Tittle
Crazy Boy In My Life
Crazy Boy In My Life
Part
Part 5
Part 5
Cast
Aprilia Fabel Pangestu
Bisma Karisma
Azarra Berlian Putri
Reza Anugrah
Ilham Fauzi
Rafael Tan
Aprilia Fabel Pangestu
Bisma Karisma
Azarra Berlian Putri
Reza Anugrah
Ilham Fauzi
Rafael Tan
Genre
Baca aja dulu =))
Baca aja dulu =))
***
Holaaaa! Part 5 come in hereeeee! Sebenernya sih
iseng aja buat ginian. Sekedar nyalurin hobby ngetik-ngetik cerita kek gini.
Jadi, maaf ya buat gaje, typo,atau ga menarik.
Oke, selamat membaca. Semoga suka ya ;)
Oke, selamat membaca. Semoga suka ya ;)
***
Aril mendongak ke latas langit yang mulai mendung,
dan segera berjalan ke pinggir sekolahnya. Padahal ada halte yang bisa ia pakai
untuk menunggu taksi halte tapi tentu saja ia harus repot-repot untuk
menyebrangi jalanan.
Aril terduduk di kursi yang berada di dekat
gerbang yang sangat sepi seraya menunggu taksi yang nantinya akan membawanya
pulang. Namun hingga beberapa menit kemudian tak ada satupun taksi yang
berhenti. Semuanya penuh.
Gadis itu melirik jam tangan eksklusif bermotifkan
menara eiffel itu. Pukul 14.55. Aril berdecak kesal seraya bangkit dan menoleh
ke kanan dan kiri berharap ada taksi yang tidak berpenumpang.
Namun masih saja tak ada taksi yang lewat, padahal
langit semakin gelap. Aril masih berdiri di tempatnya menunggu taksi.
Namun, tiba-tiba saja hujan turun membahasi bumi.
Aril tentu saja gelagapan mencari tempat berteduh karena memang tak ada tempat
berteduh. Kini sebagian bajunya sudah basah karena hujan yang mulai deras itu.
“Duuuh! Basah kan gue!” Gumam Aril kesal seraya
menutupi kepalanya dengan ransel. Ia tau perlu risau karena ranselnya
dilengkapi dengan jas hujan khusus ransel. Namun tetap saja, tubuhnya semakin
basah karena ia benar-benar tak bisa berteduh sama sekali.
Namun tiba-tiba saja hujan sudah tak membasahi
tubuhnya, padahal diluar sana hujan masih mengguyur dengan deras. Aril
mendongak ia melihat sebuah payung melindugi dirinya.
Dengan gerakan slow
motion gadis itu menoleh pada seseorang yang telah menjadi penyelamatnya
hari itu. Dan tampak raut wajah Aril berubah 3600
“Elo...”
“Ngapain lo mayungin gue?!” Sentak Aril ketus.
Bagaimana tidak? Seseorang yang memayunginya adalah robot gila itu! Eh,
maksudnya si Bisma itu.
“Kenapa? Lo mau basah disini dan sakit?” Bukannya
menjawab pertanyaan Aril, Bisma malah bertanya pertanyaan yang membuat Aril
naik pitam.
Seharusnya cowok itu tau jawabannya, dan tak perlu
bertanya dengan pertanyaan bodoh seperti itu. Apalagi nada bertanyanya itu
sangat datar. Apa-apain sih cowok itu?!
“Gue ga butuh bantuan lo!” Desis Aril. Matanya
menatap sinis Bisma yang juga menatapnya dengan datar. Aril mendengus dengan
keras lalu berjalan menghindari payung Bisma.
Kini tubuhnya kembali basah karena hujan. Padahal
kepalanya sudah mulai pusing karena diguyur hujan sampai beberapa menit
sebelumnya.
“Lo niat banget nyiksa diri lo sendiri.” Bisma
berteriak agar bisa terdengar ke telinga Aril. Hujan membuat suaranya ikut
lebur bersama jatuhnya jutaan rintik air ke bumi.
Aril yang mendengarnya menoleh sekilas lalu
kembali terdiam. Hujan benar-benar membuat kepala Aril sedikit pening. Di
tambah lagi tubuhnya yang semakin melemas. Hari ini ia hanya makan pagi tadi,
dan saat istirahat ia sama sekali tak makan apapun.
Alasannya? Karena sang orangtua hanya memberikan
ATM Cards, sementara untuk uang jajan, Vero dan Gilang tidak memberikannya sama
sekali. Dan betapa bodohnya Aril yang lupa meminta hal penting itu.
