Jumat, 31 Oktober 2014

My Soul



Haaai Sm*shblast? Apa kabar? Basa-basi banget nih aku-_-
Cerita ini adalah cerita pertama aku yang aku post di blog ini. Masih fresh juga lho dari otakku *dikira ikan apa frash fresh,-
Daripada kalian ngebaca yang diatas, mending baca cerita amatiran aku aja gimana?
Semoga suka ya :))
***
“Flo, lo cape? Kalau lo cape udah sini kaka bantuin aja.” Flora menggeleng saat sang Bisma-sang kaka kelas-berusaha membantunya membawakan beberapa kotak makanan dan minuman.
“Udah gapapa kok, kak. Lagian kalo yang lain tahu, kaka perhatian lebih sama adik kelasnya kan bahaya. Misi ya kak.” Flora tersenyum sekilas kemudian berjalan cepat mendekati teman-temannya yang berada di dalam tenda.
“Udah nih pacarannya? Lo makin akrab aja sama ka Bisma.” Ledek Mitha seraya mencolek dagu Flora saat gadis itu sudah sampai di tendanya.
Gadis manis ini menepisnya pelan lalu menoleh ke belakang, memperhatikan Bisma yang mulai sibuk dengan urusannya sebagai anggota pramuka. Rupanya sekolah Flora, SMK Harapan tengah melaksanakan kegiatan kemah untuk siswa/siswi kelas X-A sampai X-I.
“Gue ga pacaran kali sama ka Bisma, mungkin aja karena gue temen deket adiknya, makanya dia akrab sama gue.” Jawab Flora malas lalu masuk ke dalam tenda yang sudah di bangun.
Tasya dan Mitha saling pandang lalu tersenyum. “Kaka gue tuh suka tau sama lo. Elonya aja ga pernah peka.” Ujar Oca sambil membagikan kotak makanan pada Flora, Mitha, Tasya, Vero, Dian, Sonya, Zarra, serta si kembar Archi dan Azura.
“Sotoy deh lo, Ca.” Ucap Flora sembari membuka tutup kotak. “Gue kan cuman adik kelasnya doang. Udah gitu banyak lagi kaka kelas yang ngedeketin dia, cantik pula. Mana mungkin sih dia ga kepepet.” Lanjutnya sebelum menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
“Ooh, jadi ceritanya elo cemburu.. Ekhem!” Goda Azura lalu berdehem ria sampai akhirnya berhenti ketika Flora mencubit perutnya.
“Awss..sakit kali Flo! Maut banget sih cubitan lo!” Ambek Azura sambil mengelus perutnya sementara yang lain tertawa terbahak-bahak melihat Azura yang kesakitan.
Flora cemberut menatap teman-temannya yang terus saja meledeknya dengan Bisma, kaka kelas yang sedang mendekatinya entah kenapa. “Makanya jangan ledekin gue sama ka Bisma mulu!” Flora beranjak dan keluar dari ten..
“Waa!” Flora terjungkal ke belakang saat Bisma tiba-tiba berdiri di depan tenda kelompok sakura. Bisma terkekeh kemudian membantu Flora berdiri.
“Lo ga papa, Dek?” Tanya Bisma setelah Flora telah berdiri.
“Sakit kali, Kak. Lagian ngapain sih di depan tenda cewek?!” Tanya Flora kesal. Bisma menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu menjawab.
“Ini mau ngasih tau aja. Siapin kelompok lo, Dek. Entar malem bakal ada cari jejak.”
“Jam berapa?” Tanya Flora lagi tanpa menatap wajah kaka kelasnya itu.
“Jam 7-an. Jangan lupa siapin apa aja yang harus di bawa ya.” Perintah Bisma, setelahnya lelaki tampan itu pergi menuju arah kanan, tepat di tenda milik kelompok Mawar. Mungkin ingin memberi tahu soal cari jejak nanti malam.
Flora tak langsung masuk ke dalam tenda, ia justru diam memperhatikan Bisma yang tengah berbincang dengan Delis dan Qila. Tanpa di sadari, bibir Flora terukir senyum manis melihat Bisma yang tertawa sambil menunjukkan deretan pagar giginya.
Namun itu tak lama, Flora gelagapan saat Bisma menoleh padanya dan tersenyum. Dengan cepat gadis itu masuk ke dalam tenda dengan dada yang berdebar.
“Kenapa lo?” Tanya Oca bingung sebelum menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Flora menggeleng lalu meraih sendok di dalam kotak makanan.
“Tadi ka Bisma ya?” Tanya Archi dengan mulut yang penuh dengan makanan. Flora mengangguk seraya mengunyah makanannya
“Kedengeran sih suaranya. Ngapain tuh? Ngapel?” Ledek Zarra kemudian terkekeh saat Flora menggembungkan pipinya.
“Bukan kali, itu tuh ka Bisma ngasih tau aja cari jejak jam 7-an, siapin semuanya jangan lupa.” Jawab Flora cepat, sebelum teman-temannya itu semakin meledeknya.
“Ooh gitu doang. Gue kira mau ngapel tuh kaka kelas.” Kali ini Sonya yang meledek Flora.
“Udah kek lo-lo pada jangan ngeledekin gue mulu! Gue tegesin sekali lagi, gue..sama..ka Bisma..itu..engga..PACARAN!” Tegas Flora lalu menutup kotak makanannya.
“Bukan engga, tapi belum!” Ledek Zarra lagi. Flora meringis lalu menutup telinganya agar tak bisa mendengar ledekan teman-temannya yang menyebalkan.
***
Vero memegangi lehernya takut. Hutan pada malam hari sungguh mengerikan. Regu Sakura, sedang mencari jejak di dalam hutan sesuai dengan panduan peta yang di bawa oleh Tasya.
“Gue merinding nih, buruan nyampe kek.” Eluh Vero seraya mengikuti langkah teman-temannya yang mulai menjauh. Terkadang juga mereka bertemu kelompok lain yang juga ketakutan di tengah hutan.
“Berisik deh lo, ve. Udah ikutin kita aja, ga usah ribet!” Sentak Oca kesal. Yang lain mengangguk setuju namun tidak dengan Flora. Ia sedikit gelisah entah mengapa, Archi yang menyadarinya sengaja bertanya.
“Lo kenapa, Flo? Ngerasa ada yang ga enak?” Tanya Archi pelan. Flora menoleh lalu tersenyum miris.
“Iya nih. Ga enak banget, gue...kebelet.” Jawab Flora lirih sembari menahan kebeletnya.
Archi yang tadinya ketakutan langsung melengos mendengarnya, sementara yang lain malah memandang Flora takut.
“Lo mah kebelet pas eventnya kayak gini, Flo! Mau buang air dimana coba?” Tanya Dian takut.
“Di mana aja deh, tuh ada pohon gue buang air dulu ya. Udah kebelet banget sumpah deh.” Ujar Flora seraya berjalan perlahan menuju pohon besar.
“Lo ga takut apa? Serem tau! Entar aja deh kalau udah nyampe!” Larang Mitha.
“Duuh engga akan kenapa-kenapa. Kalau kalian bosen tinggalin gue aja ga apa. Entar gue nyusul.” Ujar Flora kritis.
“Yaudah deh. Yuk guys, lanjut.” Komando Oca, sebagai ketua regu.
***
Acara cari jejak selesai. Saat ini semua regu bersenang-senang di dekat api unggun yang cukup besar. Mereka ada yang bernyanyi, bermain gitar, menari. Malam ini adalah puncak dari acara camping SMK Harapan, wajar saja bila semuanya bersenang-senang termasuk para anggora pramuka dan guru-guru.
Bisma memetik senar gitar di dekat sebuah pohon yang agak jauh dari api unggun. Ia mencari sesosok wanita yang tidak terlihat sedari tadi.
Tanpa sengaja ia melihat regu Sakura yang sedang berbincang dengan pratama*, Ilham dan beberapa guru pembina di tempat yang tak jauh dari api unggun.
(*ketua pramuka)
Bisma sedikit aneh saat tak menemukan Flora di sekitar regu sakura. Dengan cepat ia bangkit dan berjalan ke arah kerumunan tersebut.
 “Ada apa? Ca, ada apa sih? Terus Flo mana?” Tanya Bisma saat melihat wajah panik adik-adik kelasnya.
“Ini Kak, Flora hilang!” Seru Mitha sambil menenangkan Oca yang menangis.
Mata Bisma membola setelah mendengar seruan Mitha. Dengan cepat raut wajahnya berubah, kemudian bertanya dengan panik. “Kenapa bisa hilang?!”
“Engga tau kak. Tadinya dia izin mau buang air, eh sampe sekarang dia ga balik-balik. Kak! Kami takut Flo kenapa-kenapa..” Jawab Azura parau.
“Udah kalian ten..Bis! Lo mau kemana?!” Ilham berteriak memanggil Bisma yang tiba-tiba saja berlari memasuki hutan, namun Bisma menghiraukan panggilan Ilham itu.
“Ka, Flo gimana ka?” Tanya Archi cemas.
“Udah lo tenang ya. Yang lain juga tenang. Sekarang kalian balik ke tenda. Kaka anter, yuk!” Ajak Ilham.
***
"Ini kesini terus kesini terus...terus..." Flora tak melanjutkan kalimatnya.  "Gak! Gak! Gue gak mungkin ke sesat. Ayo Flo berfikir!" Lanjutnya seraya mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari-jarinya.
"Arrggh! Otak gue mampet!" Flora mengumpat di tengah-tengah pepohonan.
"Gue balik gimana? Lagian gue bego, harusnya gue dengerin Mitha! Liatkan sekarang gue gak tau ini di mana.." Katanya parau

"Ini gimana..” Gumam Flora kecil, perlahan hutan bertambah gelap. Flora berjongkok menelungkupkan kepalanya di dalam lutut.
"Gue takut... Disini gelap banget.. Hiks.." Ucap Flora gemetar, airmatanya sudah terbendung di pelupuk mata.
“Flora!” Samar-samar ia mendengar seseorang yang memanggil namanya, namun ia tak berani menjawab.
“Flo!” Suara samar-samar itu kembali terdengar, namun lebih dekat rasanya.

Srreek srreek. Flora mengangkat kepalanya lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada siapapun disana. Srreek srreek, Flora mencoba memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Tak ada siapapun juga. Jangan-jangan....

Flora membalikan kepalanya ke arah depan. Ada sepasang kaki di sana. "kyaaaa....kyaaaa..h­aaah...aaaaa..mmmmhh­" Flora melotot kaget saat Bisma membungkam mulutnya. Tanpa peduli lagi gadis itu memeluk kaka kelasnya erat.

"Ak..Aku..uu hiks ta..takut..takut gelap, Kak. Hiks.." Flora terisak di pelukan Bisma. Bisma membiarkan adik kelasnya itu memeluknya. “Tenang ya, tenang. Ada gue disini.” Ucap Bisma menenangkan.
Bisma menggenggam tangan kanan Flora erat melewati pepohonan besar itu. Flora berdebar saat Bisma semakin mempererat genggamannya.
Gadis itu tersenyum lega saat dirinya dan sang kaka kelas berhasil sampai ke tempat kemah yang masih ramai dengan kesenangan dan senyuman melihat Flora yang akhirnya ditemukan. Di saat itu juga Bisma melepaskan genggamannya.
Flora menoleh pada Bisma saat lelaki itu merangkulnya menuju tenda. Meskipun ia mendapat tatapan sinis para kaka kelas anggota pramuka yang naksir dengan Bisma, Flora tak mengetahuinya. Ia terlalu nyaman dengan sikap Bisma ini.
Mereka sampai di tenda regu Sakura yang juga terdapat Ilham dan Reza disana. Oca yang melihat Flora telah sampai langsung berdiri dan memeluk sahabatnya erat, sampai-sampai Bisma terpaksa melepas rangkulannya.
Mitha, Tasya, Vero, Dian, Sonya, Zarra, Archi, dan Azura pun ikut berdiri dan memeluk Flora bergantian.
“Lo ga papa kan? Kita semua khawatir sama elo, Flo!” Ujar Dian. Flora mengangguk lalu menghapus air mata yang tersisa dan menoleh pada Bisma.
“Thank’s ya, Kak. Mungkin aku bakal nginep disitu kalau engga ada kaka tadi.” Ucap Flora tulus. Bisma mengangguk lalu tersenyum.
“Makasih ya kakaku yang paling ganteng. Pokoknya thank’s banget ka.” Seru Oca dengan suara parau, efek menangis sesegukkan tadi.
“Gue cuman mau jadi kaka kelas yang bertanggung jawab aja.” Jawab Bisma merendah. Lelaki itu melirik Reza dan Ilham, seperti mengodekan sesuatu.  Tak lama Ilham dan Reza mengangguk.
“Oke deh. Tenangin diri lo dulu ya, Flora. Abis itu gue harap lo gabung sama yang lain. Jangan sia-siain moment api unggun kayak gini.” Pamit Ilham, kemudian pergi bersama Reza dan Bisma setelah menampakkan senyum khas yang membuat Azura salah tingkah, apalagi saat Ilham menatapnya sesaat.
“Ka Ilham.. Makin lopyu deh sama elo, Kak.” Gumam Azura lebay. Sang kembaran, Archi melirik bosan Azura lalu kembali memperhatikan Flora.
“Flo, lo mau di tenda aja atau gabung sama kita-kita di api unggun?” Tanya Archi seraya berjongkok mengikuti Flora dan yang lain.
Flora mengangkat wajahnya kemudian tersenyum lalu menggeleng. “Gue mau nememin ka Bisma aja. Sekalian bilang makasih yang bener-bener makasih sama dia.” Jawab Flora sambil menatap Bisma yang sedang memetik gitar di tempat yang sama, seperti sebelumnya.
“Iya dah tau yang mau pe-de-ka-te-an sama kaka gue, kalau gitu gue sama yang lain ke api unggun ya.” Izin Oca, namun ucapan Oca malah mendapat penolakkan dari Azura yang segera menggelengkan kepalanya.
“Gue ga ikut kalian juga, gue mau nemuin ka Ilham!” Tolak Azura. Dengan segera gadis berambut emas itu berjalan mendekati Ilham yang sedang meminum segelas teh hangat di tendanya.
“Dasar! Kembaran lo tuh, Ar! Hh, yaudah deh. Bye Flo!” Pamit Tasya, Flora mengangguk lalu membiarkan teman-temannya itu bersenang-senang di api unggun
Flora kembali memperhatikan Bisma yang masih saja memetik gitar sambil bernyanyi entah lagu apa, tak begitu terdengar di telinga Flora.
Gadis berambut panjang bergelombang itu mengambil sebuah snack dari dalam tas dan membukanya, lalu berjalan mendekati Bisma seraya mengunyah makanan ringannya.
Semakin dekat, semakin terdengar apa yang Bisma nyanyikan. Hingga akhirnya Flora berdiri tepat di belakang Bisma yang menyanyikan lagu ‘Cinta Dalam Hati - Ungu’ dengan iringan gitar yang begitu indah.
“Ku ingin kau tahu, diriku disini menanti dirimu
Meski kutunggu hingga ujung waktuku
Dan berharap rasa ini kan abadi
Untuk selamanya
Dan izinkan aku memeluk dirimu kali ini saja
Tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
Dan biarkan rasa ini bahagia
Untuk sekejap.. Flora?”
Alis Bisma saling bertautan saat Flora tiba-tiba saja duduk di sebelahnya sambil tersenyum manis. “Kenapa berhenti? Lanjutin aja, Kak. Bagus kok.”
Bisma terdiam sesaat sebelum akhirnya tersenyum sembaru memeluk gitarnya. “Lo ngapain disini? Ga ikut seneng-seneng di api unggun?” Tanya Bisma.
Flora menggeleng lalu menatap lurus ke depan. “Kaka sendiri kenapa ga gabung sama yang lain?” Tanya Flora tanpa menjawab pertanyaan Bisma.
Bisma menghela nafas menikmati udara bukit yang sejuk pada malam hari. “Gue sih lebih suka sendiri. Tapi kalau lo mau nemenin juga ga papa.”
Flora terkekeh kemudian mengambil batu-batu kecil dan melemparnya ke sembarang arah. “Sendiri di bilang suka? Ga ada niat nyari pacar gitu, Kak? Banyak loh yang ngantri.” Canda Flora.
Bisma menggeleng pelan, hampir tak terlihat kemudian menoleh menatap wajah Flora dari samping.
“Sebenarnya sih sendiri emang ga enak. Yang ngantri emang banyak, tapi orang yang disuka ga peka-peka. Pasrah aja lah.” Jawab Bisma lirih, terdengar seperti nada pesakitan.
Flora menoleh dan terhenyak saat Bisma terus saja menatapnya dengan bola mata coklat indahnya, bahkan tatapan Bisma sampai menebus mata biru Flora. Menguncinya sampai gadis itu tak bisa berpaling.
‘Ini kenapa..’
Flora segera membuang pandangannya ke arah lain. Hatinya berdebar sepeti dentuman drum yang sangat keras.
“Siapa?” Tanya Flora setelah sekian lamanya diam. Bisma menolah seraya menautkan alisnya.
“Siapa apa? Maksudnya?”
“Yang kaka suka itu siapa?” Tanya Flora pelan, masih membuang pandangannya. Masih tak ingin menatap Bisma yang selalu menampakkan karismanya.
Bisma terkekeh pelan lalu menghela nafas berat. “Sebenarnya sih gue suka sama seorang cewek. Dia manis, matanya itu gue lebih suka. Dia itu cewek yang sangat gue khawatirin pas mendadak hilang.” Tutur Bisma lirih.
Flora tersentak mendengar penuturan sang kaka kelas. Ia melirik Bisma sekilas kemudian kembali menghadap depan sembari mengunyah snacknya.
Bisma kembali memetik senar gitarnya dan bernyanyi seraya menatap adik kelas di sampingnya teduh.
“Aku sungguh sangat bermimpi
Untuk mendampingi hatimu
Ku masih terus bermimpi
Sangat besar harapanku
Tuk hidup berdua”
Flora menoleh dan terkejut saat Bisma bernyanyi sembari menatapnya lagi. Perasaannya tak karuan. Ia sangat merasa jika lagu itu....untuknya. Benar untuk Flo?
“Denganmu, aku sempurna
Denganmu, ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan, jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat, aku terpukau”
Bisma menyudahi lagunya kemudian tersenyum masih dengan menatap Flora teduh.
“Ini maksudnya apa sih, Kak?” Tanya Flora bingung. Bisma diam, ia menundukkan kepalanya. Masih diam, tak menjawab pertanyaan Flora yang membutuhkan kepastian.
“Hh, bener ga sih kalau lo ga suka sama gue? Kayak apa yang lo bilang ke temen-temen lo itu.” Tanya Bisma tanpa membuang pandangannya.
“Kak...”
“Gapapa jujur aja, gue mau tau.” Pinta Bisma pelan seraya menatap Flora lagi.
Flora diam tak berani menatap mata kaka kelasnya ini. Ia hanya takut, semua rasanya terungkap.
“Gapapa kok kalau jawabannya emang bener. Yaudah deh, gue mau balik ke tenda dulu. Bye.” Bisma bangkit kemudian berjalan menuju tendanya.
Sementara Flora menatap tak rela Bisma yang pergi. Gadis itu menghembuskan nafas berat, dan ikut pergi dari tempat itu. Ia ingin kembali ke tendanya. Ingin berfikir apa yang harus di lakukannya saat nanti Bisma mungkin akan bertanya hal itu kembali, mungkin.
***
Malam semakin larut, acara api unggun telah selesai. Semua regu telah berkumpul di dalam tenda masing-masing untuk tidur. Namun tidak dengan Flo. Sampai detik ini ia masih saja memikirkan Bisma.
Oca membuka kelopak matanya, ia sedikit menggeliat dan akhirnya mengubah posisinya menjadi duduk seraya memperhatikan sahabatnya yang masih saja terjaga.
“Kok lo belum tidur, Flo?  Lagi mikirin apaan sih?” Tanya Oca dengan mata setengah terbuka.
Flora menoleh dengan tatapan sedikit terkejut. Gadis itu mengangguk kemudian menoleh lagi menatap lurus ke depan.
“Tadi ka Bisma nanya ke gue, dia nanya gimana perasaan gue ke dia. Tapi gue diem, gue ga jawab. Sampe ka Bisma pergi gitu aja ke dalam tendanya.” Jawab Flora parau.
Oca yang tadinya merem mau tidak mau melek juga mendengar jawaban temannya itu. “Serius, Flo? Ka Bisma nanya gitu? Dia ngomong ga kalau dia suka sama elo?”
Flora menggeleng. “Dia ga ngomong, cuman nyanyiin lagu doang, dan kayaknya sih itu buat gue. Tapi gue ga yakin juga sih. Gue ga ngerti, gue bingung.”
Oca menggeleng pelan, hampir tak terlihat. Ia heran mengapa temannya itu masih saja tak mengerti apa yang selalu disampaikan sang kaka padanya.
“Please deh Flora ku sayaaang, dia tuh bener-bener suka sama lo. Peka dong, pokoknya besok gue mau lo ngomong sama dia! Kalau engga, gue sendiri yang bilang itu sama ka Bisma!”
Flora menatap aneh Oca yang tampak sangat bersemangat. Namun ia tak menanggapinya, karena di detik selanjutnya ia merasa matanya semakin berat. Dan akhirnya tertidur.
***
Belasan bus pariwisata telah terpakir rapih di dekat perkemahan. Siang ini sedang di adakan apel terakhir di tempat camping.
Flora tak benar-benar mengikuti apel dengan benar. Ia terus saja memperhatikan Bisma yang menurutnya itu agak aneh. Entahlah, rasanya ada yang berbeda dan itu membuat Flora sedikit gelisah. Buktinya beberapa kali FLora terlambat hormat sehingga Vero yang berada di belakangnya terpaksa menepuk pundak gadis itu.
Sebagai Pratama, Ilham kembali memberi hormat kepada pembina pramuka sebagai tanda bahwa upacara selesai.
Semua regu bergerak ke arah bus masing-masing. Setelah semuanya naik, bus melaju meninggalkan perkemahan dan kembali ke SMK Harapan.
***
Flora merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sudah 2 hari sejak acara kemah selesai, ia masih saja gelisah karena Bisma.
Drrt.. Drrt.. Drrt..
Ponsel merek terbaru milik Flora bergetar pertanda terdapat panggilan masuk.
Dengan malas Flora meraih ponsel yang tergeletak di ranjang kemudian menempelkannya ke daun telinga setelah melihat nama ‘Oca’ di layar ponsel.
“Hallo..”
“Hallo, Flo? Lo ada dimana sekarang?” Tanya Oca dengan suara yang sepertinya kelelahan.
FLora menyerngit kemudian menjawab. “Ya di rumah lah, Ca. Kenapa sih lo nanya gitu? Emang lo ada dimana sekarang?”
“Lo harus ke taman sekarang!”
Flora kembali menyerngit, ada apa dengan sahabatnya ini? “Ada apa sih? Terus taman mana? Taman kan banyak.”
“Iiih! Taman yang di kota, taman kota deh pokoknya. Flora! Lo harus kesini sekarang!”
“Iya, tap-”
Pip. Telepon terputus begitu saja. Flora menggerutu dengan sikap Oca yang asal mematikan telepon begitu saja. Namun ia juga bingung mengapa Oca menyuruhnya ke taman kota dengan panik.
“Dasar, Oca! Gatau apa ya gue cape banget hari ini!”
Flora segera bangkit dari ranjangnya kemudian mengganti santainya dengan Blus dengan corak pita di samping serta Scarf yang dipakai di rambutnya.
Flora segera meraih tas kecil berisi barang-barang yang menurutnya penting kemudian berlari menuruni anak tangga.
“Mau kemana lagi, sayang?” Tanya sang mama yang tiba-tiba saja berdiri di ruang tamu.
“Ada urusan bentar, mah. Oca tadi nelpon, yaudah deh mah. Pamit yah.” Ujar Flora seraya mencium telapak tangan mamanya dan berlari keluar rumah.
Setelah sampai depan rumahnya, secepat mungkin Flora menyetop taksi dna menaikinya.
***
Taksi yang Flora tumpangi berhenti ketika sampai di taman yang Oca maksud.
“Waa! Iiih! Oca!” Flora hampir saja terjungkal saat Oca mengagetkannya ketika Flora selesai membayar ongkos taksi.
Oca terkekeh. Sesaat kemudian, raut wajahnya berubah menjadi serius. “Flora gue mau lo jujur sama kaka gue atau lo bakal liat dia sama cewek lain.”
Alis Flora saling bertautan. Tak mengerti apa  yang Oca katakan. “Apaan sih maksudnya?”
Oca memutar bola matanya bosan kemudian menarik gadis itu hingga ke sebuah kolam dengan air mancur di tengah-tengahnya.
Flora membolakan matanya melihat apa yang ada di depannya saat ini. Dua orang yang sedang membelakanginya. Mereka tampak begitu akrab dan....mesra.
“I..itu..”
“Ya Flora! Itu ka Bisma sama ka Kesya. Please, Flo! Lo jujur sama dia. Gue dukung banget elo sama dia daripada kaka gue jadian sama cewek-cewek ga bener yang ga gue kenal!” Tutur Oca pelan namun meyakinkan.
Flora tak menjawab. Ia diam memperhatikan Bisma yang tengah bertingkah (cukup) mesra dengan Kesya entah wanita mana, yang pasti ia tak mengenalnya.
“Flo! Lo denger gue ga sih?” Oceh Oca sembari menolehkan kepalanya ke arah Flora. Ia sedikit terkejut melihat mata sahabatnya yang berkaca-kaca.
Dalam satu kedipan, pipi Flora telah tercipta sebuah sungai kecil. Ya, Flora menangis. Ia merasa sakit melihat Bisma yang menyubit hidung Kesya gemas seraya tertawa riang.
“Sumpah ini sakit banget, Ca.” Lirih Flora. Oca menghela nafas kemudian menhapus sebagian air mata gadis disampingnya.
“Makanya jangan muna sama perasaan sendiri. Tapi lo tenang aja, selama ka Bisma masih ngejomblo peluang masih terbuka lebar buat el.. Hey! Lo mau kemana?” Teriak Oca ketika Flora pergi berlari entah kemana.
Suara Oca yang cukup keras ternyata terdengar sampai ke telinga Bisma. Lelaki itu menoleh ke segala arah dan menemukan Flora yang berlari entah kemana. Ia juga melirik Oca yang berdiri di belakangnya tak jauh dari tempat ia berdiri.
Oca menghadap depan dan bertingkah tak biasa saat sang kakak menatapnya tak biasa. Oca mengisyaratkan Bisma sesuatu dengan gerakan tangan dan kepalanya.
“Ada apa, Bis?” Tanya Kesya bingung.
Bisma menoleh kemudian tersenyum. “Lo pulang duluan gih, gue ada urusan.”
Kesya mengangguk. “Yaudah deh, urusin urusan lo bener-bener. Gue balik ye, bye Kumang =p” Selanjutnya Kesya berjalan meninggalkan Bisma yang juga berlari meninggalkan air mancur.
Oca bernafas lega juga tersenyum geli melihat raut wajah Kesya yang menampakkan kebingungan saat menemukan Oca berada di taman yang sama dengan Bisma dan dirinya.
“Mau ada drama gratisan nih kaka sepupu.”
***
“Lo dimana sih Flo?” Bisma menghentikan langkahnya lalu berputar 3600.  Bisma kembali berlari menuju danau kecil yang berada di taman. Ia yakin Flora masih berada taman itu.
Langkah kaki Bisma terhenti ketika melihat seorang gadis duduk di rerumputan pinggir danau yang memunggunginya.
Perlahan Bisma mendekati gadis itu, terdengar sedikit isakkan saat Bisma semakin dekat dengannya.
“Flo? Flora?” Panggil Bisma pelan.
Dari belakang, Bisma dapat melihat gadis tersebut mengusap pipinya dengan tangan. Ia menoleh sebentar kemudian kembali kembali menghadap depan.
Bisma tersenyum lega kemudian duduk di sebelah Flora yang malah membuang wajahnya saat Bisma menatapnya dengan sengaja.
“Kenapa sih?”
“Gapapa. Kaka ngapain kesini? Nanti pacarnya marah.” Jawab Flora parau, ia takut jika suaranya berubah.
“Pacar? Gue jomblo kok.” Sergah Bisma. “Kok lo sopan banget sih jadi orang, liat sini kek.” Lanjutnya seraya memegangi dagu Flora agar menghadapnya.
Flora menepis tangan Bisma kasar kemudian kembali membuang pandangannya. “Kaka mau apa?”
Bisma tersenyum kemudian melemparkan kerikil-kerikil kecil ke dalam danau. “Cuma mau lo jadi pacar gue aja.”
Flora tersentak kemudian menoleh ke arah Bisma yang juga menatapnya. “Kaka nembak aku?” Tanyanya tak percaya.
Bisma tertawa nyaring membuat Flora kesal. “Kak!”
“Haha, emang kedengerannya gitu ya?”
Flora bangkit berdiri dengan kesal, ia menganggap bahwa kaka kelasnya ini tak pantas bercanda disaat-saat seperti ini.
Gadis itu baru saja melangkah dan terpaksa berhenti ketika Bisma menarik tangannya sembari berdiri.
“Apaan lagi ini!” Ketusnya seraya menepis tangan Bisma yang menariknya.
“Gitu aja marah, jangan ngambek-ngambeklah.” Ujar Bisma santai.
“Kaka kira ini lucu?! Please, deh Ka. Jangan gini lah! Ga jelas banget tau ga?!” Sentak Flora keras.
Bisma terkekeh kemudian diam saat gadis di depannya ini menangis seraya menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
“Hey, lo kenapa?” Tanya Bisma seraya menundukkan wajahnya agar mampu melihat wajah Flo. Namun gadis itu masih saja menangis tanpa menjawab pertanyaan kaka kelasnya ini.
“Flo.. Lo..”
Flora menampakkan wajahnya kemudian menatap Bisma kesal.
“Harusnya kaka yang kenapa?! Kenapa kemarin-kemarin kaka ngedeketin hiks..aku? Kenapa kaka care banget sama aku? Kaka kasih semua perhatian kaka buat aku! Hiks. Kenapa kak?”
Bisma diam, ia masih ingin mendengarkan apa yang ingin dikatakan gadis ini.
“Tapi kaka berubah! Kaka cuek hiks..sama aku! Bahkan kaka ga nampakin senyum kayak biasanya.Terus aku harus liat kaka yang mesra-mesraan hiks..sama siapa tadi? K..kes..kes.. tau lah siapa! Pokoknya cewek tadi! Kalau ternyata kaka suka sama cewek lain harusnya jangan ngasih harapan kosong kayak gini dong, kak! Hiks.. Aku sakit kak, kalau kayak gitu! Sakit banget, ka..” Flora sedikit lega saat berhasil mengerluarkan semua uneg-unegnya pada Bisma, meskipun harus ditemani gerlingan air mata.
Bisma diam terpaku mendengar apa yang adik kelasnya ini katakan.
“Lo...”
“Hiks. Oke! Aku ngaku kalau aku suka sama kaka! Tapi kalau tau bakal gini akhirnya, aku nyesel udah nerima harapan-harapan kaka yang kosong itu!”
Bisma tersentak, namun itu tak lama karena di detik selanjutnya lelaki itu tersenyum.
“Jadi lo suka sama gue? Beneran suka?” Tanya Bisma lembut.
“Udah aku bilang, Kak! Hiks. Please ngertiin.....!” Jawab Flora parau.
“Ssst..” Bisma menghapus air mata Flora dengan jarinya. “Gaperlu nangis kalau emang bener. Gue juga ga pernah ngasih harapan kosong kok. Dan mulai sekarang gue mau lo jadi pacar gue, ya?”
Flora menepis jari Bisma pelan. “Jangan bercanda!”
“Kali ini gue serius. Oke, jadi sekarang lo adalah pacar gue.”
Flo diam tak percaya. Karena Bisma yang sekarang adalah pacarnya? Ya, terlenih lagi saat pria itu menggenggam kedua tangannya erat.
“Kak..”
“Gapapa kan ya pacar? Haha.. Udah yuk pulang.”
Flora diam tak menjawab. Ia bahkan membiarkan Bisma merangkulnya menuju mobilnya.
Ia masih saja tak menyangka jika Bisma adalah pacarnya sekarang. Seorang lelaki yang mampu membuatnya menangis dan merasa kehilangan saat sikapnya yang tak semanis dulu.
Tapi kini semua kembali berubah. Jiwanya yang sempat hilang kini kembali lagi,  bahkan benar-benar kembali ke dalam hatinya. Jiwa yang mengatakan bahwa ia benar-benar..menyukai dia. Benar-benar mencintainya...
-END-
***
Huaaaaa, gimana endingnya? Ini cerpen lho, jadi ga bakal ada next chapternya ya :))
Menurut kalian gimana nih jalan ceritanya? Bagus? Enggak? Ditunggu loh kritikannya. Oiya, sarannya juga ya :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar