes..kes.. tau
lah siapa! Pokoknya cewek tadi! Kalau ternyata kaka suka sama cewek lain
harusnya jangan ngasih harapan kosong kayak gini dong, kak! Hiks.. Aku sakit
kak, kalau kayak gitu! Sakit banget, ka..” Flora sedikit lega saat berhasil
mengerluarkan semua uneg-unegnya pada Bisma, meskipun harus ditemani gerlingan
air mata.
Bisma diam
terpaku mendengar apa yang adik kelasnya ini katakan.
“Lo...”
“Hiks.
Oke! Aku ngaku kalau aku suka sama kaka! Tapi kalau tau bakal gini akhirnya,
aku nyesel udah nerima harapan-harapan kaka yang kosong itu!”
Bisma
tersentak, namun itu tak lama karena di detik selanjutnya lelaki itu tersenyum.
“Jadi lo
suka sama gue? Beneran suka?” Tanya Bisma lembut.
“Udah aku
bilang, Kak! Hiks. Please ngertiin.....!” Jawab Flora parau.
“Ssst..”
Bisma menghapus air mata Flora dengan jarinya. “Gaperlu nangis kalau emang
bener. Gue juga ga pernah ngasih harapan kosong kok. Dan mulai sekarang gue mau
lo jadi pacar gue, ya?”
Flora
menepis jari Bisma pelan. “Jangan bercanda!”
“Kali ini
gue serius. Oke, jadi sekarang lo adalah pacar gue.”
Flo diam tak
percaya. Karena Bisma yang sekarang adalah pacarnya? Ya, terlenih lagi saat
pria itu menggenggam kedua tangannya erat.
“Kak..”
“Gapapa
kan ya pacar? Haha.. Udah yuk pulang.”
Flora diam
tak menjawab. Ia bahkan membiarkan Bisma merangkulnya menuju mobilnya.
Ia masih
saja tak menyangka jika Bisma adalah pacarnya sekarang. Seorang lelaki yang
mampu membuatnya menangis dan merasa kehilangan saat sikapnya yang tak semanis
dulu.
Tapi kini
semua kembali berubah. Jiwanya yang sempat hilang kini kembali lagi, bahkan benar-benar kembali ke dalam hatinya.
Jiwa yang mengatakan bahwa ia benar-benar..menyukai dia. Benar-benar
mencintainya...
-END-
***
Huaaaaa, gimana endingnya? Ini cerpen lho, jadi ga bakal ada next chapternya ya :))
Menurut kalian gimana nih jalan ceritanya? Bagus? Enggak? Ditunggu loh kritikannya. Oiya, sarannya juga ya :D
Menurut kalian gimana nih jalan ceritanya? Bagus? Enggak? Ditunggu loh kritikannya. Oiya, sarannya juga ya :D