“Yakin lo gamau gue payungin? Gue mau pergi nih.”
Aril menoleh kepada Bisma. Cowok itu masih berdiri
di tempatnya berdiri sebelumnya, namun Bisma sudah mengambil ancang-ancang
untuk berjalan ke motornya yang terpakir dengan jarak kurang lebih 5 meter di
sebelahnya.
Aril berfikir sebelum Bisma benar-benar
meninggalkannya. Setidaknya ia bisa meminjam Bisma dan payungnya hingga hujan
berhenti bukan? Tapi.... aah! Aril benar-benar gengsi jika harus meminta tolong
pada robot itu.
Bisma masih memandangi gadis yang berdiri tak jauh
darinya. Gadis yang kehujanan dan enggan meminta pertolongan. Bisma menggeleng
pelan seraya berjalan ke arah motornya.
“Oke. Gue butuh payung lo. Elonya juga.” Ucap Aril
akhirnya setelah berperang dengan batinnya sendiri. Melawan gengsi itu
benar-benar sulit. Dan Aril yakin, di dalam hati Bisma pasti cowok itu sedang
tersenyum puas dan menertawakan Aril sekencang-kencangnya.
Bisma memiringkan senyumnya kemudian berjalan
mendekati Aril yang sedang kedinginan. Setelah sampai, tangan Bisma tergerak
untuk memayungi gadis itu agar tidak kehujanan lagi.
Aril menoleh saat Bisma sudah berada disampingnya.
Aril menatap wajah Bisma yang juga menatap ke arahnya dengan wajah flatnya itu.
Di detik selanjutnya Aril menggeser sedikit tubuhnya agar tidak terlalu dekat
dengan Bisma. Bagaimana pun juga, Aril itu haters Bisma nomer 1. Apa kata dunia
kalau tau mereka berduaan di bawah hujan?
Dan kini jarak antara mereka berdua sudah tak
terlalu dekat. Bisma yang menyadari itu dengan sengaja merengkuh pinggang Aril
membuat gadis itu sedikit tersentak dan secepat mungkin menepis tangan Bisma
yang melingkar di pinggangnya.
“Ga usah nyuri kesempatan dalam kesempitan deh lo!
Dasar gila!” Sentak Aril sambil menunjuk-nunjuk wajah tampan Bisma dengan jari
telunjuknya.
Bisma menampakkan evil smilenya. Memperlihatkan
bahwa apa yang dilakukannya adalah kesengajaan. Aril menyipitkan matanya
berusaha memberi tatapan sinis kepada Bisma.
“Anggep aja rasa terima kasih lo buat gue.” Gumam
Bisma. Gumaman yang masih terdengar jelas di telinga Aril. Sontak Aril menoleh
dan bersiap untuk meninju bahu Bisma.
Tangan gadis itu mengepal dan terangkat ke atas. Dan
di detik selanjutnya, tangan Aril mulai tergerak untuk menyentuh bahu Bisma.
Namun sangat tidak sesuai rencana. Tubuhnya tiba-tiba saja melemas.
Aril terjatuh di dada Bisma sehingga payung yang
Bisma pegang terlepas begitu saja. Sekarang baju seragamnya ikut basah terkena
air hujan. Namun sepertinya Bisma tidak perduli. Wajahnya yang biasanya selalu
datar kini menunjukkan raut kecemasan. Bisma membantu Aril untuk berdiri lagi.
“Hei! Lo kenapa? Aril?!” Panggil Bisma seraya
merengkuh pinggang Aril agar tidak jatuh kembali. Tangan kanan Aril di selipkan
dibelakang lehernya.
Aril menggeleng lalu berusaha melepas rengkuhan
Bisma. Namun kekuatannya yang melemah membuatnya begitu pasrah. Bisma menoleh
ke jalan raya dan menyetop taksi yang sedang berjalan.
Bisma memasukkan Aril ke dalam taksi yang sangat
kebetulan memang sedang kosong. Cowok itu sedikit berlari ke arah motornya.
Mencabut kunci motor yang masih terpasang dan segera berlari masuk ke dalam
taksi.
***
“Heh! Lo pasti mau nemuin Archi ya?”
Ilham menghentikan langkahnya mendengar pertanyaan
Reza sore ini. Ia membalikkan badannya, dan mendapati sang sepupu yang sudah
berdiri di hadapannya.
“Apa sih lo? Kepo amat, Za.” Jawab Ilham malas lalu
kembali membalikkan badannya menuju pintu utama. Reza mendengus kesal lalu
mengikuti Ilham dari belakang.
“Sebenernya lo ada apa sih sama Archi?” Tanya Reza
lagi saat keduanya sudah sampai di teras rumah bergaya minimalis itu. Kali ini
Ilham mengepalkan telapak tangannya lalu berbalik dengan kesal menghadap Reza.
“Udah kek lo jangan neror gue mulu! Gue cuma mau
ketemuan. Bukan ngajak tu cewek dinner!” Jawab Ilham. Tangannya masih mengepal
berusaha menahan amarahnya. Pasalnya, Dari di sekolah tadi hingga saat ini Reza
masih saja menerornya dengan berbagai pertanyaan yang menyangkut soal Archi.
Reza menggelengkan kepalanya kemudian mengangkat
tangan kananya tingi-tinggi. Menunjukkan sebuah benda yang mampu membuat mata
Ilham membola sempurna.
“Lo ga akan bisa pergi tanpa ini, Ilham ku
sayang.” Reza mencoba menjauhkan kunci motor yang digenggamnya dari Ilham saat
sepupunya itu berusaha meraih kunci motornya sendiri.
“Siniin kunci motor gue, Za!” Ilham masih berusaha
memutari tubuh Reza agar bisa mendapatkan kunci motor kesayangannya. Tapi
lihatlah Reza. Pria itu malah tertawa melihat kebingungan Ilham. Sungguh tidak
berperikemanusiaan -_-
Reza melongo menatap langit yang mulai berawan.
Pria itu tersenyum lalu berdehem dan memberikan kunci motor Ilham secara
cuma-cuma.
Ilham menerimanya dengan perasaan aneh. Ada apa
dengan sepupunya itu?
“Pergi deh lo sana. Mau tau gue, nyampe mana
perjalanan lo buat ke cafe-nya Archi.” Ujar Reza seolah dapat membaca
pertanyaan yang tercetak jelas di raut wajah Ilham. Dan kali ini Ilham
mengkerutkan keningnya bingung.
“Aneh lo, Za!” Ilham mengeraskan suaranya melihat
Reza tersenyum-senyum saat masuk ke dalam rumah yang hanya mereka tempati
berdua.
Ilham menggeleng melihat sikap aneh sepupunya itu.
Tadi malam bukankah Reza melarangnya bertemu dengan Archi? Kenapa sekarang pria
nge-bass itu mengizinkannya begitu saja?
Ilham mengusap wajahnya lalu mulai melangkah ke
luar rumah. Namun baru dua langkah, hujan deras turun dan membuat jaket Ilham
sedikit basah. Ilham bergegas kembali ke teras rumah seraya mengusap jaketnya
yang basah.
“Sial! Rezaaaa!”
***
“Jadi..kita mau kemana mas?”
Bisma menggaruk tengkuknya yang tak gatal seraya
berdehem. Sudah tiga kali sang supir bertanya dan ia masih saja tak menjawab.
Bukan karena ia tak bisa berbicara, tetapi karena pria itu memang tidak tahu
akan kemana.
“Sebentar ya pak.” Ucap Bisma pelan lalu menoleh
dan mendekatkan diri ke gadis yang sedang pingsan beberapa detik lalu.
Bisma menepuk-nepuk pelan pipi Aril yang cukup
panas. Ternyata tepukan itu membuat Aril sedikit menggeliat, sepertinya gadis
itu sedang mengigau.
“Ril, rumah lo itu...dimana sih?” Tanya Bisma
pelan. Seharusnya Bisma tau bukan bahwa Aril sedang tak sadarkan diri? Kenapa
pria itu malah bertanya? Tapi inilah keajaiban. Aril menjawabnya dengan
gumaman. Masih terdengar meski hujan yang mengguyur kota Jakarta cukup deras.
***
Jakarta, 20.55
“Ku mohon berhentilah melihat ke depan. Lihatlah
aku sekali saja. Aku yang selalu disampingmu, bahkan saat kau tak
menyadarinya.”
Rafael tersenyum puas melihat tulisannya di sebuah
kertas berwarna merah muda dengan gambar lambang cinta di bawahnya. Pria
berwajah chinesse itu melipat kertas tersebut lalu memasukkannya ke dalam
amplop yang ia beli di Kopsis siang tadi.
“Nice, Rafael Tan. Semoga aja gadis itu bisa
mengetahui siapa pengirim surat ini.” Gumam Rafael pada dirinya sendiri. Ia
kembali tersenyum menatap amplop berisi surat cinta yang akan ia kirim pada
sang pujaan hati besok.
Pria itu menyelipkan amplop tersebut ke dalam
ranselnya, kemudian berjalan dengan semangat ke ranjang. Ia yakin kali ini
mimpinya akan sangat indah, seindah apa yang ia harapkan esok hari.
***
-Aril POV’s-
Aku membuka mataku yang terasa sangat berat. Ku
kerjapkan beberapa kali sampai akhirnya aku bisa melihat dimana aku sekarang.
Kamar. Ya, aku begitu yakin ini adalah kamarku.
Dengan sangat lemas, aku bangun dan mencoba duduk di tepi ranjang. Sesaat
kemudian aku tersadar dan langsung menunduk.
Kini aku mengenakan baju tidur panjang dengan
gambar boneka teddy bear berwarna pink. Seingatku, aku masih memakai baju
seragam sekolah dan...
DEG!
Aku mulai beranjak dan sedikit berlari untuk
membuka pintu kamarku. Dan aku tak menemukan siapapun di luar kamarku. Tentu
saja! Memoriku terputar dimana orangtuaku pergi meninggalkanku di depan gerbang
sekolah.
Aku menghela nafas panjang, kemudian berjalan
menuruni tangga untuk ke arah dapur. Membuka pintu kulkas dan meraih botol air
dingin dan menuangkannya ke dalam gelas yang berada di meja makan.
Aku benar-benar merasa haus ketika mengingat
Bisma yang mendorongku masuk ke dalam
taksi. Dan untuk selanjutnya, aku tak bisa mengingat apapun. Sepertinya aku
terkena amnesia ringan atau apalah itu namanya,-
“Non Aril?” Aku menoleh pada seseorang yang
memanggilku tadi. Ku letakkan gelas tadi di atas meja dan mendekati wanita
berusia 20 ke atas itu menatapku cemas.
“Mba mau kemana?” Tanyaku bingung. Bagaimana
tidak? Aku lihat tas-tas mengelilinginya, memangnya Mba Yayu itu mau kemana?
Pindahan? Memangnya ia mempunyai rumah di Jakarta?
“Ibu Mba di kampung sakit, non.” Akunya dengan
raut wajah cemas. Aku memasang wajah prihatin dan mengangguk mengerti seraya
mengelus bahu Mba Yayu lembut. Dia itu pembantu rumah tangga yang sudah ku
anggap sebagai saudara sendiri. Selain karena umurnya yang tak terlalu jauh
denganku, juga karena kegaulannya yang tidak bisa diremehkan.
“Yaudah, Mba jagain ibunya Mba ya. Sampai sembuh,
Mba. Aku izinin kok.” Ucapku tulus. Mba Yayu mengangguk dengan menahan
isakannya. Aku mengerti pasti ia sangat khawatir dengan ibunya yang berada di
Bumi Ayu.
“Makasih, non. Mba berangkat malam ini.” Ujarnya
seraya mengangkat kedua tas besarnya itu.
“Iya. Aku bisa kok sendirian di sini.”
Mba Yayu mengerutkan keningnya lalu menepuk
jidatnya pelan. Aku menaikkan satu alisku. Memangnya ada yang aneh dengan
perkataanku tadi?
“Non, itu cowok yang bakal nginep disini sudah
dateng. Dia sekarang tidur di kamar sebelah kamarnya, non Aril.” Jawabnya
sesegukkan. Efek menangis, suaranya jadi sedikit parau.
Aku membolakan mataku mendengar perkataannya.
Kalian tau apa? Cowok! Jadi yang akan menemaniku sampai Papa dan Mama pulang
itu seorang cowok? Gila!
Tanpa permisi aku berlari dan menaiki anak tangga
dengan tergesa-gesa. Ku lihat pintu kamar yang disebelah kamarku itu tertutup
rapat-rapat. Perasaanku sungguh tidak enak.
Tanganku mengepal dan mulai terangkat untuk
mengetuk pintu yang terbuat dari kayu tersebut. Namun semua itu aku batalkan
karena perasaan gugup menyerangku secara mendadak.
Aku mendesah pelan kemudian memberanikan diri
mengetuk kamar pria itu. Ternyata tanpa menunggu lama, aku mendengar suara
langkah kaki yang mendekat dan suara kunci yang terputar.
Dan di detik selanjutnya, aku terpana saat pria
itu membuka kamarnya dan menampakkan sosok yang cukup ku kenali. Dengan segala
keterkagetanku ini, aku bertanya.
“Kok..kok lo ada disini?”
-To Be Continued-
“Gue tinggal disini
sekarang.”
-
“Bangun woy! (Tok! Tok!
Tok!)”
-
“Terus lo pikir kita telat
itu gara-gara siapa?”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar