Ahirnya cerita kedua ini selesai juga ngetiknya, karena ini ada beberapa chapter pastinya sih bakalan TBC. Bukan TBC yang penyakit ya, TBC itu loh, To Be Continued, hihi :3
Oke. Selamat membaca ya, semoga suka :)
***
Kring.. Kring.. Kring.. Kriing..Suara alarm di pagi hari benar-benar mengusik ketenangan dan memekakkan telinga. Buktinya gadis yang satu ini sampai harus menutup kedua telinganya dengan bantal.
Kring..Kring.. Kring.. Kriing..
Gadis ini melempar bantalnya ke arah jam weker yang terletak di atas nakas samping ranjangnya hingga jam tersebut terbanting dan...pecah.
“Jam sialan! Pagi-pagi gini udah ribut aja!” Gumam gadis ini kesal seraya mengucek-ngucek matanya pelan.
Perlahan ia membuka matanya dan menatap kosong pandangan di depannya. Di detik selanjutnya, gadis ini menengok ke sebelah kirinya dan terkejut saat menemukan jam weker terbarunya pecah di bawah lantai.
“Oh My God! Baru juga beli kemarin..” Lirih Gadis ini menatap jam wekernya kasihan.
Namun kegiatan itu tak lama, sampai akhirnya gadis ini menoleh ke jam dinding. Seketika matanya membola sempurna. Dengan cepat ia menyibak selimut yang menutupi badannya, sambil bergumam.
“Mampus, Ril!”
***
Aril menuruni tangga dengan
tergesa-gesa. Pasalnya hari ini adalah hari pertamanya sekolah, jadi tak
mungkin jika kesan pertamanya adalah terlambat. Aril mendekati meja makan lalu meneguk segelas susu hangat. Tak dihiraukan tatapan bosan Vero serta Gilang-Mama dan Papa Aril.
“Telat di hari pertama sekolah, lagi?” Tanya Gilang di sela-sela acara sarapannya. Sang papa tak heran jika melihat aril yang selalu tergesa-gesa seperti ini.
Aril menjepit rambutnya disamping lalu pamit dengan orang tuanya. “Ga telat-telat banget kok, Pa. Yaudah, Aril berangkat Pa, Ma.”
Aril segera berlari ke arah garasi karena supir pribadinya telah menunggu sedari tadi. Namun sebelumnya gadis itu sempat meneriakkan sebuah permintaan.
“Oiya, jangan lupa beliin aku jam weker baru lagi yaa!” Vero dan Gilang saling tatap lalu menepuk jidat mereka bebarengan.
***
-Aril POV’s-Jakarta, 06.45.
Aku berjalan di koridor dengan tergesa. Aku wajib bersyukur karena bel baru saja berbunyi dan pak satpam masih mengizinkan aku masuk ke dalam sekolah.
Sekolah baruku, Jakarta Academy adalah sekolah elit di Indonesia. Dulunya aku bersekolah di salah satu SMK di Bandung. Namun karena ucapan kepala sekolah yang menyatakan bahwa aku adalah siswi dengan otak yang sangat jenius *meskipun sering ngaret*, aku pun dikirimkan ke sekolah ini. Sekolah yang sesungguhnya memang aku idam-idamkan sejak aku mengetahui bahwa cowok-cowok disini sangatlah tampan dari akun twitter pribadi ku.
BRUK! Sial! Disaat-saat tergesa seperti ini apa harus aku terjatuh?! Sungguh sangat membuang-buang waktu untuk menerima maaf dari cowok yang menabrakku ini.
Aku mencoba bangkit sendiri tanpa bantuan cowok yang sama sekali tak memberikan pertolongannya. Dengan sedikit kesal aku mengadahkan wajahku dan melihat siapa yang ebrani-beraninya men..
Oh My Gosh! Cowok ini..cowok ini ganteng banget. Pada pandangan pertama saja membuat aku cukup terpesona dengan..
“Makanya kalau jalan pake mata! Bodoh!”
Aku tersadar dari lamunanku dan menatap cowok didepanku ini sadis. Apa dia bilang? Bodoh?! Crazy! Aku ini adalah cewek yang jenius! Dan manis tentu saja. Apa matanya katarak berani-beraninya memanggilku dengan sebutan bodoh?!
Aku terpaksa menyimpan umpatanku yang hampir saja keluar saat cowok itu berlalu dari hadapanku begitu saja. Argght! Rasanya tuh ya, aku-punya-bom-pengen-dia-ke-ledakin!
“Hey?!” Aku tersentak saat seseorang menyapaku. Dengan cepat aku menolehkan kepalaku ke arah...cowok? Ya dia seorang cowok. Tunggu dulu, dia cowok yang sangat manis. Ternyata benar, siswa disini memang tampan-tampan.
“I..iya?” Jawabku gugup. Tentu saja, melihat senyumnya yang sangat mempesona itu membuat aku ‘agak’ gugup juga berdiri didepannya.
“Gue liat lo lagi kebingungan. Aaa, pasti lo anak baru itu kan? ” Tanyanya tanpa menghilangkan senyum manisnya itu sama sekali. Aku tersenyum keki mendengar kata-katanya. Bukan dia yang ternyata mengetahui bahwa aku ini anak baru, tetapi dengan gaya bicaranya yang ‘Lo-Gue’. Oh Good! Jadi mulai sekarang aku harus membiasakan diri berbincang dengan ‘Lo-Gue’ bukan ‘Aku-Kamu’ saat seperti di Bandung dulu?
“Hey..” Aku kembali terkejut saat dia mengibaskan tangannya di depan wajahku. Sambil terkekeh aku merapikan sedikit bagian rambutku ini.
“Iya, ak-gue..gue anak baru. Hehe, kok lo bisa tahu sih?” Tanyaku garing, Tentu saja dia tahu, pasti dia baru melihat anak semanis aku di sekolah ini,-
Cowok itu mengangguk kemudian mengajak gue berjalan. Darimana gue tahu? Buktinya dia berjalan sambi menengok ke belakang. Itu artinya dia ngajak gue jalan di koridor ini bukan?
“Mrs. Airin tadi nyariin elo, anak baru. Oiya, Mrs. Airin itu wali kelas kita.”
Aku cemberut saat cowok ini memanggilku anak baru. Padahal aku punya nama. Aprilia Fabel Pangestu. Ya panggil saja Aril. Tak perlu bertanya kenapa nama panggilanku Aril. Kalian pasti tahu jawabannya. Bukan karena orang tuaku yang sangat menyukai Aril Peterpan yang sekarang berganti menjadi Aril Noah pastinya.
Tapi tunggu dulu! Aku mencoba mencerna kata-kata cowok ini barusan. ‘Oiya, Mrs. Airin itu wali kelas kita.’ Wali kelas kita?
“Wali kelas..kita?” Tanyaku ragu. Aku mencoba mencari name tag cowok ini. Tapi jelas saja tak akan terlihat! Blazer yang ia pakai menutupi kemeja sekolahnya. Hh, kenapa harus dikancing segala sih? Rapih sekali cowok ini-_-
Cowok ini menoleh lalu tersenyum. “Ini dia ruang Mrs. Airin. Yaudah deh, gue duluan ya. Mau masuk kelas. Lo masuk aja, Mrs. Airin udah nyariin lo dari tadi. Bye.” Bye adalah kata terakhirnya sebelum dia berlalu pergi ke arah barat. Aku mengangguk walau dia pasti ga liat.
Aku berdoa dalam hati, semoga aku dan cowok tadi kembali bertemu. Berkenalan, dan kalau bisa....dekat dengannya.
***
-Author POV’s-Jakarta Academy. 07.15.
Kelas unggulana adalah kelas paling berkualitas. Kelas yang diisi oleh anak-anak jenius dengan kepribadian yang baik tentunya. Tapi...
Kelas yang berisikan sebuah genk? Kelas yang dalam keadaan riuh seperti pasar saat tidak ada guru? Itu kah kelas unggulan? Dan jawabannya adalah..... IYA! Eh.. Mungkin.
“Bro, kemarin gue baru ditembak lagi nih.” Curhat Ilham, cowok berperawakan gagah dan tampan itu dengan nada bosan. Ilham memang disukai banyak wanita. Senyuman yang khasnya mampu membuat para cewek klepek-klepek (?)
“Ga usah pamer! Lo nyindir gue gara-gara gue jones, hah?!” Ujar Reza kesal seraya memasang aksen horornya,- cowok dengan suara nge-bass ini kembali duduk di kursinya saat Rafael menepuk pundak Reza. Ya. Sebagai ‘yang paling tua’, Rafael memang harus menjadi contoh bagi para teman-temannya itu. Ya setidaknya, sedikit menjadi contoh.
“Cih! Ya sorry kalau lo kesindir, Za. Gue sih bilang apa adanya.” Jawab Ilham santai tak memperdulikan Reza yang mulai bangkit lagi dari kursinya.
“Udah! Za! Ham! Ambil pisau sana! Ambil pisau di dapur sekolah! Hayu lanjutin berantemnya!” Dicky kali ini menjadi kompor dengan tampang polosnya. Serentak semua menatap Dicky horor. Sementara Dicky yang sadar mendapat tatapan sinis dari teman se-genknya itu hanya cengengesan tak jelas.
“Kalian tuh sepupuan. Akur kek lo bedua, berantem mulu gue liat.” Ucap Bisma dengan nada dinginnya, seperti biasa. Sikapnya yang cuek, dingin, dan terlihat jarang sekali tersenyum itu ternyata mampu menarik perhatian kaum hawa. Mungkin karena ketampanan yang ia punya atau karena bakatnya dalam menyanyi, bermain gitar dan menari? Entahlah.
“Mrs. Airin! Mrs. Airin!” Heboh Rangga sambil berdiri di depan kelas setelah sebelumnya berdiri di dekat pintu kelas. Dan didetik selanjutnya kelas menjadi gaduh karena muridnya yang grasak-grusuk (?) untuk kembali ke tempat duduk masing-masing.
Benar saja, sesaat setelah semua kembali ke tempat duduknya, Mrs. Airin yang terkenal dengan julukan “The Silent Killer” itu masuk bersama seorang cewek. Ya. Cewek itu Aril. Dengan ‘sengaja’ menampakkan wajah manisnya, Aril berharap kesan pertamanya di Jakarta Academy ini sangat baik.
Aril tak memperhatikan siswa-siswi di kelas unggulan ini, karena pandangannya sudah jatuh kepada cowok manis yang membantunya menemukan ruang Mrs. Airin tadi.
“Selamat pagi. Baiklah, gadis disamping saya adalah teman baru kalian. Silahkan perkenalkan diri.” Aril mengangguk dan siap untuk membuka mulutnya. “Singkat saja.” Lanjut Mrs. Airin mengingatkan membuat Aril berusaha tersenyum paksa pada guru menyebalkan ini.
“Selamat pagi. Saya Aprilia Fabel Pangestu. Panggil saya Aril. Terima kasih.” Ucap Aril singkat, seperti apa yang guru menyebalkannya itu minta.
“Baik, silahkan duduk di dekat...” Mrs. Airin mengantungkan ucapannya seraya mencari kursi kosong mana yang pantas untuk Aril duduki. Di kelas unggulan ini terdapat dua kursi kosong.
“Dicky. Silahkan kamu duduk di kursi kosong dekat Dicky.” Perintah Mrs. Airin. Seseorang yang dipanggil Dicky mengangkat tangannya menandakkan bahwa ia Dicky.
Aril tersenyum senang karena yang dimaksud Dicky adalah cowok manis yang sangat baik padanya. Dengan langkah siap, Aril berjalan ke arah Dicky yang duduk di kursi urutan ke-3 dari kiri dan urutan ke-2 dari depan. Aril duduk di sebelahnya yaitu di kursi ke-4.
“Baik. Jika kalian ingin berkenalan dengan anak baru itu, nanti jika pelajaran saya berakhir. Sekarang, perhatikan papan tulis karena saya akan menerangkan pelajaran sejarah lewat Infocus.” Mrs. Airin berjalan ke mejanya lalu menyalakan laptop serta alat Infocus yang ia maksud.
“Hai, Aril. Nama lo keren. Kaya penyanyi, Aril Noah.” Canda Dicky pelan pada Aril yang baru saja duduk. Aril tersenyum kemudian membalas candaan Dicky. “Nama lo juga bagus, Dick. Kayak pelawak, Dicky Candra.”
Dicky cemberut mendengar candaan Aril sementara Aril malah terkekeh karena wajah Dicky sangat manis dengan cemberutannya itu.
“Oiya, lo..bla..bla..bla..” Dicky dengan kekepoannya (?) itu bertanya pada Aril ini itu. Membuat Aril tidak emmperhatikan apa yang Mrs. Airin jelaskan di depan sana.
Mrs. Airin yang menyadari terdapat kegaduhan di kelasnya itu segera menatap Dicky sinis lalu menggebrak mejanya keras. “DICKY!”
Dicky yang baru saja ingin bertanya (lagi), tersentak lalu menghadap Mrs. Airin yang ternyata sudah di depannya. Dengan kekehan kecilnya, Dicky meminta maaf pada Mrs. Airin dengan sedikit menggoda.
“Hehe, sorry Mrs. Jangan marah-marah ya, nanti cantiknya ilang loh..” Dicky, Dicky.. apa ia kira Mrs. Airin akan tersipu mendengarnya? Lihat saja apakah Mrs. Airin akan tersenyum dengan menampakkan pipi kepiting rebusnya atau malah wajah yang memerah seperti orang yang memakan berton-ton cabai rawit.
“Kali ini kamu saya maafkan. Tapi lain kali? Lihat saja nanti!” Desis Mrs. Airin yang membuat seluruh murid terpaksa menahan tawanya melihat ekspresi ketakutan Dicky.
Mrs. Airin pun menoleh pada Aril yang menunduk tak enak. Andai saja ia tak menjawab pertanyaan Dicky, pasti Dicky tak akan terkena marah guru menyebalkan itu. Aah, sebenarnya itu memang salah Dicky, kenapa Aril harus merasa bersalah?
“Aril. Saya kira kamu tidak cocok duduk dekat Dicky. Dan saya minta kamu duduk di belakang sana.” Ucap Mrs. Airin dingin. Aril mengangkat wajahnya mencari tahu dimana kursi kosong itu berada.
Aril tak mungkin bertanya, keculi ia mau mendapat semprotan (?) dari guru itu. Guru cantik yang siap membunuh muridnya kapan saja. Dengan otak jeniusnya ia berfikir dimana kursi kosong yang paling belakang *apa ini-_-
Ternyata di belakangnya, di pojok paling belakang. Aril membolakan matanya melihat kursi itu benar-benar paling pojok. Dengan langkah terseok-seok dan perasaan tak terima Aril berjalan ke kursi itu. Ia lihat cowok yang duduk disebelahnya itu menunduk, ia terlihat seperti tengah menulis sesuatu. Namun kegiatannya membuat Aril tidak bisa melihat wajahnya. Namun dari gaya rambutnya itu ia yakin, cowok itu adalah cowok tampan.
Ia semakin dekat dengan kursi tersebut dan itu membuat cowok itu mendongakan wajahnya.
DEG!
‘Makanya kalau jalan pake mata! Bodoh!’
-Bersambung-
"Heh!
Bantuin gue kek! Dasar cowok gila!"
-
"Aril,
sayang. Tapi Mama sama Papa cuman pengen yang terbaik buat kamu."
"Tapi,
harus banget dengan kayak gini, Mah?"
-
"Kenapa
lo jadi ngatur gue? Gue bukan babu!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar