Rabu, 19 November 2014

Crazy Boy In My Life - Part 5



Tittle
Crazy Boy In My Life
Part
Part 5
Previous Part
Part 1, Part 2, Part 3, Part 4
Cast
Aprilia Fabel Pangestu
Bisma Karisma
Azarra Berlian Putri
Reza Anugrah
Ilham Fauzi
Rafael Tan
Genre
Baca aja dulu =))
***
Holaaaa! Part 5 come in hereeeee! Sebenernya sih iseng aja buat ginian. Sekedar nyalurin hobby ngetik-ngetik cerita kek gini. Jadi, maaf ya buat gaje, typo,atau ga menarik.
Oke, selamat membaca. Semoga suka ya ;)
***
Aril mendongak ke latas langit yang mulai mendung, dan segera berjalan ke pinggir sekolahnya. Padahal ada halte yang bisa ia pakai untuk menunggu taksi halte tapi tentu saja ia harus repot-repot untuk menyebrangi jalanan.
Aril terduduk di kursi yang berada di dekat gerbang yang sangat sepi seraya menunggu taksi yang nantinya akan membawanya pulang. Namun hingga beberapa menit kemudian tak ada satupun taksi yang berhenti. Semuanya penuh.
Gadis itu melirik jam tangan eksklusif bermotifkan menara eiffel itu. Pukul 14.55. Aril berdecak kesal seraya bangkit dan menoleh ke kanan dan kiri berharap ada taksi yang tidak berpenumpang.
Namun masih saja tak ada taksi yang lewat, padahal langit semakin gelap. Aril masih berdiri di tempatnya menunggu taksi.
Namun, tiba-tiba saja hujan turun membahasi bumi. Aril tentu saja gelagapan mencari tempat berteduh karena memang tak ada tempat berteduh. Kini sebagian bajunya sudah basah karena hujan yang mulai deras itu.
“Duuuh! Basah kan gue!” Gumam Aril kesal seraya menutupi kepalanya dengan ransel. Ia tau perlu risau karena ranselnya dilengkapi dengan jas hujan khusus ransel. Namun tetap saja, tubuhnya semakin basah karena ia benar-benar tak bisa berteduh sama sekali.
Namun tiba-tiba saja hujan sudah tak membasahi tubuhnya, padahal diluar sana hujan masih mengguyur dengan deras. Aril mendongak ia melihat sebuah payung melindugi dirinya.
Dengan gerakan slow motion gadis itu menoleh pada seseorang yang telah menjadi penyelamatnya hari itu. Dan tampak raut wajah Aril berubah 3600
“Elo...”
“Ngapain lo mayungin gue?!” Sentak Aril ketus. Bagaimana tidak? Seseorang yang memayunginya adalah robot gila itu! Eh, maksudnya si Bisma itu.
“Kenapa? Lo mau basah disini dan sakit?” Bukannya menjawab pertanyaan Aril, Bisma malah bertanya pertanyaan yang membuat Aril naik pitam.
Seharusnya cowok itu tau jawabannya, dan tak perlu bertanya dengan pertanyaan bodoh seperti itu. Apalagi nada bertanyanya itu sangat datar. Apa-apain sih cowok itu?!
“Gue ga butuh bantuan lo!” Desis Aril. Matanya menatap sinis Bisma yang juga menatapnya dengan datar. Aril mendengus dengan keras lalu berjalan menghindari payung Bisma.
Kini tubuhnya kembali basah karena hujan. Padahal kepalanya sudah mulai pusing karena diguyur hujan sampai beberapa menit sebelumnya.
“Lo niat banget nyiksa diri lo sendiri.” Bisma berteriak agar bisa terdengar ke telinga Aril. Hujan membuat suaranya ikut lebur bersama jatuhnya jutaan rintik air ke bumi.
Aril yang mendengarnya menoleh sekilas lalu kembali terdiam. Hujan benar-benar membuat kepala Aril sedikit pening. Di tambah lagi tubuhnya yang semakin melemas. Hari ini ia hanya makan pagi tadi, dan saat istirahat ia sama sekali tak makan apapun.
Alasannya? Karena sang orangtua hanya memberikan ATM Cards, sementara untuk uang jajan, Vero dan Gilang tidak memberikannya sama sekali. Dan betapa bodohnya Aril yang lupa meminta hal penting itu.
“Yakin lo gamau gue payungin? Gue mau pergi nih.”
Aril menoleh kepada Bisma. Cowok itu masih berdiri di tempatnya berdiri sebelumnya, namun Bisma sudah mengambil ancang-ancang untuk berjalan ke motornya yang terpakir dengan jarak kurang lebih 5 meter di sebelahnya.
Aril berfikir sebelum Bisma benar-benar meninggalkannya. Setidaknya ia bisa meminjam Bisma dan payungnya hingga hujan berhenti bukan? Tapi.... aah! Aril benar-benar gengsi jika harus meminta tolong pada robot itu.
Bisma masih memandangi gadis yang berdiri tak jauh darinya. Gadis yang kehujanan dan enggan meminta pertolongan. Bisma menggeleng pelan seraya berjalan ke arah motornya.
“Oke. Gue butuh payung lo. Elonya juga.” Ucap Aril akhirnya setelah berperang dengan batinnya sendiri. Melawan gengsi itu benar-benar sulit. Dan Aril yakin, di dalam hati Bisma pasti cowok itu sedang tersenyum puas dan menertawakan Aril sekencang-kencangnya.
Bisma memiringkan senyumnya kemudian berjalan mendekati Aril yang sedang kedinginan. Setelah sampai, tangan Bisma tergerak untuk memayungi gadis itu agar tidak kehujanan lagi.
Aril menoleh saat Bisma sudah berada disampingnya. Aril menatap wajah Bisma yang juga menatap ke arahnya dengan wajah flatnya itu. Di detik selanjutnya Aril menggeser sedikit tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan Bisma. Bagaimana pun juga, Aril itu haters Bisma nomer 1. Apa kata dunia kalau tau mereka berduaan di bawah hujan?
Dan kini jarak antara mereka berdua sudah tak terlalu dekat. Bisma yang menyadari itu dengan sengaja merengkuh pinggang Aril membuat gadis itu sedikit tersentak dan secepat mungkin menepis tangan Bisma yang melingkar di pinggangnya.
“Ga usah nyuri kesempatan dalam kesempitan deh lo! Dasar gila!” Sentak Aril sambil menunjuk-nunjuk wajah tampan Bisma dengan jari telunjuknya.
Bisma menampakkan evil smilenya. Memperlihatkan bahwa apa yang dilakukannya adalah kesengajaan. Aril menyipitkan matanya berusaha memberi tatapan sinis kepada Bisma.
“Anggep aja rasa terima kasih lo buat gue.” Gumam Bisma. Gumaman yang masih terdengar jelas di telinga Aril. Sontak Aril menoleh dan bersiap untuk meninju bahu Bisma.
Tangan gadis itu mengepal dan terangkat ke atas. Dan di detik selanjutnya, tangan Aril mulai tergerak untuk menyentuh bahu Bisma. Namun sangat tidak sesuai rencana. Tubuhnya tiba-tiba saja melemas.
Aril terjatuh di dada Bisma sehingga payung yang Bisma pegang terlepas begitu saja. Sekarang baju seragamnya ikut basah terkena air hujan. Namun sepertinya Bisma tidak perduli. Wajahnya yang biasanya selalu datar kini menunjukkan raut kecemasan. Bisma membantu Aril untuk berdiri lagi.
“Hei! Lo kenapa? Aril?!” Panggil Bisma seraya merengkuh pinggang Aril agar tidak jatuh kembali. Tangan kanan Aril di selipkan dibelakang lehernya.
Aril menggeleng lalu berusaha melepas rengkuhan Bisma. Namun kekuatannya yang melemah membuatnya begitu pasrah. Bisma menoleh ke jalan raya dan menyetop taksi yang sedang berjalan.
Bisma memasukkan Aril ke dalam taksi yang sangat kebetulan memang sedang kosong. Cowok itu sedikit berlari ke arah motornya. Mencabut kunci motor yang masih terpasang dan segera berlari masuk ke dalam taksi.
***
“Heh! Lo pasti mau nemuin Archi ya?”
Ilham menghentikan langkahnya mendengar pertanyaan Reza sore ini. Ia membalikkan badannya, dan mendapati sang sepupu yang sudah berdiri di hadapannya.
“Apa sih lo? Kepo amat, Za.” Jawab Ilham malas lalu kembali membalikkan badannya menuju pintu utama. Reza mendengus kesal lalu mengikuti Ilham dari belakang.
“Sebenernya lo ada apa sih sama Archi?” Tanya Reza lagi saat keduanya sudah sampai di teras rumah bergaya minimalis itu. Kali ini Ilham mengepalkan telapak tangannya lalu berbalik dengan kesal menghadap Reza.
“Udah kek lo jangan neror gue mulu! Gue cuma mau ketemuan. Bukan ngajak tu cewek dinner!” Jawab Ilham. Tangannya masih mengepal berusaha menahan amarahnya. Pasalnya, Dari di sekolah tadi hingga saat ini Reza masih saja menerornya dengan berbagai pertanyaan yang menyangkut soal Archi.
Reza menggelengkan kepalanya kemudian mengangkat tangan kananya tingi-tinggi. Menunjukkan sebuah benda yang mampu membuat mata Ilham membola sempurna.
“Lo ga akan bisa pergi tanpa ini, Ilham ku sayang.” Reza mencoba menjauhkan kunci motor yang digenggamnya dari Ilham saat sepupunya itu berusaha meraih kunci motornya sendiri.
“Siniin kunci motor gue, Za!” Ilham masih berusaha memutari tubuh Reza agar bisa mendapatkan kunci motor kesayangannya. Tapi lihatlah Reza. Pria itu malah tertawa melihat kebingungan Ilham. Sungguh tidak berperikemanusiaan -_-
Reza melongo menatap langit yang mulai berawan. Pria itu tersenyum lalu berdehem dan memberikan kunci motor Ilham secara cuma-cuma.
Ilham menerimanya dengan perasaan aneh. Ada apa dengan sepupunya itu?
“Pergi deh lo sana. Mau tau gue, nyampe mana perjalanan lo buat ke cafe-nya Archi.” Ujar Reza seolah dapat membaca pertanyaan yang tercetak jelas di raut wajah Ilham. Dan kali ini Ilham mengkerutkan keningnya bingung.
“Aneh lo, Za!” Ilham mengeraskan suaranya melihat Reza tersenyum-senyum saat masuk ke dalam rumah yang hanya mereka tempati berdua.
Ilham menggeleng melihat sikap aneh sepupunya itu. Tadi malam bukankah Reza melarangnya bertemu dengan Archi? Kenapa sekarang pria nge-bass itu mengizinkannya begitu saja?
Ilham mengusap wajahnya lalu mulai melangkah ke luar rumah. Namun baru dua langkah, hujan deras turun dan membuat jaket Ilham sedikit basah. Ilham bergegas kembali ke teras rumah seraya mengusap jaketnya yang basah.
“Sial! Rezaaaa!”
***
“Jadi..kita mau kemana mas?”
Bisma menggaruk tengkuknya yang tak gatal seraya berdehem. Sudah tiga kali sang supir bertanya dan ia masih saja tak menjawab. Bukan karena ia tak bisa berbicara, tetapi karena pria itu memang tidak tahu akan kemana.
“Sebentar ya pak.” Ucap Bisma pelan lalu menoleh dan mendekatkan diri ke gadis yang sedang pingsan beberapa detik lalu.
Bisma menepuk-nepuk pelan pipi Aril yang cukup panas. Ternyata tepukan itu membuat Aril sedikit menggeliat, sepertinya gadis itu sedang mengigau.
“Ril, rumah lo itu...dimana sih?” Tanya Bisma pelan. Seharusnya Bisma tau bukan bahwa Aril sedang tak sadarkan diri? Kenapa pria itu malah bertanya? Tapi inilah keajaiban. Aril menjawabnya dengan gumaman. Masih terdengar meski hujan yang mengguyur kota Jakarta cukup deras.
***
Jakarta, 20.55
“Ku mohon berhentilah melihat ke depan. Lihatlah aku sekali saja. Aku yang selalu disampingmu, bahkan saat kau tak menyadarinya.”
Rafael tersenyum puas melihat tulisannya di sebuah kertas berwarna merah muda dengan gambar lambang cinta di bawahnya. Pria berwajah chinesse itu melipat kertas tersebut lalu memasukkannya ke dalam amplop yang ia beli di Kopsis siang tadi.
“Nice, Rafael Tan. Semoga aja gadis itu bisa mengetahui siapa pengirim surat ini.” Gumam Rafael pada dirinya sendiri. Ia kembali tersenyum menatap amplop berisi surat cinta yang akan ia kirim pada sang pujaan hati besok.
Pria itu menyelipkan amplop tersebut ke dalam ranselnya, kemudian berjalan dengan semangat ke ranjang. Ia yakin kali ini mimpinya akan sangat indah, seindah apa yang ia harapkan esok hari.
***
-Aril POV’s-
Aku membuka mataku yang terasa sangat berat. Ku kerjapkan beberapa kali sampai akhirnya aku bisa melihat dimana aku sekarang.
Kamar. Ya, aku begitu yakin ini adalah kamarku. Dengan sangat lemas, aku bangun dan mencoba duduk di tepi ranjang. Sesaat kemudian aku tersadar dan langsung menunduk.
Kini aku mengenakan baju tidur panjang dengan gambar boneka teddy bear berwarna pink. Seingatku, aku masih memakai baju seragam sekolah dan...
DEG!
Aku mulai beranjak dan sedikit berlari untuk membuka pintu kamarku. Dan aku tak menemukan siapapun di luar kamarku. Tentu saja! Memoriku terputar dimana orangtuaku pergi meninggalkanku di depan gerbang sekolah.
Aku menghela nafas panjang, kemudian berjalan menuruni tangga untuk ke arah dapur. Membuka pintu kulkas dan meraih botol air dingin dan menuangkannya ke dalam gelas yang berada di meja makan.
Aku benar-benar merasa haus ketika mengingat Bisma  yang mendorongku masuk ke dalam taksi. Dan untuk selanjutnya, aku tak bisa mengingat apapun. Sepertinya aku terkena amnesia ringan atau apalah itu namanya,-
“Non Aril?” Aku menoleh pada seseorang yang memanggilku tadi. Ku letakkan gelas tadi di atas meja dan mendekati wanita berusia 20 ke atas itu menatapku cemas.
“Mba mau kemana?” Tanyaku bingung. Bagaimana tidak? Aku lihat tas-tas mengelilinginya, memangnya Mba Yayu itu mau kemana? Pindahan? Memangnya ia mempunyai rumah di Jakarta?
“Ibu Mba di kampung sakit, non.” Akunya dengan raut wajah cemas. Aku memasang wajah prihatin dan mengangguk mengerti seraya mengelus bahu Mba Yayu lembut. Dia itu pembantu rumah tangga yang sudah ku anggap sebagai saudara sendiri. Selain karena umurnya yang tak terlalu jauh denganku, juga karena kegaulannya yang tidak bisa diremehkan.
“Yaudah, Mba jagain ibunya Mba ya. Sampai sembuh, Mba. Aku izinin kok.” Ucapku tulus. Mba Yayu mengangguk dengan menahan isakannya. Aku mengerti pasti ia sangat khawatir dengan ibunya yang berada di Bumi Ayu.
“Makasih, non. Mba berangkat malam ini.” Ujarnya seraya mengangkat kedua tas besarnya itu.
“Iya. Aku bisa kok sendirian di sini.”
Mba Yayu mengerutkan keningnya lalu menepuk jidatnya pelan. Aku menaikkan satu alisku. Memangnya ada yang aneh dengan perkataanku tadi?
“Non, itu cowok yang bakal nginep disini sudah dateng. Dia sekarang tidur di kamar sebelah kamarnya, non Aril.” Jawabnya sesegukkan. Efek menangis, suaranya jadi sedikit parau.
Aku membolakan mataku mendengar perkataannya. Kalian tau apa? Cowok! Jadi yang akan menemaniku sampai Papa dan Mama pulang itu seorang cowok? Gila!
Tanpa permisi aku berlari dan menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa. Ku lihat pintu kamar yang disebelah kamarku itu tertutup rapat-rapat. Perasaanku sungguh tidak enak.
Tanganku mengepal dan mulai terangkat untuk mengetuk pintu yang terbuat dari kayu tersebut. Namun semua itu aku batalkan karena perasaan gugup menyerangku secara mendadak.
Aku mendesah pelan kemudian memberanikan diri mengetuk kamar pria itu. Ternyata tanpa menunggu lama, aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat dan suara kunci yang terputar.
Dan di detik selanjutnya, aku terpana saat pria itu membuka kamarnya dan menampakkan sosok yang cukup ku kenali. Dengan segala keterkagetanku ini, aku bertanya.
“Kok..kok lo ada disini?”
-To Be Continued-
“Gue tinggal disini sekarang.”
-
“Bangun woy! (Tok! Tok! Tok!)”
-
“Terus lo pikir kita telat itu gara-gara siapa?”

Sabtu, 15 November 2014

Crazy Boy In My Life - Part 4



Tittle
Crazy Boy In My Life
Part
Part 4
Previous Part
Part 1, Part 2, Part 3
Cast
Aprilia Fabel Pangestu
Bisma Karisma
Azarra Berlian Putri
Dicky Prasetya
Reza Anugrah
Ilham Fauzi
Morgan Oey
Genre
Baca aja dulu =))
***
Ini diaaaa! Part 4 udah hadir di blog gaje ini. Maaf deh kalau ada yg gaje atau apalah namanya, kan masih amatiran’-‘
Oke, selamat membaca. Semoga suka ya ;)
***
“April?” Aku tersadar dari lamunanku dan ‘agak’ terkejut saat cowok itu tau namaku. Tapi... yaiyalah dia tahu,- dia kan baca Name Tag aku. Pantes aja dia ga bener-bener tahu namaku.
“Panggil aril aja. Dan, gue gatau nama lo sih. Emang nama lo siapa?” Tanyaku basa-basi, ya daripada ke pada. Aku gamau aja lihat dia bosen sama gue dan pergi, terus aku ga bisa kenalan dan nyoba deket sama dia.
Cowok itu menggeleng lalu mengulurkan tangannya. Aku rasa dia ngajak kenalan. Dengan cepat dan tak mau membuatnya menunggu aku menjabat tangannya.
“Gue Morgan, anak SM*SH dan model di Jakarta. Gue ga nyangka, lo ga kenal sama gue. Emangnya lo ga kepo kenapa ada bangku kosong di kelas?” Tanya Morgan setelah melepaskan jabatan tangannya. Aku menyeka hidungku sendiri, sebenarnya itu modus aja buat nyium bau tangan Morgan yang ASELI wangi banget!
“Gue sih bukan tipe-tipe cewek kepo. Yaa gue ga mikir sampe situ juga. Gue juga gatau kalau kursi kosong di Dicky itu punya elo.” Jawabku sekenanya. Ya memang begitu. Aku kan bukan cewek kepo yang pengen tahu sana-sini terus ngumbar-ngumbar. Please deh, itu bukan aku banget!
“Gue tahu, lo pasti tipe cewek yang cuek dan ga perduli keadaan sekitar kan?” Morgan segera membungkuk dan meraih sebuah kertas dan meremasnya didepanku. “Kertas ini sampah dan harusnya segera dibuang. Lain kali sering-sering perhatiin keadaan sekitar.” Lanjutnya seraya membuangnya ke tempat sampah yang berada di dalam kelas yang tepat di pojok ruangan. Tapi hebatnya. Kertas itu bisa masuk dengan selamat (?) ke dalam tempat sampah.
Gue terkekeh kemudian menutup novelku dan menaruhnya di dalam tas. “Hehe, maaf ya, Gan. Lain kali gue pasti perhatiin sekitar deh. Janji.”
Morgan mengangguk mantap lalu kembali melirik Bisma yang terpejam sambil mendegarkan musik di dalam earphonenya. “Lo tahu, sebenernya lo juga harus kepo dengan sekitar lo. Yaa, asal ga di umbar sana-sini sih.”
Aku menyerngit dengan ucapan Morgan itu. Kenapa cowok ini malah berniat menggosip seperti itu? Ya ampun,-
“Kepo sama sekitar? Maksud lo sama kursi kosong yang gue dudukin ini?”
“Nah! Lo emang pinter banget ya! Gini, sebenarnya ya kursi yang lo dudukin itu...”
Morgan menggantungkan kata-katanya seraya terpejam. Sementara aku? Aku sangat memperhatikan Morgan. Yaps! Memperhatikan wajahnya. Cowok ini lucu juga, dia ternyata cowok yang asik. Aku bener-bener beruntung masuk Jakarta academy, apalagi langsung ke kelas unggulan. Bener-bener Lucky!
Perlahan kelopak mata Morgan terbuka, matanya menatap mataku dengan seksama. Dan disaat itu juga, tabuhan drum seperti sedang memukul-mukul hatiku. Aaah, aku bisa melayang kalau dia terus memandangiku dengan matanya itu.
“Tapi..”
Aku masih menunggu kelanjutan kata-katanya. Sesungguhnya aku ingin mendengar suaranya saja, eh, tidak juga. Aku juga penasaran dengan yang ingin Morgan katakan tentang bangku yang aku duduki ini.
“Mm.., engga deh. Belum saatnya lo tau, dan gue rasa lo ga harus tau tentang ini.” Morgan segera bergabung bersama Reza dan Ilham, ia sempat tersenyum sekilas padaku setelah mengucapkan itu. Sepertinya benar-benar rahasia, sampai tidak sembarang orang boleh tau.
Setelah Morgan pergi, Zarra masuk ke dalam kelas dan segera menaruh tasnya di atas meja. Dan di detik selanjutnya, langkahnya kembali terayun menuju kursiku. Aku rasa ia akan mendatangiku, daaan, benar saja. Ia benar-benar mendekatiku.
“Ekhem..”
“Udah nih pacarannya?” Ledekku iseng. Tapi lihat Zarra? Cewek itu malah memukul bahuku pelan seraya memanyunkan bibirnya.
“Ga ada yang pacar-pacaran Aril! Gue tuh cuma mau kesini doang, ngobrol sama lo..”
Aku tertawa melihat ekspresinya yang terlihat kesal dan sedikit salanh tingkah. Aku kembali berdehem dan mencoba menggoda Zarra kembali. Memang menyenangkan ya mengerjai orang seperti ini.
“Terus tadi ngapain kalau ga lagi pacaran. Eh, atau... pedekatean?”
Sebenarnya aku tidak berniat Kepo sih. Tapi karena Zarra menjawab ledekan ku yang mungkin sebuah rasa penasaran baginya, aku hanya mendengarkannya dengan baik.
FlashBack On
-Author POV’s-
Aril menatap tatapan Dicky yang mengisyaratkan sesuatu itu. Dengan cepat gadis itu menoleh pada Zarra sambil melepaskan tangannya pelan-pelan, setelahnya Aril kembali melihat Dicky yang sudah menurunkan tangan yang sebelumnya direntangkan untuk menghalangi Aril dan Zarra masuk ke kelas.
“Pagi, Dick. Bye the way, lo ada urusan sama Zarra ya?” Tanya Aril dengan cepat setelah sempat menoleh ke arah kanan, tepat ke arah Bisma dan Morgan yang sedang berjalan ke kelas.
Dicky langsung mengangguk lalu tersenyum menunjukkan deretan giginya yang terawat dengan baik. Aril pun langsung berdehem lalu segera berjalan cepat masuk ke dalam kelas.
Zarra yang akhirnya ditinggal berdua dengan Dicky di depan kelas menunjukkan senyum dibibirnya dan memulai percakapan dengan Dicky. “Jadi, ada apa?”
“Gue minta maaf ya ga angkat telfon lo kemarin malem. Soalnya...pas gue mau angkat, tiba-tiba mati hape gue. Sorry yaa..”
Zarra tertawa melihat ekspresi bersalah Dicky kemudian mendongakan wajahnya agar bisa melihat cowok itu, karena tinggi badan Zarra yang hanya seleher Dicky membuatnya harus mendongak. Lagipula tidak sopan berbicara tanpa menatap wajah lawan bicara.
“Gapapa kali, Ky. Lagian gue cuma mau minta tolong doang kok. Ga penting-penting banget. Lagian juga, udah ada..mm..Morgan, ya. Morgan yang mau nolongin gue.” Jawab Zarra dengan nada yang tak biasa, seperti nada menjaga perasaan. Mungkin.
“Morgan?”
“Wey, ada apa nih nama gue disebut-sebut? Lo berdua ga lagi gosipin gue kan?” Tiba-tiba saja Morgan hadir dan berdiri di samping Zarra. Sementara Bisma dengan cueknya langsung memasuki ruang kelas.
“Kepo banget sih lo?! Udah sana masuk! Ganggu tau lo!” Ucap Dicky dengan nada kesalnya seraya menunjuk-nunjuk kelas. Morgan menaikkan satu alisnya kemduian meninju bahu Dicky pelan.
“Iya-iya nih gue masuk. Dasar ribet lo!” Morgan segera melangkah setelah tersenyum manis pada Zarra. Sementara Dicky segera menginjak lantai di bawahnya agar Morgan cepat meninggalkan mereka berdua.
Bagaimana dengan Zarra? Gadis manis itu tertawa geli melihat pertengkaran Dicky dan Morgan yang terkesan sepele itu. Dicky menatap Zarra aneh.
“Kenapa? Ga ada yang lucu disini, Ra.” Tegas Dicky dengan wajah merahnya, wajah menahan kekesalan.
“Iiih, Dicky jelek deh kalau kayak gitu. Lagian kan gue udah maafin elo, ya kan?”  Ujar Zarra sambil mencubit pipi Dicky gemas di tengah-tengah ucapannya. Dicky menepisnya kesal, masalahnya pipi Dicky menjadi merah sekarang. Dan juga sakit.
“Lagian lo mau minta tolong apa? Terus kenapa bisa sama Morgan kalau tujuan utamanya gue?” Tanya Dicky dengan nada cepat. Sebenarnya ia tidak ingin terlihat cemburu, tapi dari nadanya tentu saja terlihat bahwa Dicky tidak suka Zarra dekat dengan Morgan.
“Gue cuma minta tolong anterin gue ke Ice Cream Cafe kok. Karna lo ga angkat, dan Morgan tau-tau sms gue. Yaudah gue mintain tolong dan dia mau. Eh gataunya si Morgan malah ngajak gue jalan-jalan.” Jawab Zarra polos. Sangat polos, bahkan sampai tak meyadari air wajah Dicky yang berubah.
“Jalan-jalan kemana?” Tanya Dicky datar. Entahlah, sepertinya Dicky benar-benar cemburu dengan Morgan. Tapi ia juga tidak mungkin menyalahkan Zarra, karena ini semua salah ponsel sialannya itu yang mendadak lowbat.
“Ga kemana-mana. Cuma jalan bentar sambil ngobrol, Morgan nakal banget. Masa dia ngotorin hidung gue pake ice cream. Udah gitu dia ngajak gue la....Ky, lo mau kemana?” Zarra memandangi Dicky yang pergi entah kemana. Yang pasti tidak berjalan ke dalam kelas.
“Dicky?!” Panggil Zarra dengan nada yang sengaja ditinggikan. Tapi Dicky tak menyahuti sama sekali. Zarra memegang dadanya yang cukup perih saat Dicky meninggalkan dan tak menyahutinya sama sekali. Itu cukup sakit.
FlashBack Off
“... Agak nyesek sih waktu dia ngacangin gue, Ril.” Zarra menyudahi ceritanya dan kembali menyentuh dadanya. Mengekspresikan betapa perih ulu hatinya saat itu.
Aril mengangguk sambil tersenyum penuh arti. Ia tahu bahwa Zarra menyukai Dicky. Yaa, terlihat jelas dari ekspresi wajah Zarra saat bercerita tadi. Cukup mengisyaratkan sebuah kesukaan.
“Mungkin dia kebelet makanya buru-buru dan ga izin sama lo dulu. Bisa aja kan?” Ujar aril mencoba menenangkan Zarra. Namun tak ada jawaban dari Zarra yang menunduk seraya memainkan ujung roknya yang hanya selutut itu.
“Mungkin sih, Ril. Semoga tuh anak engga marah deh gara-gara gue.”
‘Dan ga cemburu sama gue dan Morgan’ Lanjut Zarra dalam hati. Ia yakin alasan Dicky yang sebenarnya adalah karena cemburu.
***
“Gue duluan ya, Ril. Bye.” Zarra melambaikan tangannya seraya berlari mendekati supir mobilnya yang sudah menunggu sejak beberapa menit lalu itu.
Aril membalas lambaian tangan Zarra seraya tersenyum. Perlahan dengan mobil Zarra yang melesat pergi meninggalkan sekolah, senyuman Aril ikut memudar. Sekarang Aril harus menunggu taksi di depan gerbang Jakarta Academy untuk pulang.
Aril mendongak ke latas langit yang mulai mendung, dan segera berjalan ke pinggir sekolahnya. Padahal ada halte yang bisa ia pakai untuk menunggu taksi halte tapi tentu saja ia harus repot-repot untuk menyebrangi jalanan.
Aril terduduk di kursi yang berada di dekat gerbang yang sangat sepi seraya menunggu taksi yang nantinya akan membawanya pulang. Namun hingga beberapa menit kemudian tak ada satupun taksi yang berhenti. Semuanya penuh.
Gadis itu melirik jam tangan eksklusif bermotifkan menara eiffel itu. Pukul 14.55. Aril berdecak kesal seraya bangkit dan menoleh ke kanan dan kiri berharap ada taksi yang tidak berpenumpang.
Namun masih saja tak ada taksi yang lewat, padahal langit semakin gelap. Aril masih berdiri di tempatnya menunggu taksi.
Namun, tiba-tiba saja hujan turun membahasi bumi. Aril tentu saja gelagapan mencari tempat berteduh karena memang tak ada tempat berteduh. Kini sebagian bajunya sudah basah karena hujan yang mulai deras itu.
“Duuuh! Basah kan gue!” Gumam Aril kesal seraya menutupi kepalanya dengan ransel. Ia tau perlu risau karena ranselnya dilengkapi dengan jas hujan khusus ransel. Namun tetap saja, tubuhnya semakin basah karena ia benar-benar tak bisa berteduh sama sekali.
Namun tiba-tiba saja hujan sudah tak membasahi tubuhnya, padahal diluar sana hujan masih mengguyur dengan deras. Aril mendongak ia melihat sebuah payung melindugi dirinya.
Dengan gerakan slow motion gadis itu menoleh pada seseorang yang telah menjadi penyelamatnya hari itu. Dan tampak raut wajah Aril berubah 3600
“Elo...”
-To Be Continued-
“Lo niat banget nyiksa diri lo sendiri.”
-
“Gue tinggal disini sekarang.”
-
“Ibu Mba di kampung sakit, non.”